Penulis
KOMPAS.com - Gunung meletus merupakan salah satu fenomena alam yang dapat menimbulkan kepanikan dan mengancam keselamatan masyarakat di kawasan terdampak.
Dalam situasi seperti itu, selain mengikuti arahan petugas, masyarakat Muslim dapat memperbanyak doa dan zikir untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT.
Sejumlah doa yang berkaitan dengan kondisi takut, tertimpa bencana, menghadapi kesulitan, hingga memohon perlindungan dari bala dibahas Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar.
Dalam terjemahan Al-Adzkar, terdapat bagian khusus "Bacaan Apabila Tertimpa Bencana" pada halaman 361. Selain itu, ada pula bab tentang bacaan ketika merasa takut atau kaget, menghadapi kesulitan, serta bacaan tolak bala.
Lantas, apa saja doa yang dapat dibaca ketika menghadapi bencana seperti erupsi gunung?
Baca juga: Kumpulan Doa Saat Gunung Meletus untuk Memohon Perlindungan dan Keselamatan
Penulis Imam An-Nawawi mencantumkan beberapa bacaan yang berkaitan dengan kondisi bencana dan ketakutan. Doa-doa tersebut dapat diamalkan sebagai bentuk ikhtiar batin ketika seseorang menghadapi situasi yang menakutkan atau tertimpa musibah.
Dalam Al-Adzkar, Imam An-Nawawi mencantumkan bab "Bacaan Apabila Tertimpa Bencana".
Doa tersebut dinukil dari Ali RA dan disebutkan sebagai sabda Rasulullah SAW:
يَا عَلِيُّ عَلَيْكَ إِذَا أَصَابَتْكَ كُرُبَاتٌ وَإِذَا وَقَعْتَ فِي وَرْطَةٍ قُلْ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُيَسِّرُ بِهَا مَا شَاءَ مِنْ أَنْوَاعِ الْبَلَاءِ.
Artinya:
"Wahai Ali, apabila engkau mendapatkan beberapa kesulitan dan ketika engkau berada dalam kesulitan, bacalah: Bismillaahir rahmaanir rahiim. Wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil 'aliyyil 'azhiim. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung. Dengan demikian, sesungguhnya Allah akan memudahkan bagimu apa yang Dia kehendaki dari berbagai macam bencana."
Doa ini merupakan salah satu bacaan yang paling relevan ketika seseorang menghadapi musibah atau kondisi yang berat.
Dalam kitab tersebut, doa ini ditempatkan secara khusus pada bagian bacaan apabila tertimpa bencana, sehingga dapat menjadi salah satu bacaan ketika menghadapi situasi darurat secara batiniah.
Imam An-Nawawi juga menyediakan bab "Bacaan Apabila Merasa Takut atau Kaget".
Bab tersebut berada pada halaman 358 dalam terjemahan Al-Adzkar. Di dalamnya terdapat bacaan yang dinukil dari sejumlah riwayat tentang apa yang dibaca ketika seseorang menghadapi sesuatu yang membuatnya takut atau terkejut.
Kondisi seperti suara dentuman, hujan abu, getaran, atau kabar mengenai peningkatan aktivitas gunung api dapat membuat masyarakat panik. Dalam kondisi demikian, seorang Muslim dapat memperbanyak zikir dan doa sambil tetap mengikuti prosedur keselamatan.
Salah satu bacaan yang dicantumkan dalam bab tersebut adalah:
حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ، عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ، وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
Artinya:
"Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia. Kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung."
Doa tersebut mengandung penyerahan diri kepada Allah SWT sekaligus penguatan hati ketika menghadapi keadaan yang menakutkan.
Dalam Al-Adzkar juga terdapat bab "Bacaan Apabila Menghadapi Kesulitan".
Bab ini tercantum pada halaman 369 dalam terjemahan yang digunakan.
Di antara doa yang dicantumkan adalah:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ، سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، أَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، لَا تَدَعْ لِي ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ، وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ، وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Artinya:
"Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Penyantun lagi Maha Pemurah. Mahasuci Allah, Tuhan Arasy yang agung. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Aku memohon kepada-Mu segala sesuatu yang mendatangkan rahmat-Mu, segala sesuatu yang memastikan ampunan-Mu, memperoleh segala kebajikan dan keselamatan dari setiap dosa. Janganlah Engkau biarkan dosa bagiku kecuali Engkau mengampuninya, tidak pula kesusahan kecuali Engkau melapangkannya, dan tidak pula suatu kebutuhan yang Engkau ridhai kecuali Engkau memenuhinya, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang."
Doa ini dapat menjadi bacaan ketika seseorang berada dalam kondisi penuh tekanan dan membutuhkan pertolongan Allah SWT.
Selain doa ketika tertimpa bencana dan menghadapi kesulitan, Imam An-Nawawi juga memuat Bab XIII: Bacaan Tolak Bala.
Dalam bagian tersebut, terdapat bacaan:
مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى عَبْدٍ بِنِعْمَةٍ فِي أَهْلٍ وَمَالٍ وَوَلَدٍ فَقَالَ: مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، فَيَرَى فِيهَا آفَةً دُونَ الْمَوْتِ
Artinya:
"Apabila suatu hikmat yang diberikan oleh Allah kepada seorang hamba, baik pada keluarga, harta dan anak buah, maka hamba itu membaca: Maa syaa Allah, laa quwwata illaa billaah (Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, tidak ada kekuatan kecuali dengan izin Allah). Ia pun akan melihat bencana yang akan terjadi di balik nikmat itu kecuali kematian yang tidak diperhitungkan."
Bab "Bacaan Tolak Bala" tersebut terdapat pada halaman 371 terjemahan Al-Adzkar.
Salah satu doa yang secara langsung terdapat dalam bab "Bacaan Apabila Tertimpa Bencana" adalah bacaan:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dilanjutkan:
وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
Latin:
Bismillaahir rahmaanir rahiim. Wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil 'aliyyil 'azhiim.
Artinya:
"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung."
Dalam konteks erupsi gunung, bacaan ini dapat diamalkan sebagai doa ketika menghadapi musibah, sembari melakukan langkah keselamatan yang diperlukan.
Membaca doa ketika menghadapi erupsi gunung tidak berarti seseorang boleh mengabaikan langkah keselamatan.
Doa merupakan bentuk ikhtiar batin, sedangkan evakuasi, mengikuti zona bahaya, menggunakan perlengkapan keselamatan, serta menaati informasi petugas merupakan ikhtiar lahiriah.
Karena itu, keduanya dapat berjalan bersama.
Ketika otoritas menetapkan wilayah tertentu harus dikosongkan, masyarakat tetap harus melakukan evakuasi meskipun sedang memperbanyak doa dan zikir.
Sikap tawakal dalam Islam bukan berarti meninggalkan usaha. Justru manusia diperintahkan melakukan ikhtiar sesuai kemampuan sebelum menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.
Situasi bencana dapat menimbulkan rasa takut, cemas, dan kepanikan.
Dalam kondisi tersebut, membaca doa secara perlahan dapat membantu seseorang mengingat Allah SWT dan menjaga ketenangan hati.
Beberapa bacaan yang dapat diamalkan berdasarkan bagian-bagian dalam Al-Adzkar antara lain:
1. Bismillaahir rahmaanir rahiim.
2. Wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil 'aliyyil 'azhiim.
3. Hasbiyallaahu laa ilaaha illaa huwa, 'alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul 'arsyil 'azhiim.
4. Laa ilaaha illallaahul haliimul kariim...
5. Memperbanyak istighfar, zikir, dan doa memohon perlindungan kepada Allah SWT.
Dengan mengamalkannya, seorang Muslim diharapkan tetap mengingat Allah dalam kondisi sulit sekaligus tidak kehilangan kewaspadaan terhadap ancaman di sekitarnya.
Ketika terjadi erupsi atau bencana lainnya, beberapa hal penting perlu diperhatikan.
Kepanikan dapat membuat seseorang sulit mengambil keputusan. Karena itu, doa dapat disertai upaya menenangkan diri dan mengikuti informasi resmi.
Jika terdapat perintah evakuasi, masyarakat perlu segera mengikutinya.
Perbanyak doa, zikir, istighfar, dan tawakal kepada Allah SWT.
Jika berada dalam kondisi aman, seorang Muslim juga dapat membantu keluarga, tetangga, lansia, anak-anak, dan kelompok rentan yang membutuhkan pertolongan.
Doa saat gunung meletus tidak ditemukan sebagai bab khusus dengan nama tersebut dalam bagian Al-Adzkar yang dirujuk. Namun, Imam An-Nawawi memuat sejumlah doa untuk menghadapi bencana, rasa takut atau kaget, kesulitan, serta bacaan tolak bala.
Di antaranya adalah doa "Bismillaahir rahmaanir rahiim, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil 'aliyyil 'azhiim" yang terdapat dalam bab Bacaan Apabila Tertimpa Bencana pada halaman 361 terjemahan Al-Adzkar.
Baca juga: Anak Krakatau Erupsi, Ini Doa yang Dianjurkan Rasulullah Saat Gunung Meletus
Doa-doa tersebut dapat menjadi bagian dari ikhtiar batin seorang Muslim ketika menghadapi erupsi gunung atau musibah lainnya.
Namun, doa tidak menggantikan ikhtiar keselamatan. Ketika gunung mengalami erupsi, masyarakat tetap perlu memperhatikan peringatan resmi, menjauhi kawasan berbahaya, dan melakukan evakuasi sesuai arahan pihak berwenang.
Berdoa, berikhtiar, dan bertawakal dapat berjalan bersama dalam menghadapi musibah.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT