KOMPAS.com - Ketika dua orang Muslim bertemu, lazimnya mereka mengucapkan salam sambil mengulurkan tangan untuk berjabat.
Dua amalan ini sama-sama dianjurkan dalam Islam, tetapi banyak orang bertanya: jika keduanya terjadi bersamaan, mana yang harus didahulukan, menjawab salam atau bersalaman?
Para ulama menjelaskan bahwa urutannya jelas. Menjawab salam didahulukan karena hukumnya wajib berdasarkan Al-Qur'an, sedangkan bersalaman (musafahah) merupakan sunnah yang sangat dianjurkan.
Dengan memahami adab ini, seorang Muslim tidak hanya menjaga sopan santun, tetapi juga menunaikan hak saudaranya sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
Salam merupakan doa keselamatan yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Karena itu, Allah SWT memerintahkan setiap Muslim untuk membalas salam dengan yang sama atau bahkan lebih baik.
Baca juga: Apa Itu Mindfulness? Bukan Sekadar Menenangkan Diri
Allah berfirman dalam QS An-Nisa Ayat 86:
وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا
Wa iżā ḥuyyītum bitaḥiyyatin faḥayyū biaḥsana minhā au ruddūhā, innallāha kāna ‘alā kulli syai’in ḥasībā.
Artinya: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu salam, balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang sepadan. Sungguh, Allah Maha Memperhitungkan segala sesuatu.”
Ayat ini menjadi dasar fikih bahwa menjawab salam bukan sekadar etika, melainkan kewajiban.
Jika salam ditujukan kepada satu orang, maka orang tersebut wajib menjawabnya.
Apabila ditujukan kepada sekelompok orang, cukup salah seorang menjawab sehingga gugurlah kewajiban yang lain.
Selain memerintahkan menjawab salam, Rasulullah SAW juga menjadikan salam sebagai jalan menumbuhkan kasih sayang di tengah masyarakat.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA
لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا ۚ أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
Lā tadkhulul-jannata ḥattā tu’minū, wa lā tu’minū ḥattā taḥābbū. Awa lā adullukum ‘alā syai’in iżā fa‘altumūhu taḥābabtum? Afsyus-salāma bainakum.
Baca juga: Tekan Biaya Haji 2027, Kemenhaj Pertimbangkan Maskapai Alternatif
Artinya: “Kalian tidak akan masuk surga hingga beriman, dan tidak sempurna iman kalian hingga saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang apabila kalian lakukan niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR Sahih Muslim No. 54).
Hadis ini menunjukkan bahwa salam bukan hanya ucapan pembuka, tetapi juga doa yang membangun ukhuwah.
Setiap kali seorang Muslim mengucapkan “Assalamu’alaikum”, ia sedang mendoakan keselamatan dan rahmat Allah bagi saudaranya.
Setelah salam, Rasulullah SAW juga menganjurkan musafahah atau berjabat tangan. Amalan sederhana ini menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kecil di antara dua Muslim yang bertemu.
Diriwayatkan oleh Al-Bara’ bin Azib RA:
مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا
Mā min muslimaini yaltaqiyāni fayataṣāfaḥāni illā ghufira lahumā qabla ay yatafarraqā.
Baca juga: Dua Jemaah Haji Asal Lamongan dan Tangerang Masih Dirawat di Arab Saudi
Artinya: “Tidaklah dua orang Muslim bertemu lalu bersalaman, melainkan keduanya diampuni sebelum berpisah.” (HR Jami’ at-Tirmidzi No. 2727 dan Sunan Abi Dawud No. 5212).
Karena itu, para ulama memandang musafahah sebagai sunnah muakkadah, yakni sunnah yang sangat dianjurkan untuk mempererat hubungan persaudaraan dan menghilangkan permusuhan.
Dalam praktik sehari-hari, seseorang sering mengucapkan salam sambil mengulurkan tangan.
Pada kondisi seperti ini, adab yang paling tepat adalah menjawab salam terlebih dahulu, kemudian bersalaman.
Misalnya seseorang berkata, “Assalamu’alaikum” sambil mengulurkan tangan. Jawaban yang lebih utama adalah “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”, kemudian dilanjutkan dengan berjabat tangan.
Urutan ini sesuai dengan kaidah fikih bahwa kewajiban didahulukan atas amalan sunnah.
Baca juga: Prabowo Kutip Al-Baqarah Ayat 191, Apa Makna “Fitnah” Sebenarnya?
Imam An-Nawawi menjelaskan dalam pembahasan adab salam bahwa hak seorang Muslim adalah memperoleh jawaban salam.
Adapun musafahah merupakan penyempurna adab pertemuan yang menambah keakraban dan kasih sayang.
Musafahah dalam Islam juga memiliki beberapa adab. Rasulullah SAW membiasakan berjabat tangan menggunakan tangan kanan sebagai bentuk penghormatan.
Selain itu, beliau mengajarkan agar seorang Muslim menampilkan wajah yang ramah dan tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun.
Senyum, salam, dan jabat tangan merupakan rangkaian adab yang saling melengkapi.
Ketiganya mampu mencairkan suasana, memperkuat hubungan keluarga, mempererat persahabatan, hingga membangun lingkungan kerja yang lebih harmonis.
Namun, musafahah tetap mengikuti ketentuan syariat, yaitu dilakukan antara sesama laki-laki atau sesama perempuan, serta tidak dilakukan dengan lawan jenis yang bukan mahram.
Baca juga: Biaya Penerbangan Haji Diupayakan Turun, BPIH Berpotensi Lebih Rendah
Mendahulukan jawaban salam mengajarkan bahwa Islam menempatkan hak orang lain di atas kepentingan pribadi.
Salam adalah doa yang wajib dihormati, sedangkan bersalaman menjadi pelengkap yang menyempurnakan pertemuan.
Dengan membiasakan urutan ini, seorang Muslim telah menghidupkan sunnah Rasulullah SAW sekaligus menunaikan perintah Al-Qur'an.
Pertemuan sederhana pun berubah menjadi ibadah yang menghadirkan doa, kasih sayang, dan keberkahan bagi kedua belah pihak.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.