Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Muhaimin Kunjungi Pesan Trend, Santri Belajar Bertani hingga Mengolah Limbah

Kompas.com, 6 Oktober 2026, 20:15 WIB
Reni Susanti

Editor

BANDUNG, KOMPAS.com — Belajar di pesantren tidak hanya berlangsung melalui pengajian dan kegiatan di ruang kelas.

Di Pesan Trend atau Sekolah Rimba Indonesia, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, santri juga terlibat dalam pertanian, peternakan, pengolahan limbah, hingga pengembangan produk kopi.

Model pendidikan yang dikembangkan Yayasan Pemuda Hijrah tersebut memadukan kurikulum nasional, pendidikan Al-Qur’an, permakultur, dan keterampilan hidup.

“Pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar. Pesantren bisa menjadi ruang untuk membangun manusia yang punya karakter, keterampilan, kemampuan melihat peluang, dan pada akhirnya mampu mandiri,” ujar Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat A Muhaimin Iskandar dalam rilisnya, Selasa (6/10/2026).

Baca juga: Menag Lantik 5 Pejabat Ditjen Pesantren, Ingatkan Nasib Santri di 42.000 Pondok

Menurut Muhaimin, perpaduan pendidikan, kepedulian lingkungan, dan pengembangan potensi lokal memperlihatkan bagaimana pemberdayaan dapat tumbuh dari pesantren.

Ia menekankan bahwa pendidikan perlu memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengenali minat, mengembangkan keterampilan, serta mencoba menciptakan sesuatu.

“Yang penting dalam pemberdayaan adalah bagaimana anak-anak ini tidak hanya disiapkan untuk mencari pekerjaan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menciptakan peluang dan mengembangkan potensi yang ada di sekitarnya,” katanya.

Mengembangkan kopi bersama kelompok tani

Salah satu potensi lokal yang dikembangkan di kawasan tersebut adalah kopi Arabika.

Perkebunan seluas sekitar 12,7 hektare, ditambah dua hektare lahan baru, dikelola bersama Kelompok Tani Putra Manglayang yang beranggotakan 31 orang.

Pada 2026, produksi kopi mencapai sekitar 50 ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 14 ton telah diserap untuk diolah menjadi berbagai produk, sedangkan 36 ton lainnya masih dijual sebagai bahan mentah.

Menurut Muhaimin, kondisi itu membuka kesempatan untuk memperkuat pengolahan pascapanen, pengemasan, dan akses pasar agar masyarakat memperoleh nilai tambah yang lebih besar.

“Di sini kita melihat bagaimana potensi lokal bisa menjadi sumber pemberdayaan. Bukan hanya menghasilkan komoditas, tetapi bagaimana masyarakat memiliki kemampuan untuk mengolah, meningkatkan nilai tambah, dan mendapatkan manfaat yang lebih besar,” ujarnya.

Baca juga: Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota

Belajar mengelola lingkungan

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat A Muhaimin Iskandar bersama Hanan Attaki di Pesan Trend atau Sekolah Rimba Indonesia di Kabupaten Bandung, Selasa (6/10/2026).Dok KEMENKO PM Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat A Muhaimin Iskandar bersama Hanan Attaki di Pesan Trend atau Sekolah Rimba Indonesia di Kabupaten Bandung, Selasa (6/10/2026).

Selain pengembangan kopi, kegiatan di Pesan Trend mencakup pertanian berkelanjutan, budidaya maggot, dan pengolahan limbah menjadi kompos.

Kegiatan tersebut menjadi ruang belajar bagi santri untuk mengelola sumber daya, menghadapi persoalan lingkungan, dan mengenali peluang produktif.

Muhaimin menilai inisiatif yang tumbuh dari masyarakat perlu diperkuat melalui pendampingan, akses, dan kolaborasi. Pemerintah, menurutnya, perlu mendukung gerakan yang sudah berjalan agar manfaatnya menjangkau lebih banyak orang.

Ia juga mendorong pesantren dan komunitas lain mengembangkan pemberdayaan sesuai potensi daerah masing-masing.

“Pemberdayaan itu bukan membuat masyarakat bergantung, tetapi membuat masyarakat punya kemampuan untuk berdiri sendiri. Pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu ruang tumbuhnya kemandirian itu,” kata Muhaimin.

Hanan Attaki ingin memperluas Kampung Pemuda

Penggagas dan pendiri kawasan Kampung Pemuda, Ustaz Hanan Attaki, mengatakan pengembangan kawasan tersebut merupakan bagian dari perjalanan gerakan Pemuda Hijrah sejak 2015.

Menurut Hanan, setelah membangun tren hijrah, gerakan tersebut berlanjut pada pengembangan model dan ruang kolaborasi anak muda.

“Periode pertama kami membuat tren, alhamdulillah pada 2015 sampai 2020 lahir tren hijrah di Indonesia. Periode kedua kami membuat model dan lokasi. Kawasan ini salah satunya, sebuah kawasan kolaboratif anak muda,” ujarnya.

“Kalau di kota namanya youth space, karena kami di pegunungan, kami menyebutnya Kampung Pemuda,” lanjut Hanan.

Ia berharap model tersebut dapat dikembangkan di berbagai daerah agar anak muda memiliki tempat untuk belajar, berkolaborasi, dan mengembangkan potensinya.

Bentuknya dapat disesuaikan dengan karakter daerah, termasuk melalui Islamic center, masjid, maupun lingkungan kampung.

“Harapan kami setelah ini bisa scale up di seluruh Indonesia. Ini bukan franchise, tetapi movement. Silakan ditiru dan dikembangkan secara gratis sesuai kebutuhan daerah masing-masing,” katanya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar