Editor
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Bahagia dan nikmat kerap dianggap sebagai hal yang sama. Padahal, keduanya memiliki perbedaan, baik dari cara manusia merasakannya maupun durasinya.
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Rahmadi Wibowo mengatakan, kebahagiaan berada di dalam hati atau bersifat batiniah. Sementara itu, kenikmatan umumnya dirasakan melalui pancaindra.
“Kalau kebahagiaan pada umumnya dirasakan di dalam diri, batin itu panjang dan lama,” kata Rahmadi dikutip dari laman Muhammadiyah, Senin (14/9/2026).
Baca juga: 5 Tips agar Lansia Tetap Sehat dan Bahagia Menurut Islam
Menurut dia, kenikmatan cenderung berlangsung lebih singkat. Salah satu contohnya adalah rasa enak yang diterima lidah ketika seseorang menyantap makanan.
Kenikmatan tersebut umumnya hanya terasa selama makanan dikonsumsi. Setelah selesai makan, sensasi yang dirasakan pun berangsur menghilang.
Hal serupa berlaku pada sesuatu yang dinikmati melalui penglihatan. Kenikmatan tersebut dapat berkurang ketika seseorang mulai merasa jenuh atau menemukan sesuatu yang dianggap lebih menarik.
Perbedaan antara nikmat dan bahagia juga perlu dipahami dalam kehidupan rumah tangga.
Rahmadi mengingatkan, rumah tangga tidak seharusnya dibangun hanya berdasarkan kenikmatan yang dapat ditangkap pancaindra. Pasangan perlu membangun hubungan yang melibatkan kedekatan batin.
Menurut dia, konsep sakinah, mawaddah, wa rahmah dalam rumah tangga harus menyentuh dimensi batin. Hubungan perkawinan tidak cukup hanya bertumpu pada ketertarikan fisik.
Aspek fisik dapat berubah dan menimbulkan kejenuhan. Sementara itu, hubungan batin yang dibangun dengan baik dapat membantu pasangan mempertahankan ketenteraman serta kasih sayang dalam kehidupan rumah tangga.
Baca juga: Arab Saudi Masuk 22 Negara Paling Bahagia 2026, Dampak Vision 2030
Pakar hadis UAD itu menjelaskan, kebahagiaan dalam bahasa Arab disebut sa’adah. Bagi seorang Muslim, kebahagiaan setidaknya tercermin dalam tiga keadaan.
Ketiganya ialah jiwa yang tenang, hati yang tenteram, serta dada yang lapang.
“Semua itu dihasilkan dari keistikamahan perilaku baik, berbuat baik, dan adanya kedekatan kepada Allah,” tutur Rahmadi.
Ia kemudian mengutip bagian akhir Surat Al-Baqarah ayat 262:
لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya, “Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
Menurut Rahmadi, merujuk pada penjelasan Ibnu Katsir, ketiadaan rasa takut dan sedih berkaitan dengan tuntunan Islam agar umatnya senantiasa memelihara harapan baik.
Sejumlah ulama menjelaskan bahwa puncak harapan seorang Muslim adalah kembali ke surga dan memperoleh ampunan Allah SWT.
Dengan demikian, kebahagiaan tidak semata-mata lahir dari terpenuhinya keinginan fisik. Kebahagiaan juga berkaitan dengan konsistensi berbuat baik, ketenangan batin, dan kedekatan seorang hamba kepada Allah.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.