Editor
BANDUNG, KOMPAS.com — Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengingatkan mahasiswa baru bahwa kuliah bukan sekadar mengejar ijazah.
Mahasiswa juga perlu menguasai kompetensi, memperkuat karakter, dan membiasakan diri belajar sepanjang hayat untuk menghadapi perubahan dunia kerja.
“Kuliah bukan hanya untuk mendapatkan ijazah. Dunia kerja tidak hanya membutuhkan ijazah, tetapi juga kompetensi,” kata Fajar saat membuka Pekan Sosialisasi dan Orientasi Mahasiswa (Pesonamu) 2026 di Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung).
Baca juga: Tanwir Muhammadiyah 2026 Digelar di Palu, Bahas Program 25 Tahun dan Persiapan Muktamar
Di hadapan 1.566 mahasiswa baru, Fajar berpesan agar mereka tidak berhenti belajar dan terus mengembangkan kemampuan.
Dalam rilis yang diterima Kompas.com, Selasa (22/9/2026), Fajar mengatakan, mahasiswa perlu memperdalam keahlian sesuai bidang studi sekaligus memperluas wawasan lintas disiplin.
Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), kata dia, menuntut mahasiswa memiliki kemampuan beradaptasi dan berpikir kritis.
Mahasiswa juga perlu mengembangkan keterampilan komunikasi dan kepemimpinan agar mampu menghadapi perubahan zaman.
Fajar mendorong mahasiswa aktif mengikuti organisasi. Kegiatan tersebut dapat menjadi tempat melatih kepemimpinan, kerja sama, dan kepedulian sosial.
Ia berharap mahasiswa tidak hanya mempersiapkan diri untuk mencari pekerjaan setelah lulus, tetapi juga mampu menciptakan peluang dan menawarkan solusi bagi persoalan masyarakat.
Sebagai alumnus Universitas Muhammadiyah Surakarta, Fajar juga mengajak mahasiswa UM Bandung memanfaatkan jejaring 164 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di Indonesia.
Jejaring tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperluas pengetahuan, pengalaman, dan kolaborasi antarmahasiswa.
Baca juga: Muhammadiyah: Qiwamah Bukan Kekuasaan, tetapi Tanggung Jawab
Selain kompetensi akademik dan profesional, Fajar meminta mahasiswa mengamalkan nilai-nilai Islam berkemajuan yang moderat, inklusif, serta memberikan manfaat bagi sesama.
“Jadilah mahasiswa yang someah budayana, luhur lampahna, gede dampakna. Harumkan nama almamater dengan ilmu, akhlak, dan karya yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ungkapan berbahasa Sunda tersebut mengandung pesan agar mahasiswa memiliki budaya yang ramah, perilaku mulia, dan memberikan dampak besar.
Sementara itu, Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto mengapresiasi kehadiran Fajar dalam kegiatan tersebut.
Menurut Herry, pesan yang disampaikan Fajar dapat menjadi penyemangat bagi para mahasiswa baru dalam memulai pendidikan tinggi.
Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UM Bandung Dadang Kahmad menambahkan, mahasiswa perlu membangun cara berpikir yang lebih mendalam dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Kecerdasan intelektual, kata Dadang, juga harus diimbangi dengan integritas moral serta kepedulian terhadap masyarakat.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.