Editor
SAMARKAND, KOMPAS.com – Jemaah umrah Indonesia berpeluang memperoleh pilihan perjalanan tambahan untuk menelusuri jejak para ulama besar di Uzbekistan.
Peluang tersebut dibahas Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf bersama Gubernur Samarkand Adiz Boboev di Samarkand, Uzbekistan, Sabtu (5/9/2026).
Salah satu hal yang dijajaki adalah pembukaan penerbangan langsung antara Indonesia dan Uzbekistan. Konektivitas tersebut dinilai dapat meningkatkan mobilitas wisatawan sekaligus mendukung pengembangan wisata religi kedua negara.
Baca juga: Garuda Indonesia Terbangkan 382 Jamaah Umrah dari Aceh ke Kertajati
Samarkand dan sejumlah wilayah lain di Uzbekistan dikenal memiliki jejak peradaban Islam serta keterkaitan dengan ulama seperti Imam Bukhari, Imam Al-Maturidi, Bahauddin Naqsyaband, dan Imam At-Tirmidzi.
Menteri Haji dan Umrah yang akrab disapa Gus Irfan mengatakan, hubungan masyarakat Indonesia dan Uzbekistan telah terjalin jauh sebelum kedua negara merdeka.
“Kita ingin menguatkan kembali hubungan yang sudah terbentuk sejak lama,” kata Gus Irfan.
Menurut Gus Irfan, kerja sama Indonesia dan Uzbekistan dapat dikembangkan melalui wisata religi.
Selama ini, sebagian jemaah umrah Indonesia menambahkan kunjungan ke negara atau kota lain dalam paket perjalanannya, seperti Turkiye, Dubai di Uni Emirat Arab, dan sejumlah destinasi di kawasan Timur Tengah.
Uzbekistan dinilai berpotensi menjadi salah satu pilihan perjalanan tambahan, terutama bagi jemaah yang ingin mengunjungi situs-situs bersejarah dalam perkembangan ilmu dan peradaban Islam.
Namun, Gus Irfan menegaskan bahwa perjalanan umrah dari Indonesia diselenggarakan oleh pihak swasta melalui Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU).
Baca juga: Tren Umrah Mandiri, Menhaj ke Travel: Tingkatkan Layanan, Bukan Perang Harga
Pemerintah, melalui Kementerian Haji dan Umrah, berperan mengatur dan mengawasi tata kelola penyelenggaraan umrah.
“Karena umrah diselenggarakan oleh PPIU, pembicaraan ini perlu dilanjutkan dengan para pelaku usaha perjalanan umrah,” ujar Gus Irfan.
Artinya, kemungkinan memasukkan Uzbekistan ke dalam paket tambahan perjalanan umrah masih perlu dibahas bersama PPIU, maskapai, dan pihak-pihak terkait.
Gubernur Samarkand Adiz Boboev menyambut baik rencana penguatan hubungan kedua negara.
Ia mengatakan, Uzbekistan memiliki sejumlah situs yang penting dalam sejarah keilmuan Islam. Di antaranya adalah tempat kelahiran ataupun jejak perjalanan Imam Bukhari, Imam Al-Maturidi, Bahauddin Naqsyaband, dan Imam At-Tirmidzi.
Jejak para ulama tersebut dapat menjadi daya tarik bagi umat Islam Indonesia yang ingin mengenal sejarah perkembangan hadis, akidah, dan tasawuf secara lebih dekat.
Adiz berharap semakin banyak wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Uzbekistan.
Menurut dia, penerbangan langsung menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan pertukaran wisatawan kedua negara.
Konektivitas yang lebih mudah juga dapat membuka peluang perjalanan yang tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi sekaligus menjadi sarana mengenal sejarah dan warisan keilmuan Islam.
Dalam pertemuan itu, Gus Irfan turut mengundang masyarakat Uzbekistan untuk berkunjung ke Indonesia.
Ia mengatakan, pilihan destinasi wisata Indonesia tidak terbatas pada Bali. Berbagai daerah lain juga memiliki kekayaan alam, budaya, dan tradisi yang dapat menarik wisatawan Uzbekistan.
“Indonesia bukan hanya Bali. Ada Lombok, Belitung, Wakatobi, dan banyak destinasi lain yang tidak kalah menarik,” kata Gus Irfan.
Promosi dua arah tersebut diharapkan dapat menciptakan hubungan yang lebih seimbang.
Wisatawan Indonesia dapat mengenal jejak peradaban Islam di Uzbekistan, sedangkan wisatawan Uzbekistan memperoleh pilihan destinasi yang lebih beragam di Indonesia.
Pertemuan tersebut juga dikaitkan dengan momentum 70 tahun kunjungan Presiden pertama RI Soekarno ke Uzbekistan pada 1956.
Gus Irfan berharap hubungan historis itu dapat menjadi pijakan untuk melahirkan kerja sama yang lebih konkret antara kedua negara.
Kerja sama tersebut terutama diarahkan pada pembukaan konektivitas penerbangan, pengembangan wisata religi, dan peningkatan pertukaran kunjungan wisatawan.
Pertemuan di Samarkand merupakan kunjungan balasan setelah Gubernur Samarkand bertemu Menteri Haji dan Umrah di Indonesia pada April 2026.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT