KOMPAS.com – Ramadan 1447 Hijriah kembali menghadirkan suasana hangat di Masjid Istiqlal.
Masjid terbesar di Asia Tenggara itu menyiapkan hingga 10.000 porsi makanan berbuka setiap hari bagi jemaah yang datang dari berbagai daerah.
Program ini menjadi agenda rutin tahunan yang selalu dipadati masyarakat. Tidak hanya warga Jakarta, jemaah dari luar kota bahkan luar Pulau Jawa turut meramaikan suasana berbuka di masjid yang berdiri megah di pusat ibu kota tersebut.
Baca juga: Jadwal Buka Puasa Kota Bandung Hari Ini, Jumat 20 Februari 2026
Menteri Agama yang juga Imam Besar Istiqlal, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa kegiatan buka puasa ini terbuka untuk semua kalangan.
“Kegiatan buka puasa di Istiqlal berlangsung rutin. Pada akhir pekan, jumlah jamaah yang berbuka puasa bisa mencapai 7.000–10.000 orang, sedangkan hari biasa sekitar 4.000–5.000 orang. Semuanya kami layani dengan nasi boks,” kata Nasaruddin, dilansir dari Antara, Jumat (20/2/2026).
Ia juga menekankan bahwa Istiqlal ingin menjadi ruang kebersamaan lintas latar belakang.
“Istiqlal siap menjadi rumah bagi seluruh umat beragama selama Ramadhan, tidak hanya bagi kaum Muslim,” ujarnya.
Komitmen itu tampak dari penyediaan fasilitas ramah disabilitas, mulai dari lift, toilet khusus, hingga pengaturan area berbuka dan sahur.
Tradisi berbagi makanan berbuka ini tidak hanya soal konsumsi, melainkan simbol kepedulian sosial yang menjadi ruh bulan suci.
Baca juga: Ramadhan 1447 H, Menag Ajak Perkuat Kesalehan Sosial dan Harmoni Kebangsaan
Tradisi memberi makan orang yang berpuasa memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda,
“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tersebut.” (HR Tirmidzi).
Dalam Al Quran, Allah SWT berfirman:
Wa yuth‘imunath-tha‘aama ‘alaa hubbihii miskiinan wa yatiiman wa asiiraa
Artinya: “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan: 8)
Dalam buku Fiqh Puasa karya Wahbah az-Zuhaili dijelaskan, memberi makan saat berbuka termasuk amalan sosial yang sangat dianjurkan karena menguatkan solidaritas umat dan menumbuhkan empati. Praktik inilah yang coba dihidupkan Istiqlal setiap Ramadan.
Selain buka puasa bersama, Istiqlal juga menyelenggarakan khataman Al Quran dari pagi hingga malam.
Kegiatan edukatif seperti kursus bahasa asing, Inggris, Mandarin, Arab, Persia, Prancis, hingga bahasa Indonesia untuk penutur asing tetap berjalan dan terbuka gratis untuk publik.
Atmosfer religius berpadu dengan semangat intelektual menjadikan Ramadan di Istiqlal terasa berbeda. Inilah daya tarik yang membuat banyak orang penasaran untuk datang langsung.
Baca juga: Aturan Buka Puasa di Transjakarta, KRL, MRT, dan LRT Ramadhan 2026
Bagi masyarakat yang ingin merasakan pengalaman berbuka di Istiqlal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Datang lebih awal menjadi kunci utama. Jemaah disarankan hadir setelah salat Ashar agar mendapat tempat yang nyaman.
Menjelang Magrib, panitia akan membagikan takjil dan nasi kotak secara tertib melalui jalur antrean terpisah antara pria dan wanita.
Tidak ada sistem pendaftaran daring. Siapa pun bisa langsung datang dan mengikuti arahan petugas.
Namun, pada akhir pekan jumlah pengunjung membludak sehingga kedatangan lebih cepat sangat dianjurkan.
Jemaah juga diimbau mengenakan pakaian sopan, membawa perlengkapan ibadah pribadi, menjaga kebersihan, serta mematuhi tata tertib masjid.
Mengingat ribuan orang hadir setiap hari, kedisiplinan menjadi kunci agar semua terlayani dengan baik.
Baca juga: Ide Menu Takjil Kekinian dan Paling Dicari Cocok untuk Buka Puasa
Menggunakan transportasi umum dapat membantu menghindari kemacetan di sekitar kawasan Istiqlal.
Barang bawaan sebaiknya dibawa secukupnya agar tidak menyulitkan saat antre. Jika membawa anak-anak atau lansia, pastikan selalu dalam pengawasan.
Berbuka di Istiqlal bukan sekadar tentang menikmati hidangan gratis. Di tengah ribuan orang yang menanti azan Magrib, ada rasa kebersamaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Suasana hening yang berubah menjadi syukur kolektif saat azan berkumandang menjadi pengalaman spiritual yang membekas.
Ramadan selalu menghadirkan cerita. Dan di Istiqlal, cerita itu hadir dalam ribuan kotak nasi yang dibagikan dengan senyum, doa, dan harapan agar ibadah puasa tahun ini semakin bermakna.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang