Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Islam ala KH Ahmad Dahlan: Berakar Kuat, Terbuka, dan Membebaskan

Kompas.com, 7 September 2026, 09:25 WIB
Reni Susanti

Editor

KOMPAS.com - KH Ahmad Dahlan meninggalkan warisan yang dikenang melalui beragam wajah. Sejarah mencatatnya sebagai ulama, pendidik, pembaru Islam, tokoh pergerakan, sekaligus pendiri Muhammadiyah.

Beragam sebutan tersebut mengarah pada satu pertanyaan mendasar: corak Islam seperti apa yang sebenarnya diperjuangkan KH Ahmad Dahlan?

Jawabannya tidak cukup ditemukan hanya dengan menelusuri pandangan atau praktik ibadahnya.

Upaya memahami KH Ahmad Dahlan melalui satu atau dua persoalan fikih justru dapat menyempitkan cakrawala pembaruannya.

Praktik keagamaan yang dijalaninya pada masa tertentu juga tidak serta-merta dapat dijadikan dasar untuk menempatkan seluruh pemikirannya ke dalam satu kotak mazhab.

Baca juga: Muhammadiyah: Islam Beri Ruang Perbedaan Pemikiran Selama Tak Langgar Dalil yang Pasti

Dalam tulisannya berjudul “Memahami Pemikiran dan Langkah KH Ahmad Dahlan” yang dimuat Majalah Suara Muhammadiyah Nomor 5 Tahun 2014, Haedar Nashir mengingatkan bahwa pembacaan terhadap KH Ahmad Dahlan melalui perkara-perkara kecil berisiko mengecilkan keluasan proyek pembaruannya.

KH Ahmad Dahlan memang lahir dan tumbuh di lingkungan santri tradisional. Ia mempelajari khazanah keislaman yang lazim dikaji para ulama pada masanya.

Dalam fikih, KH Ahmad Dahlan bersentuhan dengan Mazhab Syafi’i. Dalam tasawuf, ia mengenal pemikiran Imam Al-Ghazali. Ia juga membaca karya-karya dari beragam tradisi pemikiran Islam.

Namun, KH Ahmad Dahlan tidak berhenti sebagai pembaca kitab. Ia mengolah pengetahuan menjadi energi perubahan.

Di situlah letak penting memahami Islam ala KH Ahmad Dahlan. Baginya, Islam harus menjadi kekuatan yang mengubah kehidupan. Al-Qur’an perlu dibaca dengan kesadaran bahwa setiap petunjuknya membawa konsekuensi sosial.

Pengetahuan agama menemukan maknanya ketika menjelma menjadi tindakan yang memperbaiki kehidupan manusia.

Karena itu, KH Ahmad Dahlan dapat disebut sebagai seorang mujadid dalam pengertian luas.

Ia berusaha mengembalikan umat kepada sumber ajaran Islam sekaligus membebaskan mereka dari keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan, dan ketidakberdayaan.

Baca juga: Haedar Nashir Ungkap Alasan Muhammadiyah Tidak Memiliki Dewan Syuro

Mencari kebenaran dengan pikiran terbuka

Haedar Nashir dalam tulisan yang sama mengutip catatan Kiai Hadjid mengenai cara KH Ahmad Dahlan mencari kebenaran.

KH Ahmad Dahlan mengibaratkan perjumpaan seorang Muslim dan seorang Kristen yang masing-masing membawa kitab suci.

Kedua kitab tersebut diletakkan di atas meja. Keduanya kemudian mengosongkan hati dari prasangka dan bersama-sama mencari bukti yang menunjukkan kebenaran.

Hal menarik dari gambaran tersebut bukan sekadar kisah mengenai perjumpaan antara Islam dan Kristen. Bagian yang lebih mendasar adalah etika intelektual yang terkandung di dalamnya.

Kebenaran tidak dicari dengan semangat mengalahkan orang lain, tetapi melalui kesediaan untuk menguji keyakinan berdasarkan bukti.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa KH Ahmad Dahlan memiliki sikap keilmuan yang jauh dari fanatisme sempit.

Ia tidak memandang sesuatu benar hanya karena telah menjadi kebiasaan. Ia juga tidak serta-merta menganggap sesuatu salah hanya karena berasal dari luar lingkungan pemikirannya.

Haedar turut mencatat ungkapan yang dinisbahkan kepada KH Ahmad Dahlan, “An-nāsu a‘dā’u mā jahilū”, yang berarti manusia cenderung memusuhi sesuatu yang tidak diketahuinya.

Sikap semacam ini penting untuk memahami perjalanan KH Ahmad Dahlan. Ia hidup ketika umat Islam Indonesia berhadapan dengan perubahan besar.

Pengetahuan modern berkembang, sistem pendidikan kolonial tumbuh, serta organisasi sosial dan pergerakan kebangsaan mulai bermunculan.

Pada saat yang sama, umat Islam menghadapi persoalan internal berupa keterbelakangan pendidikan dan berbagai masalah sosial.

KH Ahmad Dahlan tidak memilih menutup diri dari perubahan tersebut. Ia justru berusaha mengambil sesuatu yang dinilainya baik, kemudian menempatkannya dalam kerangka ajaran Islam.

Modernitas baginya bukan sesuatu yang harus diterima mentah-mentah, tetapi juga tidak semestinya ditolak hanya karena berasal dari luar tradisi Islam.

Sekolah dengan sistem klasikal, penerbitan, organisasi, ilmu pengetahuan, pengelolaan zakat, pendidikan perempuan, dan berbagai bentuk kelembagaan modern dapat dimanfaatkan selama membawa kemaslahatan dan tidak bertentangan dengan prinsip Islam.

Islam ala KH Ahmad Dahlan, dengan demikian, adalah Islam yang memiliki akar kuat sekaligus keberanian untuk bergerak menghadapi perubahan.

Dari Al-Ma’un menuju kehidupan nyata

Salah satu cara terbaik memahami pemikiran KH Ahmad Dahlan adalah melihat bagaimana ia membaca dan mengajarkan Al-Qur’an.

Kisah pengajaran Surah Al-Ma’un menjadi salah satu contoh yang kerap diceritakan. Namun, kisah tersebut sesungguhnya menyimpan gagasan yang jauh lebih besar.

KH Ahmad Dahlan tidak mengajarkan Surah Al-Ma’un sebagai teks yang cukup dibaca dan dihafalkan berulang kali. Ia menjadikannya panggilan untuk melihat orang yang lapar, miskin, terlantar, dan tidak berdaya.

Al-Qur’an harus bergerak dari lisan menuju kehidupan. Karena itu, keberagamaan KH Ahmad Dahlan selalu membawa konsekuensi sosial.

Orang yang rajin beribadah, tetapi membiarkan penderitaan di sekitarnya, belum sepenuhnya menangkap pesan agama. Kesalehan individual perlu menemukan bentuknya dalam kepedulian sosial.

Di sinilah Islam ala KH Ahmad Dahlan menunjukkan kekhasannya. Islam tidak dipisahkan dari kerja kemanusiaan.

Pendirian sekolah, pengorganisasian zakat, pengelolaan kegiatan sosial, pembentukan organisasi perempuan, penerbitan, pengajian, hingga pelayanan kepada masyarakat miskin bukanlah kegiatan tambahan di luar agama.

Semua itu justru menjadi cara menghadirkan Islam dalam kehidupan.

Haedar Nashir menggambarkan corak pembaruan tersebut sebagai usaha KH Ahmad Dahlan untuk menghadirkan Islam secara nyata melalui gerakan amal yang terorganisasi.

KH Ahmad Dahlan kemudian dikenal sebagai “manusia amal”. Namun, sebutan tersebut tidak berarti ia miskin gagasan.

Sebaliknya, berbagai amal itu lahir dari pemikiran mendasar mengenai hubungan antara iman, ilmu, dan tindakan. Iman melahirkan kesadaran, ilmu memberikan arah, sedangkan amal menghadirkan ajaran agama dalam kehidupan.

Islam yang berkemajuan

KH Ahmad Dahlan hidup dalam suasana kolonial ketika umat Islam menghadapi berbagai bentuk keterbelakangan.

Akses pendidikan masih terbatas, kemiskinan meluas, dan perempuan belum memperoleh kesempatan pendidikan secara memadai. Sementara itu, pengetahuan modern berkembang di luar lembaga-lembaga pendidikan Islam.

Dalam konteks itulah pembaruan KH Ahmad Dahlan perlu dibaca. Umat membutuhkan cara baru untuk menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan pijakan keislamannya.

Sebagaimana dijelaskan Haedar Nashir, langkah pembaruan KH Ahmad Dahlan diwujudkan melalui berbagai kegiatan nyata.

Dikutip dari laman Muhammadiyah, ia mendirikan sekolah dengan sistem klasikal, merintis penerbitan dan Taman Pustaka, mendorong pendidikan perempuan melalui Aisyiyah, mengembangkan pengajian di ruang publik, serta mengorganisasi zakat dan kegiatan sosial.

Semua langkah tersebut menunjukkan bahwa pembaruan Islam yang dibayangkannya bukan sekadar pembaruan wacana.

Pembaruan harus memiliki institusi. Gagasan yang baik membutuhkan sekolah. Kepedulian sosial memerlukan organisasi. Pengetahuan membutuhkan penerbitan. Pemberdayaan perempuan memerlukan lembaga.

Sementara itu, pengamalan agama membutuhkan sistem agar dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Di sinilah Muhammadiyah menjadi salah satu warisan terpenting KH Ahmad Dahlan.

Kehadirannya sebagai organisasi gerakan memungkinkan gagasan berkemajuan KH Ahmad Dahlan terus hidup dan bekerja setelah pendirinya wafat.

Mengubah ajaran menjadi amal yang bertahan

Islam ala KH Ahmad Dahlan pada akhirnya adalah Islam yang dilembagakan menjadi amal. Hal itulah yang membuat pembaruannya memiliki daya tahan panjang.

Sebuah ceramah mungkin berakhir ketika penceramah turun dari mimbar. Sebuah gagasan mungkin berhenti ketika pencetusnya tidak lagi berbicara.

Namun, sekolah, rumah sakit, panti asuhan, perguruan tinggi, penerbitan, lembaga zakat, organisasi perempuan, dan berbagai amal usaha dapat terus bekerja melampaui usia pendirinya.

Jika perjalanan KH Ahmad Dahlan dibaca secara utuh, tampak bahwa pusat perhatiannya adalah bagaimana Islam menjadi kekuatan pembebasan.

Ia menghendaki umat Islam yang beragama sekaligus berilmu, beriman sekaligus beramal, serta taat kepada ajaran agama sekaligus mampu menghadapi perubahan zaman.

Umat juga diharapkan memiliki keyakinan yang kokoh tanpa menutup diri dari ilmu pengetahuan, serta saleh secara personal sekaligus berguna bagi masyarakat.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
MUI Ingatkan Masyarakat Waspadai Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, Ini Langkah yang Disarankan
MUI Ingatkan Masyarakat Waspadai Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, Ini Langkah yang Disarankan
Aktual
Anak Krakatau Meletus, Travel Umrah Diminta Tak Paksakan Keberangkatan
Anak Krakatau Meletus, Travel Umrah Diminta Tak Paksakan Keberangkatan
Aktual
Islam ala KH Ahmad Dahlan: Berakar Kuat, Terbuka, dan Membebaskan
Islam ala KH Ahmad Dahlan: Berakar Kuat, Terbuka, dan Membebaskan
Aktual
Dzikir dan Doa Pagi Pembuka Pintu Rezeki, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Dzikir dan Doa Pagi Pembuka Pintu Rezeki, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Kalender Islam September 2026 Lengkap: Tanggal Hijriah, Weton Jawa, Hari Besar Islam, dan Libur
Kalender Islam September 2026 Lengkap: Tanggal Hijriah, Weton Jawa, Hari Besar Islam, dan Libur
Aktual
Gus Kikin Targetkan Kepengurusan PBNU 2026-2031 Rampung 30 Hari usai Muktamar
Gus Kikin Targetkan Kepengurusan PBNU 2026-2031 Rampung 30 Hari usai Muktamar
Aktual
Doa Saat Gunung Meletus Menurut Imam An-Nawawi: Arab, Latin dan Artinya
Doa Saat Gunung Meletus Menurut Imam An-Nawawi: Arab, Latin dan Artinya
Doa dan Niat
Nasihat KH Bisri Mustofa untuk Pendakwah di Era Media Sosial
Nasihat KH Bisri Mustofa untuk Pendakwah di Era Media Sosial
Aktual
MUI Ingatkan Warga Hadapi Erupsi Gunung Anak Krakatau: Waspada, Ikhtiar, dan Perkuat Empati
MUI Ingatkan Warga Hadapi Erupsi Gunung Anak Krakatau: Waspada, Ikhtiar, dan Perkuat Empati
Aktual
Erupsi Anak Krakatau, MUI Imbau Jangan Pasrah, Ikuti Mitigasi dan Peringatan Dini
Erupsi Anak Krakatau, MUI Imbau Jangan Pasrah, Ikuti Mitigasi dan Peringatan Dini
Aktual
Dari Kitab Kuning hingga Lemhannas, Jejak Pendidikan Holistik Darul Amanah
Dari Kitab Kuning hingga Lemhannas, Jejak Pendidikan Holistik Darul Amanah
Aktual
5 Ibadah dan Aktivitas Selain Shalat yang Berkaitan dengan Arah Kiblat
5 Ibadah dan Aktivitas Selain Shalat yang Berkaitan dengan Arah Kiblat
Aktual
Penerbangan Batal Imbas Erupsi Anak Krakatau, Puluhan Jemaah Umrah Ditampung di Asrama Haji Sudiang
Penerbangan Batal Imbas Erupsi Anak Krakatau, Puluhan Jemaah Umrah Ditampung di Asrama Haji Sudiang
Aktual
Deklarasi GIHES 2026: AI Harus Menjadi Alat Pendukung, Bukan Penentu Pendidikan
Deklarasi GIHES 2026: AI Harus Menjadi Alat Pendukung, Bukan Penentu Pendidikan
Aktual
Shalat Tidak Khusyuk, Apakah Ibadahnya Sah dan Diterima?
Shalat Tidak Khusyuk, Apakah Ibadahnya Sah dan Diterima?
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar