KOMPAS.com - Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Waluyo menegaskan, kemajuan umat Islam tidak dapat dibangun hanya melalui pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik.
Menurutnya, peradaban yang kuat harus bertumpu pada tiga fondasi utama, yakni masjid, keluarga, dan kemandirian ekonomi.
Pernyataan tersebut disampaikan Waluyo dalam Pengajian Tarjih Muhammadiyah yang mengangkat tema kemajuan umat.
Ia mengatakan, tantangan yang dihadapi umat saat ini bukan hanya persoalan kesejahteraan, tetapi juga melemahnya karakter, solidaritas sosial, dan kemandirian masyarakat.
Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat pembinaan, memperkuat keluarga sebagai sekolah pertama bagi generasi, serta membangun ekonomi yang produktif dan berkeadilan.
Baca juga: BPKH Kelola Dana Haji Rp 184 Triliun, 70 Persen Ditempatkan di Sukuk Negara
Waluyo menjelaskan bahwa sejak masa Rasulullah SAW, masjid memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat melaksanakan shalat berjamaah.
Masjid menjadi ruang pendidikan, musyawarah, pelayanan sosial, hingga pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, fungsi tersebut perlu dihidupkan kembali agar masjid mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi umat.
Ia menilai berbagai persoalan seperti kemiskinan, rendahnya literasi keagamaan, hingga melemahnya kepedulian sosial dapat diatasi apabila masjid kembali menjadi pusat aktivitas masyarakat.
Masjid, lanjut Waluyo, seharusnya menghadirkan program yang menyentuh kebutuhan jamaah, mulai dari kajian keislaman, pembinaan anak dan remaja, pendampingan keluarga, hingga pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.
Baca juga: Mengapa Rasulullah Menganjurkan Tidur Miring ke Kanan? Ini Hikmahnya
“Masjid jangan hanya ramai ketika waktu shalat, tetapi juga hidup sebagai pusat kemajuan umat,” menjadi semangat yang ditekankan dalam pengajiannya.
Selain masjid, Waluyo menempatkan keluarga sebagai pilar terpenting dalam membangun peradaban Islam.
Ia mengatakan bahwa rumah tangga merupakan tempat pertama seorang anak belajar tentang iman, akhlak, kejujuran, tanggung jawab, dan kasih sayang.
Pandangan tersebut selaras dengan firman Allah SWT dalam Surah At-Tahrim ayat 6.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Yā ayyuhallażīna āmanū qū anfusakum wa ahlīkum nārā.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Baca juga: Jelang Wajib Halal Produk Sandang, Begini Tips Memilih Baju Anak
Menurut Waluyo, ayat tersebut menunjukkan bahwa tanggung jawab membangun masyarakat dimulai dari lingkungan keluarga.
Orangtua bukan hanya bertugas memenuhi kebutuhan materi anak, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Islam yang akan membentuk karakter mereka hingga dewasa.
Ia menilai keluarga yang harmonis akan melahirkan generasi yang memiliki integritas, kepedulian sosial, dan semangat melayani masyarakat.
Waluyo menegaskan bahwa ekonomi tetap menjadi bagian penting dalam kemajuan umat.
Namun, ia mengingatkan bahwa kemandirian ekonomi dalam perspektif Islam bukan sekadar mengejar keuntungan, melainkan menciptakan kesejahteraan yang memberi manfaat bagi banyak orang.
Ia mendorong umat Islam mengembangkan budaya produktif melalui kewirausahaan, penguatan usaha mikro, serta membangun jejaring ekonomi yang dilandasi semangat gotong royong.
Menurutnya, masyarakat yang mandiri secara ekonomi akan lebih mampu membiayai pendidikan, menghidupkan kegiatan masjid, dan memperluas pelayanan sosial.
Baca juga: Depresi Bukan Berarti Kurang Iman, Ini Ikhtiar Mengatasinya Menurut Islam
Prinsip tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Jumu'ah ayat 10.
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ
Fa iżā quḍiyatiṣ-ṣalātu fantasyirū fil-arḍi wabtagū min faḍlillāh.
Artinya: “Apabila shalat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di bumi dan carilah karunia Allah.”
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam mendorong keseimbangan antara ibadah dan ikhtiar dalam mencari rezeki yang halal. Bekerja dan membangun ekonomi dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab seorang Muslim selama dilakukan dengan cara yang benar.
Waluyo menegaskan bahwa masjid, keluarga, dan ekonomi bukanlah tiga agenda yang berdiri sendiri. Ketiganya saling berkaitan dalam membentuk masyarakat yang berkemajuan.
Masjid menumbuhkan spiritualitas dan ilmu, keluarga membentuk karakter manusia, sedangkan kemandirian ekonomi menjadi penopang agar umat mampu hidup bermartabat dan memberi manfaat bagi sesama.
Apabila salah satu pilar melemah, kemajuan umat akan kehilangan fondasinya.
Baca juga: Bolehkah Minum Sambil Berdiri? Ini Dalil dan Penjelasan Ulama
Ia berharap Muhammadiyah terus menghadirkan gerakan dakwah yang membumi melalui penguatan fungsi masjid, pembinaan keluarga sakinah, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Menurutnya, kemajuan umat tidak lahir dari slogan semata, tetapi dari perubahan nyata yang dimulai di lingkungan terkecil dan tumbuh menjadi kekuatan sosial yang lebih luas.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.