KOMPAS.com — Integrasi Islam dan ilmu pengetahuan dalam penelitian bukan berarti mencocokkan setiap temuan ilmiah dengan ayat Al-Quran.
Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Muttaqin mengatakan, penelitian integratif justru perlu menghindari pendekatan "cocoklogi" agar integritas akademik tetap terjaga.
Hal tersebut disampaikan Ahmad dalam Seminar dan Sosialisasi Integrasi Islam dan Ilmu Pengetahuan yang diselenggarakan Center for Islamic Studies and Civilization (CISIC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (13/8/2026).
Menurut Ahmad, integrasi Islam dan ilmu pengetahuan dapat dilakukan dengan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai orientasi penelitian tanpa harus selalu mencantumkan ayat Al-Quran secara langsung.
Baca juga: Kisah Bencana yang Diungkap dalam Al-Quran dan Hadis, dari Banjir hingga Wabah
Ia mencontohkan penelitian mengenai material bangunan murah untuk membuat rumah masyarakat miskin menjadi lebih aman.
Penelitian tersebut, kata dia, tetap dapat disebut sebagai penelitian integratif karena berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.
Dengan demikian, nilai Islam dalam penelitian tidak selalu harus ditunjukkan melalui pencantuman ayat tertentu, tetapi dapat tercermin dalam tujuan dan orientasi penelitian.
Hindari "Cocoklogi" Sains dan Al-Quran.
Ahmad menilai salah satu kekuatan panduan penelitian integratif yang disusun UMY adalah upayanya menghindari pendekatan apologetic, justificationism, dan concordism.
Concordism merupakan kecenderungan untuk mencari atau memaksakan kesesuaian antara temuan sains dan teks agama.
Menurut Ahmad, penelitian tidak seharusnya diarahkan untuk selalu menemukan kecocokan antara teori ilmiah dan ayat Al-Quran.
Baca juga: Viral Hafalan Ad-Duha Berhadiah Miras, MUI: Merendahkan Kesucian Al Quran
Keterbukaan terhadap kemungkinan munculnya ketegangan antara temuan sains dan pemahaman terhadap teks keagamaan justru diperlukan untuk menjaga kejujuran akademik.
"Kekuatan terbesar dari draf ini adalah kejujuran intelektualnya," ujar Ahmad.
Peneliti, lanjut dia, tidak perlu memaksakan suatu teori ilmiah agar terlihat sesuai dengan ayat tertentu karena pendekatan tersebut berisiko mengurangi objektivitas penelitian.
"Jadi menghindari cocoklogi," tegasnya.
Ahmad juga menyoroti penggunaan pendekatan tafsir ilmi dalam penelitian integratif.
Menurut dia, sains modern tidak seharusnya digunakan untuk memvalidasi kebenaran Al-Quran secara mutlak.
Sebab, ilmu pengetahuan bersifat tentatif dan dapat berkembang seiring munculnya penelitian serta temuan baru.
Karena itu, sains dinilai lebih tepat digunakan untuk memperluas pemahaman manusia terhadap ayat-ayat kauniah atau tanda-tanda kebesaran Allah yang terdapat di alam semesta dan kehidupan.
"Tambahan klausulnya, tafsir ilmi ini tidak boleh digunakan untuk memvalidasi Al-Quran menggunakan sains, melainkan menggunakan sains untuk memperluas pemahaman atas ayat kauniah dengan kesadaran bahwa sains itu bersifat tentatif," jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad juga mengapresiasi panduan penelitian integratif yang disusun UMY.
Menurut dia, panduan tersebut memiliki kesesuaian yang kuat dengan berbagai regulasi dan pedoman Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang telah diterbitkan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah.
Tingkat kesesuaiannya disebut mencapai sekitar 90 hingga 95 persen.
"Kesimpulannya secara metodologis dan yuridis organisatoris, draf naskah panduan penelitian integratif UMY ini memiliki tingkat kesesuaian mencapai 90 sampai 95 persen," ujarnya.
Ahmad menilai salah satu keunggulan panduan tersebut adalah kemampuan UMY menerjemahkan prinsip integrasi Islam dan ilmu pengetahuan ke dalam petunjuk teknis penelitian.
Langkah tersebut disebutnya sebagai creative leap atau lompatan kreatif karena konsep integrasi yang sebelumnya banyak berada pada tataran konseptual diterjemahkan menjadi panduan yang lebih operasional.
Ia juga mengapresiasi delapan model penelitian integratif yang ditawarkan UMY.
Keberagaman model tersebut menunjukkan bahwa penelitian di bidang kedokteran, teknik, sosial-humaniora, maupun bidang lainnya tidak dapat menggunakan pendekatan integrasi yang seragam.
Melalui panduan tersebut, integrasi Islam dan ilmu pengetahuan diharapkan tidak berhenti pada upaya mencari kesamaan antara teori ilmiah dan teks agama, tetapi mampu mempertemukan nilai-nilai Islam dengan perkembangan ilmu pengetahuan tanpa mengabaikan prinsip dan metode akademik.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT