Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Wasekjen PBNU: Saya Pesimis, Konflik Elite NU Bikin Anak Muda Makin Jauh

Kompas.com, 2 Juni 2026, 16:00 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Rahmat Hidayat Pulungan mengaku pesimistis terhadap masa depan Nahdlatul Ulama (NU) apabila konflik di kalangan elite organisasi terus berlanjut.

Menurutnya, berbagai polemik yang muncul di ruang publik berpotensi membuat generasi muda semakin menjauh dari organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Rahmat saat berbicara mengenai tantangan regenerasi dan masa depan NU di tengah perubahan sosial masyarakat Indonesia.

Ia menilai konflik yang berkepanjangan tidak hanya berdampak pada citra organisasi saat ini, tetapi juga dapat menghambat upaya kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan pada masa mendatang.

“Kalau ditanya optimis atau tidak, saya pesimis sejujurnya. Karena konstruksi berpikir orang-orang tua di NU ini belum berubah. Mereka masih menggunakan paradigma lama dalam membaca peta sosial yang baru di Indonesia,” kata Rahmat di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Baca juga: Wasekjen PBNU: Jika Gus Dur Masih Hidup, Beliau Pasti Kritik NU Saat Ini

Menurut dia, masyarakat Indonesia saat ini telah mengalami perubahan besar dibandingkan beberapa dekade lalu.

Jika sebelumnya basis utama NU berada di lingkungan pedesaan yang cenderung lebih loyal terhadap organisasi, kini masyarakat semakin beragam dengan tumbuhnya kelompok urban dan perkotaan yang lebih kritis terhadap berbagai isu publik.

Rahmat menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia saat ini terdiri atas sekitar 20 persen masyarakat perkotaan, 40 persen masyarakat urban, dan 40 persen masyarakat pedesaan.

Kelompok masyarakat urban dan perkotaan, kata dia, memiliki karakter yang berbeda karena lebih terbuka terhadap informasi dan memiliki akses luas untuk menilai berbagai dinamika yang terjadi di dalam organisasi.

“Konflik yang muncul di PBNU hari ini menjadi pertanyaan bagi masyarakat kota dan masyarakat urban. Mereka jauh lebih kritis, lebih terbuka, lebih terdidik, dan bisa mencari kebenaran dari banyak sumber,” ujarnya.

Ia menilai kondisi tersebut membuat konflik internal yang terbuka di ruang publik semakin mudah diketahui masyarakat luas.

Akibatnya, citra organisasi dapat terpengaruh dan menimbulkan persepsi negatif di kalangan generasi muda.

Rahmat mengatakan anak-anak muda saat ini membutuhkan figur, keteladanan, dan panduan moral yang dapat dijadikan acuan.

Namun ketika mereka melihat para elite organisasi lebih sering terlibat konflik daripada memberikan teladan, minat untuk bergabung dan aktif dalam organisasi menjadi berkurang.

“Anak-anak muda butuh panutan, butuh figur, dan butuh panduan. Ketika mereka melihat yang di atas terlalu sering ribut dan terlalu sering konflik di ruang publik, mereka jadi malas,” ungkapnya.

Baca juga: Gus Yahya: Pemimpin Baru NU Masa Depan Harus Paham Isu Global

Menurut Rahmat, kondisi ini menjadi tantangan serius bagi NU yang selama ini dikenal sebagai organisasi Islam dengan basis massa terbesar di Indonesia.

Jika konflik tidak segera dikelola dengan baik, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh kepengurusan saat ini, tetapi juga oleh generasi muda yang akan memimpin organisasi pada masa depan.

Ia menyebut berbagai konflik yang terjadi saat ini berpotensi menjadi beban bagi generasi penerus NU.

Sebab, mereka harus bekerja lebih keras untuk memulihkan kepercayaan publik dan menarik kembali minat anak muda terhadap organisasi.

“Konflik yang diciptakan atau yang berkepanjangan hari ini menjadi beban bagi generasi muda NU ke depan. Mereka yang nantinya harus menanggung dampaknya,” jelas Rahmat.

Selain menyoroti konflik internal, Rahmat juga mengkritik pendekatan organisasi yang menurutnya belum sepenuhnya mampu menyesuaikan diri dengan perubahan sosial yang terjadi di masyarakat.

Ia menilai sebagian elite masih menggunakan cara pandang lama dalam mengelola organisasi, sementara karakter masyarakat sudah berubah secara signifikan.

Menurut dia, NU membutuhkan lebih banyak ruang bagi generasi muda untuk berperan dalam proses pengambilan keputusan dan arah organisasi ke depan.

Hal itu penting agar NU mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat modern, terutama kalangan muda dan masyarakat urban.

“Kalau PBNU mau lebih mudah menyesuaikan diri dengan keadaan hari ini, PBNU harus diisi oleh generasi muda,” ucapnya.

Baca juga: Tanpa Meritokrasi di NU, Gus Yahya: Semua Orang Bisa Lompat ke Puncak

Rahmat juga menilai organisasi perlu menghadirkan program-program yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Salah satu yang ia soroti adalah perlunya penguatan sektor pendidikan, khususnya melalui pengembangan sekolah-sekolah unggulan yang dapat menjangkau masyarakat urban.

Menurutnya, langkah semacam itu akan lebih efektif dalam membangun kedekatan dengan generasi muda dibandingkan hanya mengandalkan pendekatan organisasi yang bersifat formal.

Lebih lanjut, Rahmat mengingatkan bahwa NU saat ini telah menjadi entitas publik yang dinilai berdasarkan kontribusi nyata, bukan semata-mata karena sejarah panjang organisasi atau jasa para pendirinya.

Karena itu, ia menilai seluruh elemen organisasi harus mulai menyesuaikan diri dengan standar dan ekspektasi publik yang terus berkembang.

“NU sekarang sudah menjadi entitas publik. Publik tidak lagi melihat siapa leluhurnya atau apa sejarahnya. Yang dilihat adalah apa kontribusinya, apa yang sudah dikerjakan untuk masyarakat,” ujarnya.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Rahmat berharap NU mampu melakukan evaluasi dan pembenahan secara menyeluruh.

Ia menilai organisasi masih memiliki modal sosial yang besar dan basis jamaah yang kuat, namun hal itu harus diimbangi dengan kemampuan membaca perubahan zaman.

Menurut dia, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengurangi konflik internal yang tidak produktif dan memperkuat konsolidasi organisasi agar kepercayaan publik, terutama generasi muda, dapat kembali terbangun.

“Jangan sampai anak-anak muda semakin jauh karena mereka melihat konflik yang terus berulang. Itu yang harus menjadi perhatian bersama,” tegas Rahmat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com