Editor
KOMPAS.com - Sekitar 12.000 tahun lalu, kelompok pemburu-peramu pemberani menembus kerasnya gurun Arabia.
Mereka bertahan hidup berkat oasis musiman—genangan air sementara yang juga didatangi hewan liar. Namun mereka tidak sekadar bertahan.
Di tebing-tebing batu, mereka meninggalkan jejak monumental: lebih dari 130 ukiran hewan berukuran asli yang kini ditemukan para arkeolog di Gurun Nafud, Arab Saudi bagian utara.
Penemuan ini membuka bab penting yang lama terlupakan. Selama puncak Zaman Es terakhir (sekitar 20.000 tahun lalu), wilayah pedalaman Arabia dikenal sangat kering dan nyaris tak berpenghuni.
Baca juga: Jejak Kekeringan dan Lahirnya Islam: Studi Baru Ungkap Peran Iklim dalam Sejarah Arab
Tetapi ketika iklim mulai menghangat, danau-danau dangkal musiman (playa) muncul antara 16.000–13.000 tahun lalu. Genangan ini menciptakan “koridor air tawar” yang memungkinkan manusia bergerak, berburu, bahkan menetap sementara di tengah lanskap tandus.
Di tiga lokasi utama—Jebel Arnaan, Jebel Mleiha, dan Jebel Misma—arkeolog mendokumentasikan 176 ukiran pada 62 panel. Sekitar 72 persen figur yang dapat diidentifikasi adalah unta liar, disusul ibex, kuda dan keledai liar, serta gazel.
Hewan-hewan ini adalah fauna khas yang ditemui penghuni gurun saat itu, jauh sebelum domestikasi ternak dikenal.
Salah satu panel paling spektakuler berada di Jebel Misma: 23 ukiran unta dan equid berukuran asli membentang sepanjang 23 meter di tebing setinggi 39 meter.
Untuk mendokumentasikannya, peneliti harus menggunakan drone karena tepian batu tempat seniman purba berdiri—hanya selebar 30–50 sentimeter—kini terlalu rapuh dan berbahaya. Kondisi ekstrem ini menunjukkan bahwa karya tersebut bukan coretan biasa, melainkan tindakan simbolik yang sarat makna dan perencanaan.
Temuan artefak memperkaya kisahnya. Para peneliti menemukan mata panah tipe El Khiam dan bilah Helwan—“sidik jari budaya” khas komunitas Natufian dan Neolitik awal di Levant (kini mencakup Yordania, Israel, dan Suriah).
Bukti ini menandakan adanya kontak lintas wilayah ratusan kilometer jauhnya. Bahkan ditemukan manik-manik batu hijau dan dua manik dari cangkang Dentalium—moluska laut—yang menunjukkan jaringan pertukaran jarak jauh.
Semua ini menggambarkan komunitas pemburu-peramu yang sangat mobile, bergerak mengikuti musim dan ketersediaan air. Mereka mungkin adalah generasi pertama yang kembali menghuni pedalaman Arabia pasca-Zaman Es.
Baca juga: Salju Turun di Arab Saudi, Jabal Al Lawz Berubah Jadi Negeri Musim Dingin
Berbeda dengan komunitas Neolitik Levant yang memahat figur manusia dan membangun struktur komunal, para perintis Arabia ini mengekspresikan identitasnya lewat seni hewan monumental—terutama unta, simbol ketahanan dan kelangsungan hidup di gurun.
Selama lebih dari 12.000 tahun, para “penjaga batu” ini diam menyimpan rahasia. Kini, ukiran-ukiran itu akhirnya mengungkap bahwa gurun yang dulu dianggap tak layak huni pernah menjadi panggung kreativitas dan ketangguhan manusia purba.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang