KOMPAS.com – Otoritas meteorologi Arab Saudi melalui National Center for Meteorology (NCM) memperingatkan potensi cuaca tidak stabil yang akan berlangsung di berbagai wilayah Kerajaan hingga akhir pekan ini dilansir dari Saudi Gazette.
Fenomena ini ditandai dengan badai petir berintensitas variatif, disertai angin kencang, hujan es, hingga potensi banjir bandang di sejumlah titik rawan.
Dalam laporan resminya, NCM menyebut kondisi atmosfer dipengaruhi oleh arus udara turun yang cukup aktif, membawa debu dan pasir dengan kecepatan angin yang dapat melampaui 60 kilometer per jam.
Situasi ini turut meningkatkan risiko gangguan visibilitas, terutama di jalur transportasi darat dan wilayah terbuka.
Salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus adalah Riyadh dan sejumlah wilayah administratif di sekitarnya.
Curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diperkirakan terjadi secara tidak merata, meliputi kawasan permukiman hingga daerah perbukitan.
Beberapa wilayah seperti Diriyah, Al-Kharj, hingga daerah pedesaan seperti Al-Dilam, Al-Hariq, dan Al-Rayn diprediksi mengalami hujan disertai angin kencang.
NCM juga mencatat potensi hujan ringan hingga sedang yang masih dapat berlangsung hingga akhir pekan.
Sementara itu, wilayah lain seperti Wadi Al-Dawasir dan As-Sulayyil juga diperkirakan menghadapi hujan dengan intensitas lebih tinggi, yang berpotensi memicu genangan air di area rendah.
Baca juga: Lomba Sastra Anak Bahasa Arab 2026 Digelar di Italia, Total Hadiah Rp 5 Miliar
Tidak hanya Riyadh, kondisi cuaca ekstrem juga meluas ke wilayah barat Kerajaan. Di kawasan Makkah, hujan diperkirakan mengguyur sejumlah titik penting seperti Taif, Maysan, Adham, hingga Turabah.
Di beberapa wilayah tersebut, hujan diperkirakan bersifat sedang hingga lebat, terutama pada puncak aktivitas atmosfer di pertengahan pekan.
Kondisi ini meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir bandang di lembah dan daerah aliran sungai kering (wadi).
Sementara di wilayah lain seperti Al-Baha dan sebagian kawasan pegunungan Asir, hujan dengan intensitas sedang diperkirakan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.
Laporan NCM juga menunjukkan bahwa cuaca tidak stabil meluas hingga wilayah utara seperti Al-Jouf dan Tabuk, serta kawasan tengah seperti Hail dan Qassim.
Di wilayah ini, hujan diperkirakan datang dengan intensitas sedang hingga lebat secara sporadis.
Di sisi timur, daerah seperti Hafr Al-Batin dan Al-Khafji juga berpotensi mengalami hujan deras disertai angin kencang.
Kondisi ini membuat sebagian wilayah pesisir turut waspada terhadap gelombang laut tinggi yang dapat mengganggu aktivitas pelayaran.
Baca juga: Arab Saudi Hijaukan 1 Juta Hektare Gurun dan Tanam 159 Juta Pohon
Selain hujan, fenomena angin turun (downdraft) menjadi perhatian utama dalam laporan NCM. Angin ini membawa partikel debu dan pasir dalam jumlah besar, menyebabkan badai debu lokal di sejumlah wilayah terbuka.
Dalam kajian meteorologi, fenomena ini dikenal sebagai outflow wind, yang sering muncul bersamaan dengan awan cumulonimbus, awan pembawa hujan lebat dan petir.
Dalam buku Meteorology Today karya C. Donald Ahrens, dijelaskan bahwa kombinasi antara kelembaban tinggi dan ketidakstabilan atmosfer di wilayah gurun dapat memicu badai konvektif yang intens, terutama saat perubahan musim.
NCM mengimbau masyarakat untuk tetap mengikuti pembaruan informasi cuaca melalui kanal resmi, termasuk situs web, media sosial, serta aplikasi peringatan cuaca “Anwaa”.
Warga juga diminta menghindari aktivitas di luar ruangan saat badai berlangsung, terutama di daerah terbuka, lembah, dan jalur wadi yang rawan banjir bandang.
Instruksi ini menjadi penting mengingat karakteristik hujan di wilayah Arab Saudi yang cenderung singkat namun sangat intens, sehingga dapat menyebabkan perubahan kondisi secara cepat.
Baca juga: Arab Saudi Resmi Berlakukan Denda Rp 80 Juta untuk Haji Ilegal 2026
Fenomena hujan lebat di kawasan gurun seperti Arab Saudi bukanlah hal baru, namun intensitas dan sebarannya sering kali mengejutkan.
Dalam kajian klimatologi Timur Tengah, wilayah ini termasuk zona kering yang sesekali mengalami gangguan sistem tekanan udara dari Laut Merah dan Teluk Arab.
Dalam literatur Desert Climates karya Ronald R. Boyer, dijelaskan bahwa interaksi antara udara lembap dari laut dan udara panas dari daratan gurun dapat menciptakan ketidakstabilan atmosfer yang memicu badai petir intens.
Kondisi inilah yang saat ini tengah terjadi di berbagai wilayah Kerajaan.
Dengan kondisi atmosfer yang masih tidak stabil hingga akhir pekan, masyarakat di berbagai wilayah Arab Saudi diharapkan tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang bisa terjadi secara tiba-tiba.
Bagi jutaan penduduk di wilayah terdampak, terutama di kota-kota besar seperti Riyadh dan Makkah, kesiapsiagaan menjadi kunci utama dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem ini.
Di tengah dinamika alam yang terus berubah, peringatan NCM menjadi pengingat bahwa keselamatan selalu bergantung pada kewaspadaan dan kepatuhan terhadap informasi resmi yang dikeluarkan otoritas terkait.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang