Editor
Oleh KH Cholil Nafis PhD
(Wakil Ketua Umum MUI & Ketua Badan Pengurus Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Wasshalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, Sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan puasa dengan sebuah panggilan yang sangat istimewa:
“Ya ayyuhalladzina amanu” — Wahai orang-orang yang beriman.
Panggilan ini bukan tanpa makna. Ia memiliki arti yang sangat mendalam. Allah memanggil hamba-hamba-Nya yang beriman dengan penuh kasih sayang. Artinya, yang akan merespons kewajiban puasa dengan senang dan lapang dada adalah orang-orang yang memiliki iman.
Baca juga: Puasa Ramadhan bagi Ibu Hamil dan Menyusui, Wajib atau Bayar Fidyah?
Maka salah satu cara melihat perkembangan iman dalam diri kita adalah bagaimana perasaan kita terhadap puasa. Jika puasa terasa menyenangkan, menenangkan, dan semakin hari semakin mendalam kebahagiaannya, itu tanda iman sedang tumbuh.
Namun bagi orang yang imannya lemah, puasa terasa berat. Waktu berjalan lambat, ingin segera berbuka, dan merasa terbebani.
Puasa bagi orang beriman adalah madrasatun insaniyah, sekolah kemanusiaan, balai latihan jiwa. Di dalamnya kita dilatih untuk membangun keintiman dengan Allah.
Orang yang berpuasa tidak ada bedanya secara lahir dengan yang tidak berpuasa, kecuali jika ia bercerita. Tidak ada tanda khusus yang terlihat. Tetapi di sisi Allah, ia sangat istimewa. Ia meninggalkan makan dan minum bukan karena tidak ada makanan, tetapi karena iman kepada Allah. Tanpa ada yang melihat, tanpa ada yang tahu.
Bandingkan dengan ibadah lain:
Tetapi puasa adalah ibadah yang sangat personal. Puasa adalah perjalanan mendekatkan diri kepada Allah.
Karena itu, puasa melatih kejujuran. Jika ingin nakal, bisa saja seseorang makan diam-diam. Tidak ada yang tahu. Tetapi ia memilih jujur karena Allah.
Puasa juga melatih kepedulian sosial. Kita merasakan lapar dan dahaga, sehingga memahami penderitaan saudara-saudara kita yang kekurangan.
Sejak zaman para nabi, puasa telah diwajibkan. Nabi Adam berpuasa. Nabi Daud berpuasa sehari dan berbuka sehari. Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim berpuasa pada hari-hari tertentu. Nabi Muhammad SAW sebelum diwajibkan puasa Ramadan, beliau juga berpuasa ayyamul bidh — tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan.
Kemudian Allah mensyariatkan puasa Ramadhan sebagai pelatihan besar selama satu bulan yang nilainya seperti satu tahun. Karena satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali. Maka siapa yang berpuasa Ramadan lalu ditambah enam hari di bulan Syawal, seakan-akan ia berpuasa setahun penuh.
Puasa mengembalikan kita kepada fitrah. Jika diterima oleh Allah, ia melahirkan kesehatan jasmani, kesehatan mental, dan kesehatan ruhani.
Memang, orang bisa berpuasa karena diet, kesehatan, atau alasan lain. Tetapi dalam Islam, puasa selalu diawali dengan panggilan iman: Ya ayyuhalladzina amanu.
Karena tujuan puasa adalah mendekatkan diri kepada Allah.
Ada tiga hal yang tumbuh dalam diri orang yang berpuasa:
Pertama, syauq — rasa rindu kepada Allah
Imam Al-Ghazali menjelaskan tingkatan puasa. Tingkatan tertinggi adalah puasanya orang-orang khusus (khawasul khawas), yaitu mereka yang berpuasa dengan penuh kerinduan kepada Allah, hati dan pikirannya selalu terhubung kepada-Nya.
Tingkatan berikutnya adalah orang yang berpuasa, meninggalkan makan minum dan maksiat, sekadar menjalankan syariat.
Dan tingkatan paling bawah adalah yang hanya meninggalkan makan dan minum tanpa ada penghayatan iman.
Kita berharap puasa kita mencapai derajat syauq — rindu kepada Allah.
Kedua, tumbuhnya nilai kemanusiaan.
Puasa menjadikan kita lebih lembut, lebih ramah, lebih penyayang. Kita berbuat baik bukan semata karena manusia, tetapi karena perintah Allah.
Rasulullah SAW bersabda, “Sayangilah yang di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh yang di langit.”
Ketiga, lahirnya rasa takut kepada Allah (khauf).
Takut yang membuat kita meninggalkan larangan dan melaksanakan perintah-Nya. Takut akan murka-Nya, tetapi di saat yang sama penuh harap kepada rahmat dan ampunan-Nya.
Karena itu, di bulan Ramadan kita banyak membaca doa:
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.
Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai maaf, maka maafkanlah aku.
Sepuluh hari pertama adalah fase turunnya rahmat. Kita sedang membersihkan jiwa, menyucikan hati, menuju Allah Yang Maha Suci.
Allah itu baik, dan Allah mencintai kebaikan.
Baca juga: Ramadhan untuk Pekerja: Checklist Ibadah Harian Biar Konsisten Meski Sibuk
Semoga puasa kita bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi jalan mendekat kepada Allah, melahirkan kerinduan, kasih sayang, dan ketakwaan dalam diri kita.
Mudah-mudahan Allah menerima puasa kita dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang