Editor
KOMPAS.com - Islam awalnya tumbuh di Mekkah, wilayah Arab Saudi modern, pada masa kehidupan Nabi Muhammad SAW pada awal abad ke-6.
Saat itu, kawasan Timur Tengah berada dalam fase Late Antiquity—periode pergolakan politik dan ketegangan antaragama.
Di tengah situasi tersebut, Kerajaan Himyar di Arabia Selatan menjadi salah satu kekuatan penting sebelum akhirnya runtuh, meninggalkan ruang sosial dan politik yang kemudian diisi oleh lahirnya agama baru: Islam.
Kerajaan Himyar awalnya menganut paganisme, lalu beralih pada satu Tuhan dengan elite yang banyak mengadopsi Yudaisme.
Baca juga: Salju Turun di Arab Saudi: Benarkah Tanda Kiamat atau Hanya Perubahan Iklim Global?
Namun menjelang kemunculan Islam, kerajaan ini dilanda kekeringan panjang, konflik politik, serta perang dengan kerajaan tetangga, termasuk Aksum dari Afrika Timur Laut. Tekanan itu membuat Himyar melemah dan akhirnya runtuh.
Jejak kejayaan Himyar masih bisa ditemukan di dataran kering Yaman, dengan sistem irigasi canggih berupa terasering dan bendungan. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa faktor alam—khususnya kekeringan ekstrem—mungkin menjadi pukulan telak bagi kerajaan yang sangat bergantung pada air tersebut.
Tim peneliti yang dipimpin Dominik Fleitmann menganalisis stalagmit dari Gua Al Hoota di Oman. Struktur mineral yang terbentuk dari tetesan air itu menyimpan catatan kimia dan isotop yang merekam kondisi curah hujan masa lampau. Hasilnya menunjukkan periode kekeringan serius yang berlangsung selama beberapa dekade.
“Bahkan dengan mata telanjang Anda dapat melihat dari stalagmit itu bahwa pasti pernah terjadi periode yang sangat kering yang berlangsung selama beberapa dekade,” kata Fleitmann.
Ia menjelaskan, saat air yang menetes berkurang, pertumbuhan stalagmit menyempit—menjadi indikator kuat periode kering panjang.
Karena penanggalan awal hanya presisi sekitar 30 tahun, tim kemudian menggabungkan data iklim dengan sumber sejarah, catatan geologis, dan kajian arkeologis.
“Ini sedikit seperti kasus pembunuhan: kita memiliki sebuah kerajaan yang telah mati dan sedang mencari pelakunya. Selangkah demi selangkah, bukti-bukti membawa kami semakin dekat pada jawabannya,” ujar Fleitmann.
Bagi kerajaan semi-gurun seperti Himyar yang sangat bergantung pada irigasi, kekeringan panjang bisa menjadi pukulan mematikan.
“Air adalah sumber daya yang paling penting. Jelas bahwa penurunan curah hujan, terlebih lagi beberapa tahun kekeringan ekstrem, dapat mengguncang stabilitas sebuah kerajaan semi-gurun yang rentan,” katanya.
Runtuhnya Himyar bukan sekadar akhir sebuah kerajaan, melainkan titik balik sejarah. Para peneliti menyimpulkan, kekeringan ekstrem tersebut mungkin melemahkan ketahanan sosial dan politik Himyar, membuka ruang perubahan besar di Jazirah Arab.
“Kami berpendapat bahwa kekeringan semacam itu melemahkan ketahanan Himyar dan dengan demikian turut berkontribusi pada perubahan sosial yang darinya Islam kemudian muncul,” tulis tim dalam studi itu.
Saat masyarakat menghadapi kelaparan dan perang, kebutuhan akan harapan baru semakin kuat.
Baca juga: Salju Turun di Arab Saudi, Otoritas Keluarkan Peringatan Cuaca Ekstrem
“Penduduk mengalami penderitaan besar akibat kelaparan dan perang. Hal ini membuat Islam menemukan lahan yang subur: masyarakat sedang mencari harapan baru, sesuatu yang dapat mempersatukan mereka kembali sebagai sebuah komunitas. Agama baru itu menawarkan hal tersebut,” kata Fleitmann.
Islam kini memiliki lebih dari dua miliar pengikut di seluruh dunia. Meski kekeringan bukan satu-satunya faktor yang menentukan, penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan iklim ekstrem dapat mengguncang tatanan politik dan membuka jalan bagi transformasi besar dalam sejarah peradaban.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang