Penulis
KOMPAS.com - Prosesi Ijazah Kubro Tirakat Dalailul Khairat angkatan ke-21 yang dipimpin oleh KH Imam Jazuli Lc MA, Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, diselenggarakan pada Sabtu (14/08/21) di Luxton Hotel and Convention Cirebon.
Acara ini dihadiri lebih dari 3.000 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi, serta tokoh seperti Ustadz Derry Sulaiman dan konten kreator Willi Salim.
Data panitia mencatat, total peserta Ijazah Kubro dari angkatan pertama hingga ke-21 telah mencapai 60.000 orang.
Kegiatan yang awalnya dikhususkan bagi santri dan guru Bina Insan Mulia sebelas tahun lalu ini, kini dibuka untuk umum menyusul tingginya permintaan dari wali santri dan masyarakat.
Dengan membludaknya peserta, agenda pengijazahan dibagi menjadi tiga sesi yang berlangsung dari pukul 07.00 pagi hingga 24.00 malam.
Baca juga: 40 Persen Santri Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2 Cirebon Hafal 30 Juz Hanya dalam 4 Bulan
Panitia menyediakan fasilitas gratis berupa risalah sanad, sertifikat Ijazah Kubro, kitab Dalailul Khairat, makanan ringan, dan makan.
Selain itu, peserta berkesempatan memenangkan doorprize berupa umrah, ziarah Walisongo, dan puluhan voucer menginap di hotel Aston di seluruh Indonesia.
Sebelum memulai prosesi, Kiai Imam Jazuli menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjadi manusia yang bermanfaat bagi semua orang, agar Islam dapat hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam.
“Bermanfaat itu tidak hanya kepada orang yang beriman. Mengapa? Karena konsepsi hidayah itu bisa datang kepada siapa saja. Justru Islam yang hadir sebagai rahmatan lil ‘alamin itulah yang bisa mendekatkan semua orang kepada hidayah,” tegasnya dalam keterangan tertulis, Sabtu.
Beliau juga menekankan relevansi konsep ukhuwah dalam Islam.
“Di sinilah konsep al-ukhuwah menjadi sangat penting,” jelasnya.
Kiai Imam Jazuli menguraikan empat level persaudaraan dalam Islam, mulai dari yang paling sempit hingga paling luas.
Level pertama adalah al-ukhuwah an-nahdliyah, persaudaraan sesama pengikut ideologi NU.
“Kita memiliki konsep al-ukhuwah an-nahdliyah, persaudaraan sesama orang yang memiliki ideologi NU, misalnya. Tetapi ini masih tingkat dasar,” jelas beliau.
Level berikutnya adalah al-ukhuwah al-Islamiyah, persaudaraan sesama umat Islam tanpa memandang organisasi masyarakat atau aliran.
“Kalau mau naik lagi, ada yang namanya al-ukhuwah al-Islamiyah, yaitu persaudaraan sesama umat Islam tanpa melihat ormasnya, tanpa melihat alirannya, tanpa melihat tetek bengeknya. Kita diikat oleh satu ikatan iman dan Islam.”
Sebagai kritik sosial, beliau menyoroti masih adanya pihak yang belum siap menghadapi perbedaan.
“Kita merasakan hari ini, banyak slogan yang mengatakan “Islam rahmatan lil ‘alamin”. Betul.
Tetapi kadang-kadang itu hanya menjadi slogan.
Faktanya, belum semua orang siap menghadapi perbedaan,” ungkapnya.
Level ketiga adalah al-ukhuwah al-wathaniyah, persaudaraan kebangsaan yang mengikat individu berbeda agama dan kelompok dalam satu negara.
“Kita berbeda agama, berbeda kelompok, tetapi diikat oleh ikatan persaudaraan dalam satu negara. Artinya, walaupun berbeda, kita harus melindungi siapa pun yang terzalimi. Kalau biasanya yang terzalimi adalah kelompok minoritas, maka tugas kita memastikan kelompok minoritas itu juga aman. Itulah hadirnya al-ukhuwah al-wathaniyah,” paparnya di hadapan hadirin.
Level tertinggi adalah al-ukhuwah al-basyariyah, persaudaraan sesama manusia yang didasari nilai keadilan, kebersamaan, dan kepedulian.
“Persaudaraan yang diikat dengan nilai keadilan, kebersamaan, dan kepedulian. Kita harus saling membantu. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak peduli kepada bangsa lain yang tertindas, misalnya Palestina atau negara-negara lain yang masih mengalami penjajahan,” pesannya.
Kiai Imam Jazuli juga menjelaskan alasan tirakat dan wirid Dalailul Khairat menjadi kurikulum penggemblengan hati atau pendidikan spiritual di Pesantren Bina Insan Mulia.
“Bina Insan Mulia adalah salah satu pesantren yang dari sisi gagasan dan pemikiran bersifat modern. Ada pendidikan umum yang berorientasi pada STEM: Science, Technology, Engineering, dan Mathematics. Tetapi semuanya harus dibentengi dengan agama. Kita sadar bahwa yang kita isi bukan hanya kepala, tetapi juga hati. Spiritualitas tidak bisa dibangun hanya dengan ilmu saja. Spiritualitas harus dibangun dengan praktik,” jelasnya.
Beliau menambahkan bahwa persoalan moralitas menjadi penyebab kerusakan bangsa.
“Bangsa ini rusak, bangsa ini hancur ekonominya karena persoalan moralitas. Ternyata orang pintar saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah. Kalau di dalam hatinya masih ada masalah, pada akhirnya hal itu bisa menjerumuskannya kepada korupsi,” tambahnya.
Baca juga: Peluang Cirebon Jadi Lokasi Muktamar NU ke-35 Menguat, Pesantren Buntet Dinilai Penuhi Syarat
Kepada para calon pengamal tirakat Dalailul Khairat, Kiai Imam Jazuli berpesan agar berniat ikhlas dan mencintai Allah SWT, karena amalan tersebut merupakan tradisi para wali dan sahabat untuk meminta pertolongan dari “jalur langit”.
“Jadi tujuan dari semua amalan kita ini adalah mendekat kepada Allah. Kalau kita dekat dengan Allah, maka Allah akan mencintai kita. Kalau Allah mencintai kita, apa pun bisa diberikan kepada kita,” pungkasnya.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT