KOMPAS.com - Di sebuah sudut Kota Damaskus, Suriah, berabad-abad silam, hidup seorang penjual sepatu sederhana bernama Ali bin al-Muwaffaq.
Namanya mungkin tidak setenar para ulama besar yang memenuhi lembaran sejarah Islam. Ia bukan seorang penguasa, bukan pula saudagar kaya yang memiliki harta berlimpah.
Namun, kisah hidupnya terus diceritakan dari generasi ke generasi karena mengandung pelajaran mendalam tentang keikhlasan, pengorbanan, dan hakikat ibadah di sisi Allah SWT.
Kisah ini diabadikan dalam buku 198 Kisah Haji Wali-wali Allah karya Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny.
Di dalamnya diceritakan bagaimana seorang penjual sepatu biasa justru memperoleh kemuliaan yang tidak didapatkan oleh ratusan ribu orang yang berangkat ke Tanah Suci pada masanya.
Baca juga: Kisah Haru Jemaah Haji Indonesia, Menangis di Arafah hingga Rindu Peluk Keluarga
Seperti kebanyakan Muslim, Ali bin al-Muwaffaq memiliki impian besar untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah.
Namun, mewujudkan cita-cita tersebut bukan perkara mudah. Kondisi ekonominya yang sederhana membuat ia harus berjuang lebih keras dibandingkan orang-orang yang memiliki kecukupan harta.
Setiap hari ia bekerja membuat dan menjual sepatu untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Dari keuntungan yang diperoleh, sebagian kecil disisihkan untuk tabungan haji. Nilainya mungkin tidak besar, tetapi dilakukan secara konsisten selama puluhan tahun.
Berbagai kebutuhan pribadi kerap ia tunda demi menjaga agar tabungan itu tidak berkurang. Tahun demi tahun berlalu hingga tanpa terasa empat dekade telah terlewati.
Setelah 40 tahun menabung, jumlah uang yang berhasil dikumpulkan mencapai 350 dirham. Pada masa itu, jumlah tersebut cukup untuk membiayai perjalanan menuju Tanah Suci. Impian yang selama ini hanya hadir dalam doa-doanya kini terasa begitu dekat.
Ali membayangkan dirinya akan segera melihat Ka'bah, menunaikan thawaf, berdoa di Arafah, dan menyempurnakan rukun Islam kelima yang telah lama ia dambakan.
Namun, takdir Allah sering kali datang melalui jalan yang tidak pernah disangka manusia.
Suatu hari, ketika keberangkatan haji sudah semakin dekat, istri Ali yang sedang mengandung mencium aroma masakan dari rumah tetangga.
Aroma tersebut begitu menggoda hingga membuatnya berharap bisa mendapatkan sedikit makanan untuk menghilangkan keinginan yang muncul.
Sang istri kemudian meminta Ali mendatangi rumah tetangga itu. Dengan niat baik, Ali pun berangkat dan mengetuk pintu rumah tersebut.
Ia menjelaskan maksud kedatangannya dengan sopan dan berharap bisa memperoleh sedikit makanan untuk istrinya. Namun, yang ia temukan justru membuat hatinya terguncang.
Tetangganya tiba-tiba menangis. Dengan suara lirih dan mata yang berkaca-kaca, pria itu menjelaskan bahwa keluarganya telah mengalami kelaparan selama tiga hari.
Selama waktu tersebut, mereka tidak memiliki makanan yang layak untuk dimakan. Anak-anak di rumah terus menangis karena lapar, sementara sang ayah tidak memiliki apa pun untuk diberikan kepada mereka.
Dalam kondisi putus asa, hari itu ia menemukan seekor keledai yang telah mati. Karena tidak ada pilihan lain untuk menyambung hidup, bangkai hewan tersebut dibawa pulang dan dimasak untuk keluarganya.
"Ini bukan makanan yang halal bagimu," kata tetangga itu kepada Ali bin al-Muwaffaq.
Kalimat sederhana itu terasa menghantam relung hati Ali. Ia berdiri terdiam. Aroma masakan yang sebelumnya dianggap sebagai tanda adanya makanan ternyata menyimpan kisah pilu tentang sebuah keluarga yang sedang berjuang melawan kelaparan.
Baca juga: Kisah Ummu Mihjan, Marbot Perempuan di Masjid Nabawi yang Dimuliakan Rasulullah
Ali pulang ke rumah dengan langkah yang jauh lebih berat daripada saat ia berangkat. Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan.
Di satu sisi, ia telah menunggu selama 40 tahun untuk bisa menunaikan ibadah haji. Uang sebesar 350 dirham yang tersimpan di rumah merupakan hasil kerja keras, pengorbanan, dan kesabaran yang luar biasa panjang.
Namun di sisi lain, ia baru saja menyaksikan penderitaan yang begitu nyata di depan matanya. Bayangan anak-anak yang tidak makan selama berhari-hari terus menghantuinya.
Ia membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang ayah yang tidak mampu memberi makan keluarganya sendiri.
Pergulatan batin itu berlangsung cukup lama. Sampai akhirnya, hati nuraninya memberikan jawaban yang tegas.
Ali mengambil seluruh tabungan hajinya. Tidak sebagian, tidak setengah, tetapi seluruh uang yang telah ia kumpulkan selama empat puluh tahun.
Ia kemudian kembali ke rumah tetangganya dan menyerahkan 350 dirham tersebut.
"Belanjakanlah ini untuk anak-anakmu," katanya.
Tidak ada syarat. Tidak ada perjanjian. Tidak ada harapan untuk mendapatkan balasan. Ali hanya ingin menyelamatkan sebuah keluarga yang sedang berada di ambang keputusasaan.
Dengan keputusan itu, impian hajinya seakan sirna. Secara lahiriah, kesempatan yang ia tunggu selama puluhan tahun harus dilepaskan begitu saja.
Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang ulama besar bernama Abdullah bin al-Mubarak sedang berada di Makkah untuk menunaikan ibadah haji.
Sosok yang dikenal sebagai ahli hadits dan ulama zuhud tersebut kemudian mengalami sebuah mimpi yang menggemparkan.
Setelah seluruh rangkaian ibadah haji selesai, Abdullah bin al-Mubarak tertidur dan bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit.
Dalam mimpinya, kedua malaikat itu berbincang mengenai para jemaah haji yang datang pada tahun tersebut.
"Berapa jumlah orang yang berhaji tahun ini?" tanya salah satu malaikat.
"Enam ratus ribu orang," jawab malaikat lainnya.
Kemudian malaikat pertama kembali bertanya, "Berapa banyak di antara mereka yang diterima hajinya?"
Jawaban yang muncul membuatnya terkejut.
"Tidak ada satu pun."
Malaikat pertama tidak percaya dengan jawaban itu. Bagaimana mungkin ratusan ribu orang yang datang dari berbagai penjuru dunia, menempuh perjalanan panjang, menghabiskan biaya besar, dan menghadapi berbagai kesulitan ternyata tidak ada yang diterima?
Lalu malaikat kedua melanjutkan penjelasannya.
"Ada satu orang yang hajinya diterima."
"Siapa dia?" tanya malaikat pertama.
"Ali bin al-Muwaffaq, seorang penjual sepatu dari Damaskus."
Malaikat pertama kembali bertanya dengan heran.
"Bukankah dia tidak datang berhaji?"
Malaikat kedua menjawab, "Dia memang tidak datang ke Makkah. Namun karena amal dan keikhlasannya, Allah menerima hajinya dan mengampuni seluruh dosanya."
Baca juga: Kisah Uwais Al-Qarni Masa Kini: Anak Dorong Kursi Roda Ibu untuk Jalani Ibadah Haji di Tanah Suci
Abdullah bin al-Mubarak terbangun dengan tubuh gemetar. Mimpi itu terasa begitu nyata hingga sulit dilupakan.
Setelah kembali dari Makkah, ia memutuskan pergi ke Damaskus untuk mencari sosok yang disebut dalam mimpinya.
Pencarian itu akhirnya membawanya kepada seorang penjual sepatu sederhana bernama Ali bin al-Muwaffaq.
Ketika Abdullah bin al-Mubarak bertanya tentang kehidupannya, Ali menceritakan seluruh peristiwa yang telah terjadi.
Ia menjelaskan bagaimana dirinya mengumpulkan uang selama 40 tahun untuk berhaji, lalu menyerahkan seluruh tabungannya kepada tetangga yang kelaparan.
Saat itulah Abdullah bin al-Mubarak memahami makna mimpi yang ia lihat di Tanah Suci.
Kisah Ali bin al-Muwaffaq bukanlah dalil bahwa seseorang boleh meninggalkan kewajiban haji ketika sudah mampu.
Haji tetap merupakan rukun Islam yang wajib ditunaikan bagi mereka yang memiliki kemampuan.
Namun, kisah ini mengajarkan bahwa Allah tidak hanya melihat bentuk lahir suatu ibadah, tetapi juga ketulusan hati yang melandasinya.
Dalam banyak kitab tasawuf dan akhlak, para ulama menjelaskan bahwa membantu sesama yang sedang berada dalam kondisi darurat termasuk amal yang memiliki nilai sangat tinggi di sisi Allah SWT.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin juga menekankan bahwa ruh ibadah terletak pada keikhlasan dan kebersihan hati, bukan semata-mata pada bentuk lahiriah amal tersebut.
Ali bin al-Muwaffaq mungkin tidak pernah menginjakkan kaki di Arafah. Ia tidak sempat melihat Ka'bah yang selama puluhan tahun dirindukannya.
Namun, pengorbanan yang lahir dari kasih sayang kepada sesama ternyata mengantarkannya pada kemuliaan yang bahkan membuat namanya dikenang hingga berabad-abad kemudian.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa jalan menuju ridha Allah terkadang hadir melalui cara yang tidak pernah dibayangkan manusia.
Bukan hanya melalui ibadah yang terlihat besar di mata banyak orang, tetapi juga melalui kepedulian tulus kepada mereka yang sedang membutuhkan pertolongan.
Di situlah letak keindahan Islam yang sesungguhnya, yaitu menghadirkan cinta kepada Allah melalui cinta kepada sesama manusia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang