Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Abdurrahman bin Auf, Saudagar Kaya yang Tak Silau oleh Harta

Kompas.com, 21 September 2026, 19:38 WIB
Puji Sri Rahayu,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Di antara sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai sosok yang berhasil memadukan kesuksesan bisnis dengan kedermawanan yang luar biasa. Kekayaannya tidak menjadikannya lalai dari ibadah, tetapi justru menjadi jalan untuk membantu umat Islam melalui infak dan sedekah.

Abdurrahman bin Auf dalam Al-Iṣābah fī Tamyīz aṣ-Ṣaḥābah karya Ibnu Hajar Al-Asqalani dan At-Ṭabaqāt al-Kubrā karya Ibnu Sa'd mencatat bahwa beliau termasuk sahabat awal yang memeluk Islam, berhijrah ke Madinah, serta menjadi salah satu tokoh penting dalam perjuangan dakwah Rasulullah SAW.

Sahabat yang Memulai Usaha dari Nol

Abdurrahman bin Auf berasal dari Quraisy Bani Zuhrah. Setelah berhijrah ke Madinah, beliau dipersaudarakan Rasulullah SAW dengan Sa'ad bin Rabi'. Ketika Sa'ad menawarkan sebagian harta dan kebunnya, Abdurrahman menolak dengan cara yang sangat mulia.

Baca juga: Mengapa Rasulullah Bersiwak Sebelum Shalat? Ini Hikmahnya

Ia hanya meminta ditunjukkan lokasi pasar agar dapat bekerja dan berdagang sendiri. Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Sa'd sebagai bukti semangat kemandirian Abdurrahman dalam mencari rezeki yang halal.

Dari pasar Madinah itulah usahanya berkembang pesat hingga menjadi salah satu saudagar paling berhasil di kalangan sahabat. Namun, kekayaan tersebut tidak pernah menjauhkan dirinya dari kepedulian kepada kaum Muslimin.

Menginfakkan Separuh Hartanya di Jalan Allah

Salah satu peristiwa yang paling masyhur terjadi ketika Rasulullah SAW mengajak kaum Muslim mempersiapkan Perang Tabuk. Dalam riwayat At-Ṭabaqāt al-Kubrā, Abdurrahman bin Auf datang membawa infak sebesar 4.000 dinar, yaitu separuh dari seluruh hartanya, sementara separuh lainnya ia sisakan untuk keluarganya.

Pengorbanan itu menunjukkan bahwa sedekah bukan diberikan dari sisa kebutuhan, melainkan dari harta yang paling dicintai. Kekayaan baginya adalah amanah yang harus digunakan untuk menolong agama Allah dan membantu masyarakat.

Baca juga: BPKH Kelola Dana Haji Rp 184 Triliun, 70 Persen Ditempatkan di Sukuk Negara

Al-Qur'an Memuji Orang yang Menginfakkan Hartanya

Sikap Abdurrahman bin Auf selaras dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Lail ayat 18–21:

الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّىٰ ۝ وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَىٰ ۝ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰ ۝ وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ

Allażī yu’tī mālahū yatazakkā. Wa mā li-aḥadin ‘indahū min ni‘matin tujzā. Illab-tighā’a wajhi rabbihil-a‘lā. Wa lasaufa yarḍā.

Artinya: “Yang menginfakkan hartanya untuk membersihkan diri, dan tidak ada seseorang yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi dia memberikan itu semata-mata karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar akan memperoleh kepuasan.”

Baca juga: Mengapa Rasulullah Menganjurkan Tidur Miring ke Kanan? Ini Hikmahnya

Ayat tersebut menggambarkan karakter seorang mukmin yang bersedekah karena mengharap ridha Allah, bukan pujian manusia.

Sedekah Tidak Mengurangi Harta

Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa harta yang diinfakkan tidak akan mengurangi keberkahan rezeki.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Mā naqaṣat ṣadaqatun min māl

Artinya: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR Sahih Muslim No. 2588). 

Baca juga: Jelang Wajib Halal Produk Sandang, Begini Tips Memilih Baju Anak

Hadis ini menjadi cerminan kehidupan Abdurrahman bin Auf. Semakin besar hartanya, semakin besar pula sedekah yang ia keluarkan. Bahkan Ibnu Sa'd meriwayatkan bahwa beliau pernah memerdekakan banyak budak, menyumbangkan kafilah dagang untuk kebutuhan masyarakat Madinah, dan berwasiat agar para veteran Perang Badar serta istri-istri Nabi memperoleh bagian dari hartanya setelah beliau wafat.

Kaya tetapi Tetap Zuhud

Meski menjadi saudagar sukses, Abdurrahman tidak hidup bermewah-mewahan. Dalam Al-Iṣābah disebutkan bahwa beliau sering menangis ketika mengingat sahabat-sahabat yang gugur sebagai syuhada. Ia khawatir kenikmatan dunia yang diterimanya justru menjadi ujian yang memberatkan hisab di akhirat.

Sikap ini menunjukkan makna zuhud yang sebenarnya. Zuhud bukan berarti meninggalkan harta, melainkan tidak menjadikan harta sebagai tujuan hidup. Kekayaan berada di tangan, bukan di hati.

Teladan bagi Muslim Masa Kini

Kisah Abdurrahman bin Auf memberikan pelajaran bahwa Islam tidak menolak kekayaan. Seorang Muslim justru didorong bekerja keras, berdagang secara jujur, dan membangun kemandirian ekonomi. Namun, keberhasilan itu harus diiringi kepedulian terhadap sesama melalui zakat, infak, dan sedekah.

Baca juga: Apa Bedanya Sabar, Ridha, dan Tawakal? Jangan Sampai Tertukar 

Dengan menginfakkan separuh hartanya, Abdurrahman membuktikan bahwa kemuliaan seorang saudagar bukan terletak pada banyaknya harta yang dimiliki, melainkan pada seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada umat. Itulah warisan akhlak yang menjadikannya dikenang sebagai salah satu sahabat paling dermawan dalam sejarah Islam.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
BPKH Investasikan 70 Persen Dana Haji ke Sukuk Negara
BPKH Investasikan 70 Persen Dana Haji ke Sukuk Negara
Aktual
Kisah Abdurrahman bin Auf, Saudagar Kaya yang Tak Silau oleh Harta
Kisah Abdurrahman bin Auf, Saudagar Kaya yang Tak Silau oleh Harta
Aktual
Jadwal Libur Lebaran 2027: Potensi Libur Panjang 10 Hari, Ini Rangkaian Tanggal Merah dan Cuti Bersama
Jadwal Libur Lebaran 2027: Potensi Libur Panjang 10 Hari, Ini Rangkaian Tanggal Merah dan Cuti Bersama
Aktual
H20 2026 Diikuti 48 Negara, BPJPH Dorong Indonesia Jadi Pusat Halal Dunia
H20 2026 Diikuti 48 Negara, BPJPH Dorong Indonesia Jadi Pusat Halal Dunia
Aktual
Bukan Bersamaan, Ini Cara Mengikuti Gerakan Imam dalam Shalat Berjamaah yang Makmum Harus Tahu
Bukan Bersamaan, Ini Cara Mengikuti Gerakan Imam dalam Shalat Berjamaah yang Makmum Harus Tahu
Aktual
Muazin Masjidil Haram Sheikh Ibrahim Al Madani Wafat, Rekaman Adzannya Beredar di Media Sosial
Muazin Masjidil Haram Sheikh Ibrahim Al Madani Wafat, Rekaman Adzannya Beredar di Media Sosial
Aktual
Sheikh Ibrahim Al Madani, Muazin Masjidil Haram, Wafat Setelah Kumandangkan Adzan Subuh
Sheikh Ibrahim Al Madani, Muazin Masjidil Haram, Wafat Setelah Kumandangkan Adzan Subuh
Aktual
Mengapa Rasulullah Bersiwak Sebelum Shalat? Ini Hikmahnya
Mengapa Rasulullah Bersiwak Sebelum Shalat? Ini Hikmahnya
Aktual
BPKH Kelola Dana Haji Rp 184 Triliun, 70 Persen Ditempatkan di Sukuk Negara
BPKH Kelola Dana Haji Rp 184 Triliun, 70 Persen Ditempatkan di Sukuk Negara
Aktual
Mengapa Rasulullah Menganjurkan Tidur Miring ke Kanan? Ini Hikmahnya
Mengapa Rasulullah Menganjurkan Tidur Miring ke Kanan? Ini Hikmahnya
Aktual
Apa Bedanya Sabar, Ridha, dan Tawakal? Jangan Sampai Tertukar
Apa Bedanya Sabar, Ridha, dan Tawakal? Jangan Sampai Tertukar
Aktual
Jelang Wajib Halal Produk Sandang, Begini Tips Memilih Baju Anak
Jelang Wajib Halal Produk Sandang, Begini Tips Memilih Baju Anak
Aktual
Ketegasan Kiai Miftah dan Masa Depan NU di Abad Kedua
Ketegasan Kiai Miftah dan Masa Depan NU di Abad Kedua
Aktual
Bolehkah Minum Sambil Berdiri? Ini Dalil dan Penjelasan Ulama
Bolehkah Minum Sambil Berdiri? Ini Dalil dan Penjelasan Ulama
Aktual
Tren Baju Lebaran Sarimbit 2027, Tak Lagi Didominasi Warna Pastel
Tren Baju Lebaran Sarimbit 2027, Tak Lagi Didominasi Warna Pastel
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar