Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Sarminiah, Jemaah Haji Tertua dari Kota Yogyakarta yang Berangkat di Usia 85 Tahun

Kompas.com, 17 April 2026, 13:34 WIB
Add on Google
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Sarminiah (85) adalah warga Kota Yogyakarta yang tercatat sebagai jemaah haji tertua yang akan diberangkatkan ke Tanah Suci mulai 21 April 2026 mendatang.

Meski telah berusia lanjut, Sarminiah mengaku siap menunaikan ibadah haji tanpa pendampingan anak-anaknya.

Semangat dan niat yang telah tertanam sejak lama menjadi bekal utamanya menuju Baitullah.

Baca juga: Kisah Pasutri Penjual Gudeg di Sleman, Menabung Sejak 2009 hingga Bisa Berangkat Haji 2026

Bahkan, dirinya tampak masih penuh semangat saat ditemui Tribun Jogja di Balai Kota Yogyakarta usai agenda pamitan haji, Rabu (15/4/2026).

Sarminiah yang merupakan mantan Lurah Keparakan mengatakan dirinya tetap percaya diri berangkat seorang diri karena yakin masih memiliki kemampuan fisik yang cukup.

"Kalau daftar memang sendiri, tapi nanti kan di sana banyak temannya. Anak-anak tidak mendampingi, InsyaAllah saya masih kuat," ungkapnya.

Baca juga: Kisah Dalimin, Calon Jemaah Haji Tertua Asal Klaten yang Keberangkatan Sempat Tertunda karena Sakit

Menunggu Antrean Haji Selama 15 Tahun

Perjalanan Sarminiah menuju ibadah haji tidak berlangsung singkat. Ia tercatat mendaftar haji sejak tahun 2011, tidak lama setelah purna tugas dari jabatannya sebagai Lurah Keparakan.

Keinginan menunaikan rukun Islam kelima itu semakin kuat setelah dirinya sempat menjalani ibadah umrah secara mendadak pada tahun yang sama.

Saat itu, Sarminiah sedang berkunjung ke rumah salah satu saudaranya di Jakarta. Secara tiba-tiba, ia diajak ikut berangkat umrah bersama rombongan keluarga.

"Waktu itu dadakan sekali. Saya pulang ke Yogya pagi untuk ambil pakaian, jam dua siang sudah balik lagi ke Jakarta, besoknya berangkat umrah. Sepulang dari sana, saya langsung daftar haji karena ingin menyempurnakan ibadah," kenangnya.

Namun, panjangnya antrean kuota haji membuat Sarminiah harus menunggu selama 15 tahun hingga akhirnya mendapat panggilan berangkat pada musim haji 2026.

Tetap Bugar di Usia Senja

Salah satu hal yang mencuri perhatian dari sosok Sarminiah adalah kondisi tubuhnya yang masih bugar di usia 85 tahun.

Ia menyebut kebiasaan aktif bergerak dan menjaga pikiran positif menjadi kunci kesehatannya.

Hingga kini, Sarminiah masih rutin mengikuti olahraga ringan bersama ibu-ibu di lingkungan rumah. Ia juga kerap berjalan kaki sendiri ke pasar.

"Makanya, persiapannya tidak ada yang khusus, karena memang suka olahraga rutin. Kadang ingin ke (Pasar) Sentul ya jalan kaki sendiri," tuturnya.

Pesan Agar Tidak Menunda Ibadah Haji

Sebagai jemaah haji tertua dari Kota Yogyakarta, Sarminiah menitipkan pesan kepada masyarakat yang masih menunda atau sedang menunggu giliran berangkat haji.

Menurut dia, apabila niat, kesempatan, dan kemampuan finansial sudah ada, maka sebaiknya ibadah haji tidak perlu ditunda hingga usia lanjut.

"Tidak usah nunggu tua seperti saya. Ada kesempatan, ya haji saja. Saya dulu kan masih kerja, anak masih kecil, jadi harus cari waktu yang tepat. Sekarang mumpung masih diberi umur oleh Allah, saya gunakan untuk beribadah," terangnya.

Tinggal Menghitung Hari Menuju Tanah Suci

Kini Sarminiah tinggal menanti hari keberangkatan menuju Tanah Suci yang selama ini didambakannya.

Dengan bekal doa, kesehatan, dan kemandirian, ia berharap seluruh rangkaian ibadah hajinya berjalan lancar.

Sarminiah juga berharap agar nantinya dapat kembali ke Indonesia dengan predikat haji mabrur.

Artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul "Cerita Sarminiah, Jemaah Haji Tertua Asal Jogja Siap Pergi ke Tanah Suci: InsyaAllah Masih Kuat".

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com