Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Membaca Al-Quran Setelah Subuh Memiliki Keutamaan?

Kompas.com, 22 September 2026, 15:49 WIB
Puji Sri Rahayu,
Reni Susanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Banyak ulama menganjurkan umat Islam membiasakan membaca Al-Qur'an setelah menunaikan shalat Subuh.

Anjuran ini bukan tanpa dasar, sebab waktu fajar memiliki keistimewaan yang disebut langsung dalam Al-Qur'an sebagai waktu ketika bacaan Al-Qur'an disaksikan oleh para malaikat.

Di tengah kesibukan yang dimulai sejak pagi, meluangkan beberapa menit untuk tilawah setelah Subuh menjadi salah satu amalan yang mampu menghadirkan ketenangan hati sekaligus mengawali hari dengan mengingat Allah SWT.

Keutamaan ini diperkuat oleh ayat Al-Qur'an dan sejumlah hadis sahih tentang waktu Subuh.

Al-Qur'an Menyebut Bacaan Fajar Disaksikan Malaikat

Dalil utama mengenai keutamaan membaca Al-Qur'an setelah Subuh terdapat dalam Surah Al-Isra ayat 78. Ayat ini menyebut istilah Qur'anal-fajr, yaitu bacaan Al-Qur'an pada waktu fajar.

Baca juga: Kapan Doa Saat Hujan Paling Mustajab? Ini Dalil dan Penjelasannya

Allah berfirman dalam QS Al-Isra Ayat 78:

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

Aqimiṣ-ṣalāta lidulūkisy-syamsi ilā ghasaqil-laili wa qur'ānal-fajr, inna qur'ānal-fajri kāna masyhūdā.

Artinya: “Laksanakanlah shalat sejak matahari tergelincir sampai gelap malam dan laksanakan pula shalat Subuh. Sungguh, bacaan pada waktu Subuh itu disaksikan.”

Mayoritas mufasir menjelaskan bahwa yang dimaksud Qur'anal-fajr adalah bacaan Al-Qur'an dalam shalat Subuh.

Namun, ayat ini juga menunjukkan kemuliaan waktu fajar sebagai waktu yang dipenuhi keberkahan sehingga para ulama menganjurkan memperbanyak tilawah setelah shalat Subuh.

Baca juga: Wamendikdasmen ke Mahasiswa UMB: Kuliah Bukan Hanya untuk Mendapatkan Ijazah

Mengapa Disebut “Disaksikan”?

Rasulullah SAW menjelaskan makna ayat tersebut melalui hadis tentang pergantian malaikat siang dan malam. Pada waktu Subuh, kedua kelompok malaikat berkumpul sehingga menjadi waktu yang istimewa.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA

يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ، وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ

Yata‘āqabūna fīkum malā'ikatun billaili wa malā'ikatun bin-nahār, wa yajtami‘ūna fī ṣalātil-fajri wa ṣalātil-‘aṣr.

Artinya: “Para malaikat bergantian menjaga kalian pada malam dan siang hari, dan mereka berkumpul pada shalat Subuh dan shalat Ashar.” (HR Sahih al-Bukhari No. 555; Sahih Muslim No. 632)

Baca juga: Apa Itu Mindfulness? Bukan Sekadar Menenangkan Diri

Hadis ini menjadi penjelasan mengapa waktu Subuh disebut sebagai waktu yang disaksikan.

Pergantian malaikat menjadikan momen tersebut penuh keberkahan sehingga ibadah pada waktu itu memiliki keutamaan tersendiri.

Mengawali Hari dengan Tilawah

Membaca Al-Qur'an setelah Subuh memiliki hikmah yang mendalam. Pada pagi hari, pikiran masih jernih, suasana relatif tenang, dan hati lebih mudah menghadirkan kekhusyukan dibandingkan ketika aktivitas harian telah dimulai.

Karena itu, banyak ulama salaf membiasakan tilawah pada waktu fajar sebagai bagian dari wirid harian.

Tujuannya bukan sekadar menyelesaikan target bacaan, melainkan memahami ayat-ayat Allah sebelum memulai pekerjaan dan aktivitas dunia.

Baca juga: Dua Jemaah Haji Asal Lamongan dan Tangerang Masih Dirawat di Arab Saudi

Duduk Berzikir Setelah Subuh Juga Dianjurkan

Selain tilawah, Rasulullah SAW juga menganjurkan tetap berada di tempat shalat untuk berzikir hingga matahari terbit.

Hadis ini menunjukkan besarnya keutamaan memanfaatkan waktu setelah Subuh untuk ibadah.

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ

Man ṣallal-ghadāta fī jamā‘atin ṡumma qa‘ada yażkurullāha ḥattā taṭlu‘asy-syamsu ṡumma ṣallā rak‘ataini kānat lahū ka-ajri ḥajjah wa ‘umrah.

Artinya: “Barang siapa melaksanakan shalat Subuh berjamaah, kemudian duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit lalu shalat dua rakaat, maka baginya pahala seperti haji dan umrah.” (HR Jami’ at-Tirmidzi No. 586). 

