Editor
JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK) Siti Ma’rifah menyoroti penyalahgunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk memanipulasi foto teman sekolah menjadi konten seksual.
Menurutnya, tindakan yang merugikan orang lain tersebut perlu diantisipasi melalui pemahaman aturan penggunaan teknologi serta penguatan karakter dan adab anak di ruang digital.
“Ini kan artinya sudah memanipulasi. Ada rekayasa,” ujar Siti dikutip dari MUI Digital, Kamis (1/10/2026).
Baca juga: Menag Nasaruddin: Super AI Tak Punya Moral, Agama Harus Bersuara
Siti menilai, perkembangan teknologi perlu diiringi pemahaman mengenai batasan penggunaannya.
Anak-anak maupun lingkungan pendidikan perlu mengetahui aturan yang harus ditaati ketika menggunakan teknologi dan media sosial.
Siti mengatakan, pengambilan dan penggunaan data atau materi milik orang lain hingga menimbulkan kerugian dapat berkaitan dengan pelanggaran hukum.
Menurutnya, penyalahgunaan tersebut dapat masuk ke ranah Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), bergantung pada bentuk pelanggaran yang terjadi.
Ia pun mendorong penerapan sanksi terhadap pelanggaran agar kasus serupa tidak terus berulang.
“Harus ada sanksi terhadap pelanggar ini agar tidak terus terulang. Di era medsos ini, kita sudah memiliki undang-undang dan peraturan yang harus ditaati,” tuturnya.
Baca juga: Di Tengah Pesatnya AI, Dunia Diingatkan untuk Tetap Menjaga Nilai Kemanusiaan
Selain pemahaman regulasi, Siti menekankan pentingnya pendidikan adab dalam menggunakan teknologi berdasarkan nilai dan ajaran Islam.
Pembahasan mengenai penggunaan teknologi yang ramah anak dan sesuai prinsip Islam akan menjadi bagian dari kegiatan literasi digital yang disiapkan Bidang PRK MUI pada 24 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut akan membahas aspek yang perlu diperkuat dalam menghadapi perkembangan teknologi digital, termasuk aturan dan perilaku penggunanya.
“Dari sisi regulasi maupun dari soal adab, secara prinsip-prinsip ajaran Islam juga akan kita simulasikan,” ujarnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.