Penulis
KOMPAS.com - Istilah "qaulan sadida" belakangan ramai diperbincangkan. Istilah tersebut berasal dari Surat Al-Ahzab ayat 70 yang berisi perintah Allah SWT kepada orang-orang beriman untuk bertakwa dan mengucapkan perkataan yang benar.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar."
Lantas, apa sebenarnya makna "qaulan sadida" dan bagaimana konteks turunnya ayat tersebut?
Secara bahasa, "qaulan" berarti perkataan atau ucapan. Sementara "sadida" berasal dari kata saddada yang memiliki makna meluruskan atau mengarahkan kepada sesuatu yang benar.
Sejumlah ulama tafsir menjelaskan qaulan sadida sebagai perkataan yang benar, lurus, tepat dan tidak menyimpang.
Dalam Tafsir ath-Thabari, sejumlah riwayat dari ulama generasi awal menjelaskan qaulan sadida sebagai perkataan yang benar. Mujahid memaknainya sebagai perkataan yang benar, sementara Qatadah mengaitkannya dengan perkataan yang adil.
Ath-Thabari kemudian menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah ucapan yang benar dan tidak mengandung kebatilan.
Sementara itu, Ibnu Katsir menjelaskan qaulan sadida sebagai perkataan yang lurus dan tidak bengkok atau menyimpang.
Dengan demikian, qaulan sadida tidak sekadar bermakna "tidak berbohong". Maknanya mencakup tuntunan untuk menyampaikan perkataan secara benar, lurus dan sesuai dengan kebenaran.
Tafsir as-Sa'di juga memberikan cakupan yang luas terhadap istilah tersebut. Menurutnya, qaulan sadida adalah perkataan yang sesuai dengan kebenaran atau mendekatinya ketika seseorang belum mampu memastikan suatu persoalan secara mutlak.
Perkataan tersebut dapat mencakup membaca Al-Qur'an, berzikir, menyampaikan ilmu, melakukan amar makruf nahi mungkar, memberikan nasihat, serta berbagai bentuk ucapan yang membawa kepada kebaikan.
Surat Al-Ahzab ayat 70 ditujukan kepada orang-orang yang beriman.
Ayat tersebut berbunyi:
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar."
Setelah perintah tersebut, Allah SWT melanjutkannya pada ayat 71:
"Niscaya Dia akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung."
Rangkaian kedua ayat tersebut menunjukkan hubungan antara ketakwaan, perkataan yang benar dan perbaikan amal.
Karena itu, perintah qaulan sadida pada dasarnya merupakan tuntunan umum bagi orang-orang beriman dalam menjaga ucapan.
Surat Al-Ahzab merupakan surat ke-33 dalam Al-Qur'an dan termasuk kelompok surat Madaniyah.
Nama Al-Ahzab berarti golongan-golongan yang bersekutu. Nama tersebut berkaitan dengan peristiwa Perang Ahzab atau Perang Khandaq, ketika sejumlah kelompok bersekutu untuk menghadapi kaum Muslimin di Madinah.
Dalam tafsir Ibnu Katsir dan ath-Thabari, ayat-ayat awal Surat Al-Ahzab antara lain berkaitan dengan peristiwa ketika pasukan sekutu datang mengepung Madinah.
Kaum Muslimin kemudian menggali parit sebagai bagian dari strategi pertahanan. Peristiwa tersebut menjadi salah satu konteks penting dalam surat ini.
Namun, kandungan Surat Al-Ahzab tidak hanya membicarakan Perang Ahzab.
Surat ini juga membahas sejumlah persoalan lain, antara lain adab terhadap Rasulullah SAW, persoalan Zaid bin Haritsah dan Zainab binti Jahsy, ketentuan mengenai hijab, serta tanggung jawab manusia terhadap amanah.
Dalam pembahasan asbabun nuzul, penting membedakan antara konteks umum sebuah surat dan sebab khusus turunnya sebuah ayat.
Tidak ditemukan riwayat yang kuat dan tegas yang menunjukkan bahwa QS Al-Ahzab ayat 70 turun karena satu peristiwa atau tokoh tertentu.
Kitab Asbabun Nuzul karya Al-Wahidi, salah satu rujukan klasik dalam kajian sebab-sebab turunnya ayat Al-Qur'an, tidak memberikan riwayat sebab turun khusus untuk ayat 70 yang dapat dijadikan dasar untuk mengkhususkan perintah qaulan sadida kepada orang atau peristiwa tertentu.
Sejumlah riwayat yang berkaitan dengan ayat tersebut justru menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memberikan perhatian terhadap perintah bertakwa dan berkata benar sebagai tuntunan bagi kaum Muslimin.
Meski tidak terdapat sebab turun khusus yang tegas untuk ayat 70, sejumlah mufasir memberikan konteks yang berkaitan dengan rangkaian ayat sebelumnya.
Al-Qurthubi, misalnya, menukil pendapat Qatadah dan Muqatil yang mengaitkan perintah qaulan sadida dengan pembicaraan mengenai Zaid bin Haritsah dan Zainab binti Jahsy.
Konteks tersebut tidak berarti bahwa makna qaulan sadida hanya terbatas pada persoalan Zaid dan Zainab. Para mufasir tetap menjelaskan ayat tersebut sebagai tuntunan yang lebih luas mengenai perkataan yang benar dan lurus.
Dari penjelasan sejumlah kitab tafsir, qaulan sadida memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar larangan berbohong.
Perintah tersebut mengajarkan umat Islam untuk menjaga perkataan agar tetap berada dalam koridor kebenaran.
Artinya, seseorang tidak hanya dituntut menghindari kebohongan, tetapi juga menghindari ucapan yang batil, menyimpang, tidak adil, atau dapat menimbulkan kerusakan.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari, prinsip qaulan sadida dapat diterapkan ketika menyampaikan informasi, memberikan nasihat, berdiskusi, menyampaikan kritik, maupun ketika berbicara mengenai orang lain.
Prinsip tersebut juga menuntut kehati-hatian sebelum menyampaikan suatu informasi agar apa yang diucapkan tidak keluar dari kebenaran.
Dengan demikian, qaulan sadida dapat dipahami sebagai prinsip Al-Qur'an agar seorang Muslim berkata benar, lurus, tepat, adil, dan tidak menyimpang dari kebenaran.
Pesan tersebut bersifat universal dan ditujukan kepada orang-orang beriman sebagai bagian dari upaya menjaga ketakwaan sekaligus memperbaiki amal.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.