Baca juga: Dua Jemaah Haji Asal Lamongan dan Tangerang Masih Dirawat di Arab Saudi

Tilawah Al-Qur'an termasuk bentuk zikir yang paling utama, sehingga membaca Al-Qur'an setelah Subuh menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam rentang waktu penuh keberkahan tersebut.

Berapa Lama Sebaiknya Membaca Al-Qur'an?

Islam tidak menetapkan jumlah ayat tertentu yang wajib dibaca setelah Subuh. Ada yang membaca satu halaman, satu juz, atau sekadar beberapa ayat dengan penuh tadabbur.

Yang lebih utama adalah menjaga konsistensi daripada mengejar jumlah tetapi tidak berkelanjutan.

Membaca Al-Qur'an dengan memahami maknanya juga lebih mendekatkan seorang Muslim kepada petunjuk Allah.

Karena itu, meluangkan 10–20 menit setiap pagi dapat menjadi kebiasaan sederhana yang membawa dampak besar bagi kualitas spiritual seseorang.

Baca juga: Muhammadiyah: Kemajuan Umat Harus Dimulai dari Masjid hingga Kemandirian Ekonomi

Jadikan Subuh sebagai Awal Hari yang Penuh Berkah

Waktu Subuh bukan hanya awal dimulainya aktivitas, tetapi juga awal terbaik untuk membangun hubungan dengan Al-Qur'an.

Ayat Al-Isra menegaskan bahwa bacaan pada waktu fajar disaksikan, sementara hadis Rasulullah SAW menjelaskan bahwa para malaikat berkumpul pada shalat Subuh.

Karena itu, biasakan tidak terburu-buru meninggalkan sajadah setelah shalat. Isi pagi dengan tilawah, zikir, dan doa agar hari dimulai dengan ketenangan hati serta keberkahan yang diajarkan Rasulullah SAW. 

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
 Mengapa Membaca Al-Quran Setelah Subuh Memiliki Keutamaan?
Mengapa Membaca Al-Quran Setelah Subuh Memiliki Keutamaan?
Aktual
ITB Bangun Hunian dan Musala Pascabencana di Bireuen, Rangka Berdiri dalam 3 Jam
ITB Bangun Hunian dan Musala Pascabencana di Bireuen, Rangka Berdiri dalam 3 Jam
Aktual
Kapan Doa Saat Hujan Paling Mustajab? Ini Dalil dan Penjelasannya
Kapan Doa Saat Hujan Paling Mustajab? Ini Dalil dan Penjelasannya
Aktual
Wamendikdasmen ke Mahasiswa UMB: Kuliah Bukan Hanya untuk Mendapatkan Ijazah
Wamendikdasmen ke Mahasiswa UMB: Kuliah Bukan Hanya untuk Mendapatkan Ijazah
Aktual
Mana yang Didahulukan, Menjawab Salam atau Bersalaman? Ini Adabnya
Mana yang Didahulukan, Menjawab Salam atau Bersalaman? Ini Adabnya
Aktual
Apa Itu Mindfulness? Bukan Sekadar Menenangkan Diri
Apa Itu Mindfulness? Bukan Sekadar Menenangkan Diri
Aktual
Tekan Biaya Haji 2027, Kemenhaj Pertimbangkan Maskapai Alternatif
Tekan Biaya Haji 2027, Kemenhaj Pertimbangkan Maskapai Alternatif
Aktual
Dua Jemaah Haji Asal Lamongan dan Tangerang Masih Dirawat di Arab Saudi
Dua Jemaah Haji Asal Lamongan dan Tangerang Masih Dirawat di Arab Saudi
Aktual
Kemenag Buka Pendaftaran Insentif Dosen Non-ASN Ma’had Aly Rp 1 Juta per Bulan
Kemenag Buka Pendaftaran Insentif Dosen Non-ASN Ma’had Aly Rp 1 Juta per Bulan
Aktual
Prabowo Kutip Al-Baqarah Ayat 191, Apa Makna “Fitnah” Sebenarnya?
Prabowo Kutip Al-Baqarah Ayat 191, Apa Makna “Fitnah” Sebenarnya?
Aktual
Muhammadiyah: Kemajuan Umat Harus Dimulai dari Masjid hingga Kemandirian Ekonomi
Muhammadiyah: Kemajuan Umat Harus Dimulai dari Masjid hingga Kemandirian Ekonomi
Aktual
Biaya Penerbangan Haji Diupayakan Turun, BPIH Berpotensi Lebih Rendah
Biaya Penerbangan Haji Diupayakan Turun, BPIH Berpotensi Lebih Rendah
Aktual
Sheikh Ibrahim Al-Madani, Muazin Masjidil Haram Wafat di Usia 51 Tahun
Sheikh Ibrahim Al-Madani, Muazin Masjidil Haram Wafat di Usia 51 Tahun
Aktual
Keffiyeh: Sejarah, Jenis, Pola, Cara Pakai, dan Simbol Solidaritas Palestina
Keffiyeh: Sejarah, Jenis, Pola, Cara Pakai, dan Simbol Solidaritas Palestina
Aktual
Hukum Makmum Masbuk Menjadi Imam untuk Jamaah Baru, Apakah Boleh? Ini Penjelasannya
Hukum Makmum Masbuk Menjadi Imam untuk Jamaah Baru, Apakah Boleh? Ini Penjelasannya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar