Editor
KOMPAS.com — Kehidupan terkadang menghadirkan persoalan berat yang sulit ditanggung seorang diri.
Kehilangan mata pencaharian, himpitan utang, kematian orang terkasih, kegagalan karier, hingga konflik keluarga dapat membuat seseorang merasa tidak berdaya dan kehilangan arah.
Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah, Muhammad Ryan Romadhon mengatakan, krisis yang datang bertubi-tubi dapat membuat batin dan pikiran manusia mencapai titik jenuh.
Dalam kondisi tertentu, tekanan tersebut dapat berkembang menjadi depresi berat, bahkan memunculkan pikiran untuk mengakhiri hidup.
“Dalam kondisi yang sangat rentan seperti ini, keputusasaan bukan lagi sekadar kesedihan sementara. Ia dapat menjadi krisis jiwa yang membutuhkan kepekaan, pertolongan nyata, dan pendampingan yang utuh dari orang-orang di sekitarnya,” kata Ryan dikutip dari NU Online, Senin (21/9/2026).
Baca juga: Setelah Lebaran, Kenapa Orang Tiba-tiba Depresi? Ini Penjelasannya
Menurut Ryan, Islam melarang umatnya berputus asa dari rahmat Allah. Larangan tersebut antara lain tercantum dalam Surah Yusuf ayat 87:
يٰبَنِيَّ اذْهَبُوْا فَتَحَسَّسُوْا مِنْ يُّوْسُفَ وَاَخِيْهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِۗ اِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ
Artinya, “Wahai anak-anakku, pergi dan carilah berita tentang Yusuf beserta saudaranya. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.” (QS Yusuf: 87)
Ryan menjelaskan, ayat tersebut mengingatkan manusia agar tetap memiliki harapan kepada pertolongan Allah ketika menghadapi kesulitan.
Ia mengutip penjelasan Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir yang menyatakan bahwa seorang mukmin senantiasa mengharapkan kelapangan dan pertolongan dari Allah.
لا يقنط من فرج الله إلا القوم الكافرون، وهذا دليل على أن الكافر يقنط في حال الشدّة، وعلى أن القنوط من الكبائر، أما المؤمن فيرجو دائما فرج الله تعالى
Artinya, “Tidak ada yang berputus asa dari kelapangan atau pertolongan Allah kecuali orang-orang kafir. Ini merupakan dalil bahwa orang kafir berputus asa ketika berada dalam kesukaran serta menjadi bukti bahwa berputus asa termasuk dosa besar. Adapun seorang mukmin, ia senantiasa mengharapkan kelapangan dan pertolongan dari Allah.” (Tafsir Al-Munir, jilid XIII, halaman 51)
Baca juga: Islam Melarang Berkata Kasar dan Menghina, Ini Dalil Al-Quran dan Hadisnya
Kendati demikian, Ryan menegaskan bahwa nasihat keagamaan tidak boleh digunakan untuk menghakimi orang yang mengalami gangguan kesehatan mental.
Menurut dia, Islam justru mengajarkan umatnya untuk memadukan keyakinan kepada Allah dengan ikhtiar nyata, termasuk mendapatkan pertolongan medis.
“Ketika himpitan mental mulai melumpuhkan ritme hidup harian, membuat seseorang kehilangan tidur, enggan menyentuh makanan, hingga dihantui bayangan mengakhiri hidup, hal paling mendesak yang ia butuhkan adalah tindakan medis nyata,” ujarnya.
“Di titik ini, menghakimi penderitaan mereka dengan stigma ‘kurang iman’ jelas bukan respons yang bijak maupun islami,” lanjut Ryan.
Ia mengingatkan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk berobat karena setiap penyakit memiliki penawar.
إن الله تعالى أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فتداووا ولا تداووا بالحرام
Artinya, “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya serta menjadikan bagi setiap penyakit ada obatnya. Maka, berobatlah kalian dan janganlah kalian berobat dengan yang haram.” (HR Abu Dawud dari Abu Darda)
Berikut sejumlah ikhtiar yang dapat dilakukan ketika seseorang menghadapi keputusasaan dan tekanan mental:
Ryan mengatakan, gangguan kesehatan mental membutuhkan penanganan yang tepat sebagaimana penyakit fisik.
Luka pada pikiran dan perasaan merupakan kondisi nyata yang tidak semestinya dibiarkan atau ditanggung seorang diri.
Konsultasi dengan psikolog dapat memberikan ruang aman bagi seseorang untuk mengurai emosi dan mempelajari cara menghadapi persoalan secara lebih sehat.
Sementara itu, pertolongan psikiater diperlukan apabila seseorang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan medis, terutama ketika kecemasan atau depresi telah mengganggu kehidupan sehari-hari.
“Langkah mendatangi ahli kesehatan jiwa bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari ikhtiar medis yang sah dan sangat dianjurkan dalam Islam untuk merawat karunia kehidupan,” kata Ryan.
Pertolongan profesional perlu segera dicari apabila seseorang mengalami gangguan tidur dan makan, tidak mampu menjalankan kegiatan sehari-hari, menyakiti diri, atau memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup.
Orang di sekitarnya juga perlu mendampingi dan memastikan individu tersebut tidak menghadapi masa krisis seorang diri.
Ryan mengingatkan bahwa mengurung diri dan memendam luka seorang diri dapat memperberat kondisi seseorang yang mengalami depresi.
Karena itu, ia menyarankan orang yang sedang menghadapi tekanan mental untuk berbicara kepada keluarga, sahabat tepercaya, atau kelompok pendukung yang aman.
Menurut dia, ajaran mengenai silaturahmi menunjukkan bahwa manusia tidak dirancang untuk menanggung seluruh beban kehidupannya sendirian.
Ryan mengutip Syekh Sulaiman Al-Bujairimi yang menjelaskan sejumlah keutamaan silaturahmi:
وَفِي صِلَةِ الرَّحِمِ عَشْرُ خِصَالٍ مَحْمُودَةٍ
Artinya, “Dalam silaturahmi terdapat sepuluh hal terpuji.” (Hasyiyah Al-Bujairimi ‘alal Khatib, juz III, halaman 272)
Salah satu manfaat silaturahmi ialah menghadirkan kebahagiaan dan membangun ingatan positif, baik bagi orang yang berkunjung maupun yang dikunjungi.
Apabila pikiran untuk menyakiti diri atau mengakhiri hidup muncul, seseorang perlu segera menghubungi layanan kegawatdaruratan, mendatangi fasilitas kesehatan terdekat, atau meminta orang tepercaya untuk mendampinginya.
“Meminta pertolongan segera ketika kecemasan terasa tidak terkendali merupakan tindakan berani yang dapat menyelamatkan kehidupan,” ujar Ryan.
Seseorang yang sedang menghadapi tekanan berat tidak harus menyelesaikan seluruh persoalannya sekaligus.
Ryan mengatakan, pemulihan dapat dimulai dengan melakukan hal-hal sederhana yang masih dapat dikendalikan, seperti bangun tepat waktu, membersihkan diri, mengonsumsi makanan bergizi, atau berjalan sejenak di luar rumah.
Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu seseorang membangun kembali ritme kehidupan dan mengurangi perasaan tidak berdaya.
“Ketika pikiran terasa semrawut oleh himpitan ekonomi atau rasa gagal yang mendalam, kita tidak perlu langsung menyelesaikan semua masalah besar sekaligus,” katanya.
Menurut Ryan, Islam tidak hanya melarang umatnya menyerah pada keputusasaan, tetapi juga mengajarkan keberanian untuk mencari pertolongan.
Iman dan ikhtiar tidak semestinya dipertentangkan. Mendatangi psikolog atau psikiater, mencari dukungan orang terdekat, dan membangun kembali kebiasaan sehari-hari merupakan bagian dari usaha menjaga kehidupan.
“Di situlah rahmat Allah bekerja, mengalir melalui ikhtiar nyata yang kita upayakan setiap hari,” pungkas Ryan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.