KOMPAS.com - Pendidikan anak tidak dimulai ketika mereka masuk sekolah. Jauh sebelum mengenal guru dan lingkungan sosial, anak pertama kali belajar dari rumah melalui ucapan, kebiasaan, sikap, dan keteladanan orang tua.
Dalam Islam, keluarga bukan sekadar tempat anak tumbuh, tetapi ruang pertama untuk menanamkan nilai keimanan dan akhlak. Karena itu, pendidikan anak tidak hanya menjadi urusan sekolah. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk membimbing, mendampingi, dan memberi contoh dalam kehidupan sehari-hari.
Muhammadiyah dalam artikel yang bertajuk “Keluarga Adalah Fondasi Utama Membangun Peradaban Bangsa” menempatkan keluarga sebagai fondasi penting dalam membentuk kualitas generasi. Keluarga menjadi lingkungan awal tempat nilai, karakter, dan kebiasaan ditanamkan sebelum anak berinteraksi lebih luas dengan masyarakat.
Baca juga: Ekonom Soroti Dana Haji yang Keluar dari Ekosistem Syariah saat Belanja
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan keluarga tidak sebatas mengajarkan pengetahuan agama. Cara orang tua berbicara, menyelesaikan persoalan, memperlakukan orang lain, dan menjalankan ibadah juga menjadi bagian dari proses pendidikan yang diamati anak.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Yā ayyuhalladzīna āmanū qū anfusakum wa ahlīkum nāran waqūduhan-nāsu wal-hijāratu ‘alaihā malā’ikatu ghilāzhun syidād, lā ya‘shūnallāha mā amarahum wa yaf‘alūna mā yu’marūn.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada apa yang Allah perintahkan dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim: 6).
Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga keluarga mencakup tanggung jawab membimbing mereka agar berada dalam ketaatan kepada Allah. Dalam pendidikan anak, tanggung jawab tersebut dapat diwujudkan melalui pengajaran agama, pembiasaan akhlak, dan keteladanan orang tua.
Baca juga: BPJPH: Wajib Halal Bukan Paksaan, Ada Toleransi bagi yang Belum Siap
Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَهِيَ مَسْؤُولَةٌ عَنْهُمْ
Kullukum rā‘in, wa kullukum mas’ūlun ‘an ra‘iyyatihi, far-rajulu rā‘in ‘alā ahlihi wa huwa mas’ūlun ‘an ra‘iyyatihi, wal-mar’atu rā‘iyatun ‘alā baiti zaujiha wa hiya mas’ūlatun ‘anhum.
Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia bertanggung jawab atas mereka. Seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas mereka.” (Sahih al-Bukhari Nomor 893).
Hadis tersebut menegaskan bahwa keluarga merupakan ruang tanggung jawab. Bagi orang tua, tanggung jawab itu tidak hanya berupa pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga pendampingan dan pembentukan karakter anak.
Pendidikan keluarga dalam Islam mencakup pembentukan iman dan akhlak. Anak perlu mengenal nilai kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, kesabaran, serta penghormatan kepada orang lain melalui pembiasaan di rumah.
Baca juga: Dadang Kahmad: Masyarakat Kini Hadapi Kemiskinan Makna dan Kebodohan Digital
Kementerian Agama juga menekankan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak untuk mengenal nilai kehidupan, ajaran agama, dan pembentukan karakter. Orang tua karena itu perlu hadir dalam proses pendidikan, bukan hanya menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada sekolah.
Nasihat kepada anak akan lebih mudah dipahami ketika disertai contoh. Anak dapat melihat bagaimana orang tua berbicara kepada anggota keluarga, menyelesaikan konflik, meminta maaf, menjalankan ibadah, hingga memperlakukan orang lain.
Kementerian Agama juga menekankan pentingnya kasih sayang dan keteladanan dalam pendidikan anak. Pendidikan dengan pendekatan tersebut membantu keluarga membentuk kebiasaan dan karakter anak secara bertahap sesuai usia serta perkembangan mereka.
Keluarga yang kuat tidak berarti keluarga tanpa masalah. Yang lebih penting adalah adanya lingkungan yang memungkinkan anak memperoleh bimbingan, kasih sayang, batasan yang jelas, dan contoh perilaku yang baik.
Baca juga: Mengapa Islam Mengajarkan Menjaga Lingkungan? Ini Dalilnya
Karena itu, pendidikan anak dapat dimulai dari hal sederhana di rumah. Orang tua dapat membangun kebiasaan beribadah bersama, membiasakan komunikasi terbuka, mengajarkan tanggung jawab, serta menunjukkan perilaku yang ingin ditanamkan kepada anak. Dari lingkungan keluarga inilah nilai yang dibawa anak ke sekolah dan masyarakat mulai terbentuk.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.