Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Benarkah Bulan Safar Membawa Kesialan? Ini Penjelasan Hadits dan Ulama

Kompas.com, 20 Juli 2026, 19:30 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber MUI

KOMPAS.com - Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharam.

Meski demikian, sebagian masyarakat masih mengaitkannya dengan kesialan, bencana, penyakit, hingga berbagai musibah.

Keyakinan tersebut telah diwariskan secara turun-temurun dan masih memengaruhi sebagian tradisi di berbagai daerah.

Baca juga: 10 Peristiwa Penting di Bulan Safar dalam Sejarah Islam, dari Hijrah Rasulullah hingga Penaklukan Khaibar

Padahal, ajaran Islam menegaskan bahwa tidak ada bulan atau waktu tertentu yang secara hakiki membawa kesialan.

Bulan Safar Bukan Bulan Sial

Dilansir dari laman MUI, anggapan bahwa bulan Safar identik dengan kesialan bukan berasal dari ajaran Islam, melainkan dari tradisi masyarakat Arab Jahiliyah.

Baca juga: 3 Amalan Bulan Safar yang Dianjurkan dalam Islam Lengkap dengan Dalilnya

Kepercayaan tersebut kemudian menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Indonesia. Akibatnya, masih ada sebagian orang yang enggan melangsungkan pernikahan, memulai usaha, bepergian, atau mengadakan kegiatan penting pada bulan Safar karena khawatir tertimpa musibah atau mengalami kegagalan.

Padahal, Rasulullah SAW telah membantah keyakinan tersebut melalui sabdanya:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَر

Artinya: “Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula tanda kesialan, tidak pula burung (tanda kesialan), dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar.” (HR Al-Bukhari)

Hadits tersebut menolak berbagai keyakinan masyarakat Arab Jahiliyah mengenai penyakit, pertanda buruk, maupun anggapan bahwa bulan Safar membawa kesialan.

Makna Bulan Safar Menurut Imam An-Nawawi

Dalam Syarh Shahih Muslim, Imam An-Nawawi mengutip pendapat Imam Malik dan Abu 'Ubaidah yang menjelaskan bahwa kata Safar dalam hadits tersebut tidak selalu bermakna nama bulan.

Menurut mereka, Safar juga dapat dimaknai sebagai makhluk kecil menyerupai cacing yang diyakini masyarakat Arab dahulu hidup di dalam perut manusia.

Masyarakat Arab ketika itu percaya makhluk tersebut akan bergerak saat seseorang lapar, bahkan dapat menyebabkan kematian. Mereka juga meyakini penyakit itu lebih mudah menular daripada penyakit kudis.

قَالَ مَالِكٌ وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَالثَّانِي أَنَّ الصَّفَرَ دَوَابٌّ فِي الْبَطْنِ وَهِيَ دُودٌ وَكَانُوا يَعْتَقِدُونَ أَنَّ فِي الْبَطْنَ دَابَّةً تَهِيجُ عِنْدَ الْجُوعِ وَرُبَّمَا قَتَلَتْ صَاحِبَهَا وَكَانَتِ الْعَرَبُ تَرَاهَا أَعْدَى مِنَ الْجَرَبِ وَهَذَا التَّفْسِيرُ هُوَ الصَّحِيحُ

“Imam Malik dan Abu ‘Ubaidah berkata: ‘Penafsiran kedua menyatakan bahwa Safar adalah binatang-binatang kecil berupa cacing yang berada di dalam perut. Masyarakat Arab dahulu meyakini bahwa di dalam perut terdapat makhluk yang akan bergejolak ketika seseorang lapar dan terkadang dapat membunuh seseorang. Mereka menganggap penyakit itu lebih mudah menular daripada penyakit kudis. Penafsiran inilah yang paling benar.’” (Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim, Beirut: Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi, jilid 14, hlm. 213).

Berdasarkan penjelasan tersebut, hadits di atas juga dipahami sebagai bantahan terhadap keyakinan masyarakat Arab bahwa makhluk di dalam perut dapat menyebabkan penyakit dan kematian dengan kekuatannya sendiri.

Syekh Musa Syahin Lasyin: Kematian Terjadi Atas Kehendak Allah

Penjelasan serupa disampaikan Syekh Dr. Musa Syahin Lasyin dalam Fath al-Mun'im Syarh Shahih Muslim.

Menurutnya, peniadaan kata Safar dalam hadits bukan berarti menolak adanya penyakit, melainkan membantah keyakinan bahwa penyakit atau makhluk tersebut mampu mendatangkan kematian dengan sendirinya.

Sebab, hidup dan mati manusia sepenuhnya berada dalam ketetapan Allah SWT.

فَالْمُرَادُ بِالنَّفْيِ نَفْيُ مَا كَانُوا يَعْتَقِدُونَ مِنْ دَوَابَّ قَاتِلَةٍ تَكُونُ فِي الْبَطْنِ، فَكَأَنَّهُ قَالَ: لَا حَقِيقَةَ لِمَا تَعْتَقِدُونَ مِنْ ذَلِكَ وَإِنَّمَا الْمَوْتُ بِفِعْلِ اللَّهِ تَعَالَى إِذَا فَرَغَ الْأَجَلُ

“Maksud peniadaan dalam hadits ini adalah menolak keyakinan mereka tentang adanya makhluk mematikan di dalam perut. Seakan-akan hadits itu menyatakan: ‘Keyakinan kalian mengenai hal tersebut tidak memiliki dasar kebenaran.’ Kematian hanya terjadi atas kehendak Allah ketika ajal seseorang telah tiba.” (Fath al-Mun'im Syarh Shahih Muslim, Kairo: Dar ash-Shuruq, jilid 8, hlm. 616).

Menganggap Safar Bulan Sial Termasuk Tiyarah

Selain dimaknai sebagai penyakit atau makhluk di dalam perut, para ulama juga menjelaskan bahwa kata Safar dalam hadits merupakan penolakan terhadap anggapan bahwa bulan Safar membawa kesialan.

Syekh Isma'il Haqqi bin Mustafa al-Istanbuli al-Hanafi menegaskan bahwa mengaitkan kesialan dengan waktu tertentu termasuk bentuk tiyarah, yaitu keyakinan terhadap pertanda buruk yang dilarang dalam syariat.

وَكَثِيرٌ مِنَ الْجُهَّالِ يَتَشَاءَمُ مِنْ صَفَرٍ وَرُبَّمَا يَنْهَى عَنِ السَّفَرِ، وَالتَّشَاؤُمُ بِصَفَرٍ هُوَ مِنْ جِنْسِ الطِّيَرَةِ الْمَنْهِيِّ عَنْهَا... فَتَخْصِيصُ الشُّؤْمِ بِزَمَانٍ دُونَ زَمَانٍ كَصَفَرٍ أَوْ غَيْرِهِ، غَيْرُ صَحِيحٍ. وَإِنَّمَا الزَّمَانُ كُلُّهُ خَلْقُ اللَّهِ تَعَالَى وَفِيهِ تَقَعُ أَعْمَالُ بَنِي آدَمَ، فَكُلُّ زَمَانٍ اشْتَغَلَ فِيهِ الْمُؤْمِنُ بِطَاعَةِ اللَّهِ فَهُوَ زَمَانٌ مُبَارَكٌ عَلَيْهِ، وَكُلُّ زَمَانٍ اشْتَغَلَ فِيهِ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ فَهُوَ مَشْؤُومٌ عَلَيْهِ، فَالشُّؤْمُ فِي الْحَقِيقَةِ هُوَ الْمَعْصِيَةُ

“Banyak orang awam menganggap bulan Safar sebagai pertanda buruk, bahkan terkadang melarang orang bepergian pada bulan tersebut. Menganggap bulan Safar sebagai bulan sial termasuk dalam kategori tiyarah, yaitu keyakinan terhadap pertanda buruk yang telah dilarang. Mengkhususkan kesialan pada waktu tertentu, seperti bulan Safar atau waktu lainnya, merupakan anggapan yang tidak benar. Seluruh waktu merupakan ciptaan Allah dan di dalamnya berlangsung berbagai perbuatan manusia. Setiap waktu yang diisi seorang mukmin dengan ketaatan kepada Allah merupakan waktu yang penuh berkah baginya. Sebaliknya, setiap waktu yang diisinya dengan kemaksiatan kepada Allah menjadi waktu yang membawa keburukan baginya. Sehingga, kesialan yang sebenarnya adalah kemaksiatan.” (Tafsir Ruh al-Bayan, Beirut: Dar al-Fikr, jilid 3, hlm. 515).

Tidak Ada Bulan yang Membawa Kesialan

Penjelasan hadits dan pendapat para ulama menunjukkan bahwa tidak ada waktu yang secara zatnya membawa kesialan, termasuk bulan Safar.

Karena itu, tidak ada dasar dalam Islam untuk menunda pernikahan, membatalkan perjalanan, menghindari memulai usaha, atau menolak melakukan aktivitas penting hanya karena bertepatan dengan bulan Safar.

Kesialan bukan terletak pada bulan atau waktu tertentu, melainkan pada perbuatan manusia yang menjauh dari ketaatan kepada Allah SWT.

Dengan demikian, anggapan bahwa bulan Safar membawa musibah merupakan warisan kepercayaan masyarakat Arab Jahiliyah yang telah dibantah secara tegas oleh Rasulullah SAW.

Seorang Muslim seharusnya menghindari kemaksiatan dan keyakinan terhadap mitos yang bertentangan dengan akidah, bukan menganggap bulan Safar sebagai bulan yang membawa kesialan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Zubair bin Al-Awwam, Hawari Rasulullah yang Dijuluki Pembela Nabi
Zubair bin Al-Awwam, Hawari Rasulullah yang Dijuluki Pembela Nabi
Aktual
Apa yang Diucapkan Saat Bersin? Ini Sunnah Rasulullah Lengkap
Apa yang Diucapkan Saat Bersin? Ini Sunnah Rasulullah Lengkap
Aktual
Doa Meminta Hujan, Termasuk untuk Dibaca Saat Khutbah Shalat Istisqa
Doa Meminta Hujan, Termasuk untuk Dibaca Saat Khutbah Shalat Istisqa
Aktual
Profil KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor
Profil KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor
Aktual
Menag Akan Tertibkan Pesantren yang Cuma Catut Nama, Soroti Kepatuhan Unsur dan Syarat
Menag Akan Tertibkan Pesantren yang Cuma Catut Nama, Soroti Kepatuhan Unsur dan Syarat
Aktual
Libur Lebaran 2027 Bisa Sampai 10 Hari, Ini Rangkaian Tanggal Merah dan Cuti Bersamanya
Libur Lebaran 2027 Bisa Sampai 10 Hari, Ini Rangkaian Tanggal Merah dan Cuti Bersamanya
Aktual
 Mengapa Membaca Al-Quran Setelah Subuh Memiliki Keutamaan?
Mengapa Membaca Al-Quran Setelah Subuh Memiliki Keutamaan?
Aktual
ITB Bangun Hunian dan Musala Pascabencana di Bireuen, Rangka Berdiri dalam 3 Jam
ITB Bangun Hunian dan Musala Pascabencana di Bireuen, Rangka Berdiri dalam 3 Jam
Aktual
Kapan Doa Saat Hujan Paling Mustajab? Ini Dalil dan Penjelasannya
Kapan Doa Saat Hujan Paling Mustajab? Ini Dalil dan Penjelasannya
Aktual
Wamendikdasmen ke Mahasiswa UMB: Kuliah Bukan Hanya untuk Mendapatkan Ijazah
Wamendikdasmen ke Mahasiswa UMB: Kuliah Bukan Hanya untuk Mendapatkan Ijazah
Aktual
Mana yang Didahulukan, Menjawab Salam atau Bersalaman? Ini Adabnya
Mana yang Didahulukan, Menjawab Salam atau Bersalaman? Ini Adabnya
Aktual
Apa Itu Mindfulness? Bukan Sekadar Menenangkan Diri
Apa Itu Mindfulness? Bukan Sekadar Menenangkan Diri
Aktual
Tekan Biaya Haji 2027, Kemenhaj Pertimbangkan Maskapai Alternatif
Tekan Biaya Haji 2027, Kemenhaj Pertimbangkan Maskapai Alternatif
Aktual
Dua Jemaah Haji Asal Lamongan dan Tangerang Masih Dirawat di Arab Saudi
Dua Jemaah Haji Asal Lamongan dan Tangerang Masih Dirawat di Arab Saudi
Aktual
Kemenag Buka Pendaftaran Insentif Dosen Non-ASN Ma’had Aly Rp 1 Juta per Bulan
Kemenag Buka Pendaftaran Insentif Dosen Non-ASN Ma’had Aly Rp 1 Juta per Bulan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar