Editor
BANDA ACEH, KOMPAS.com – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar meminta Universitas Islam Negeri (UIN) di Indonesia mengambil peran lebih besar sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam modern.
Menurut Menag, pusat pengembangan peradaban Islam ke depan tidak harus selalu bertumpu pada kawasan Timur Tengah, melainkan dapat dimulai dari Indonesia, khususnya Aceh.
“Tempat yang paling aman untuk mengadopsi ilmu dan peradaban Islam adalah di Indonesia. Saya kira tempat yang paling strategis adalah di Aceh,” ujar Menag dalam rilisnya, Rabu (12/8/2026).
Baca juga: Menag Sebut Jawa Timur Layak Jadi Laboratorium Kerukunan Dunia
Menag menilai Aceh memiliki jejak sejarah panjang dalam perkembangan Islam di Nusantara.
Selain modal intelektual, posisi geografis Aceh di kawasan Asia Tenggara yang dekat dengan Malaysia dan Brunei Darussalam menjadi nilai tambah untuk membangun jejaring keilmuan yang lebih luas.
Ia mengingatkan bahwa UIN memiliki tanggung jawab khusus yang membedakannya dari perguruan tinggi umum. Selain fungsi akademik, UIN mengemban misi dakwah dan sosial di tengah masyarakat.
“UIN itu tidak murni sebagai lembaga akademik, tapi berbeban ganda menjadi institusi dakwah,” kata Nasaruddin.
Oleh karena itu, lulusan UIN diharapkan tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu membawa nilai-nilai keagamaan untuk menjawab persoalan masyarakat.
Baca juga: Menag: Ekonomi Syariah Bukan Hanya untuk Muslim, Paus Benediktus XVI Pernah Soroti Potensinya
Dalam kesempatan tersebut, Menag meminta UIN terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan metodologi akademik.
Perguruan tinggi keagamaan Islam didorong untuk berani melahirkan gagasan dan pendekatan baru yang relevan dengan perkembangan zaman.
“UIN tidak boleh ketinggalan zaman dalam metodologi. Beranilah membuat temuan-temuan baru,” tegasnya.
Ia juga mengajak akademisi memperkuat tradisi kajian Al-Qur'an dengan pendekatan sains dan teknologi modern.
Menurutnya, Al-Qur'an tidak hanya menjadi sumber pemahaman agama, tetapi juga inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
“Jangan takut bersama Al-Qur'an. Sekarang pegangan ilmiah di Barat itu adalah Al-Qur'an,” tambahnya.
Menag turut mengajak sivitas akademika UIN Ar-Raniry meneladani keteguhan keilmuan dan prinsip para ulama serta tokoh Aceh masa lalu.
Sambutan Rektor UIN Ar-Raniry
Sementara itu, Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Mujiburrahman, menyampaikan apresiasinya atas kehadiran Menag yang dinilainya memiliki nilai historis tersendiri bagi kampus.
“Kehadiran Bapak Menteri Agama selalu berkesan bagi kami, mulai dari meresmikan transformasi IAIN menjadi UIN pada tahun 2014, hingga memberikan bantuan langsung bagi mahasiswa terdampak banjir akhir tahun lalu,” kata Mujiburrahman.
Ia juga menyampaikan kesiapan UIN Ar-Raniry untuk memperkuat tata kelola kampus dan menyelaraskan program pengabdian ASN dengan prioritas pemerintah.
“Agar pengkhidmatan ASN sejalan dengan Asta Cita Prabowo-Gibran dan Asta Protas Kemenag, kami memohon bimbingan dan arahan Bapak Menteri Agama,” ujarnya.
Dalam rangkaian acara tersebut, Rektor UIN Ar-Raniry menyerahkan plakat Tugu Iqro kepada Menteri Agama sebagai simbol pengabdian terhadap ilmu pengetahuan dan spiritualitas.
Kegiatan ini turut dihadiri unsur Forkopimda Aceh, pimpinan kampus, dosen, serta mahasiswa UIN Ar-Raniry.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang