Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kapan Doa Saat Hujan Paling Mustajab? Ini Dalil dan Penjelasannya

Kompas.com, 22 September 2026, 13:17 WIB
Puji Sri Rahayu,
Reni Susanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hujan dalam Islam bukan sekadar fenomena alam, melainkan salah satu tanda rahmat Allah SWT yang membawa kehidupan bagi bumi.

Karena itu, ketika hujan turun, Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk memperbanyak doa dan zikir, sebab waktu tersebut termasuk salah satu momen yang memiliki keutamaan untuk bermunajat kepada Allah.

Lalu, kapan sebenarnya doa saat hujan paling mustajab? Apakah setelah hujan reda atau justru ketika air hujan sedang turun?

Hadis-hadis sahih menunjukkan bahwa waktu yang paling dianjurkan adalah ketika hujan sedang turun, karena saat itulah rahmat Allah tengah dicurahkan kepada hamba-Nya.

Hujan Adalah Rahmat dari Allah

Al-Quran berulang kali menyebut hujan sebagai bentuk kasih sayang Allah yang menghidupkan bumi setelah mati. Turunnya hujan menjadi bukti kekuasaan sekaligus rahmat-Nya bagi seluruh makhluk.

Baca juga: Apa Itu Mindfulness? Bukan Sekadar Menenangkan Diri

Allah berfirman dalam QS Ar-Rum Ayat 48:

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ

Allāhullażī yursilur-riyāḥa fatuṡīru saḥāban fayabsuṭuhū fis-samā’i kaifa yasyā’u wa yaj‘aluhū kisafan fataral-wadqa yakhruju min khilālihi.

Artinya: “Allah-lah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan. Kemudian Dia membentangkannya di langit menurut kehendak-Nya dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya.”

Ayat ini menunjukkan bahwa hujan bukan peristiwa yang terjadi tanpa kehendak Allah. Kesadaran inilah yang menjadi alasan mengapa seorang Muslim dianjurkan menyambut hujan dengan syukur dan doa.

Doa Saat Hujan Termasuk yang Mustajab

Dalil paling terkenal mengenai keutamaan doa saat hujan berasal dari hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Sahl bin Sa'ad RA.

Baca juga: Tekan Biaya Haji 2027, Kemenhaj Pertimbangkan Maskapai Alternatif

Diriwayatkan oleh Sahl bin Sa'ad RA

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَتَحْتَ الْمَطَرِ

Itsnatāni mā turaddāni: ad-du‘ā’u ‘indan-nidā’i wa taḥtal-maṭar.

Artinya: “Dua doa yang tidak tertolak: doa ketika azan dikumandangkan dan doa ketika hujan turun.” (HR Sunan Abi Dawud No. 2540)

Para ulama menjelaskan bahwa frasa taḥtal-maṭar berarti ketika seseorang berada pada waktu turunnya hujan.

Artinya, keutamaan tersebut berkaitan dengan momen hujan sedang berlangsung, bukan harus menunggu hujan berhenti.

Doa Apa yang Dibaca Rasulullah?

Ketika hujan turun, Rasulullah SAW membaca doa yang singkat tetapi penuh makna. Doa ini menjadi sunnah yang paling utama diamalkan saat melihat hujan.

Diriwayatkan oleh Aisyah RA:

اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا

Allāhumma ṣayyiban nāfi‘ā.

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang membawa manfaat.” (HR Sahih al-Bukhari No. 1032). 

Baca juga: Tekan Biaya Haji 2027, Kemenhaj Pertimbangkan Maskapai Alternatif

Doa tersebut menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak hanya meminta turunnya hujan, tetapi juga memohon agar hujan menjadi sumber keberkahan, bukan bencana.

Karena itu, ketika hujan turun dengan deras, Rasulullah SAW juga mengajarkan doa agar hujan dialihkan dari tempat yang membahayakan menuju tempat yang membutuhkan air.

Mengapa Waktu Hujan Dianggap Istimewa?

Dalam penjelasan para ulama, waktu hujan termasuk momen dikabulkannya doa karena merupakan saat turunnya rahmat Allah.

Imam An-Nawawi menerangkan bahwa hadis tentang doa di bawah hujan menunjukkan anjuran memperbanyak permohonan pada saat itu, baik untuk urusan dunia maupun akhirat.

Namun, mustajab bukan berarti setiap doa langsung terwujud sesuai keinginan manusia.

Dalam akidah Islam, doa dapat dikabulkan dengan tiga bentuk: diberikan sesuai permintaan, disimpan sebagai pahala, atau dihindarkan dari keburukan yang setara. Karena itu, seorang Muslim tetap berhusnuzan kepada Allah ketika berdoa saat hujan.

Adab Berdoa Ketika Hujan Turun

Selain membaca doa yang diajarkan Rasulullah, ada beberapa adab yang dianjurkan ketika hujan turun. Pertama, memulai doa dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi.

Kedua, mengangkat tangan ketika berdoa sebagaimana adab umum dalam berdoa. Ketiga, memperbanyak istighfar dan memohon kebaikan bagi diri, keluarga, serta kaum Muslimin.

Sebagian ulama juga menyebutkan bahwa terkena tetesan hujan pertama merupakan sunnah berdasarkan riwayat bahwa Rasulullah SAW membiarkan sebagian tubuhnya terkena hujan sambil bersabda bahwa hujan itu baru saja datang dari Rabb-nya.

Riwayat ini dipahami sebagai bentuk mengambil keberkahan dari rahmat Allah yang baru turun.

Baca juga: Kemenag Buka Pendaftaran Insentif Dosen Non-ASN Ma’had Aly Rp 1 Juta per BulanJadikan Hujan sebagai Momen Bermunajat

Di tengah kesibukan sehari-hari, hujan sering dipandang sebagai gangguan perjalanan atau penyebab kemacetan.

Padahal, bagi seorang Muslim, turunnya hujan adalah kesempatan istimewa untuk mendekat kepada Allah melalui doa.

Karena itu, ketika langit mulai menurunkan hujan, jangan hanya mencari tempat berteduh. Luangkan beberapa saat untuk mengangkat tangan, membaca “Allahumma ṣayyiban nāfi‘ā”, lalu panjatkan doa-doa terbaik.

Sebab, Rasulullah SAW mengabarkan bahwa doa yang dipanjatkan ketika hujan turun termasuk doa yang memiliki keutamaan besar untuk dikabulkan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Menag Akan Tertibkan Pesantren yang Cuma Catut Nama, Soroti Kepatuhan Unsur dan Syarat
Menag Akan Tertibkan Pesantren yang Cuma Catut Nama, Soroti Kepatuhan Unsur dan Syarat
Aktual
Libur Lebaran 2027 Bisa Sampai 10 Hari, Ini Rangkaian Tanggal Merah dan Cuti Bersamanya
Libur Lebaran 2027 Bisa Sampai 10 Hari, Ini Rangkaian Tanggal Merah dan Cuti Bersamanya
Aktual
 Mengapa Membaca Al-Quran Setelah Subuh Memiliki Keutamaan?
Mengapa Membaca Al-Quran Setelah Subuh Memiliki Keutamaan?
Aktual
ITB Bangun Hunian dan Musala Pascabencana di Bireuen, Rangka Berdiri dalam 3 Jam
ITB Bangun Hunian dan Musala Pascabencana di Bireuen, Rangka Berdiri dalam 3 Jam
Aktual
Kapan Doa Saat Hujan Paling Mustajab? Ini Dalil dan Penjelasannya
Kapan Doa Saat Hujan Paling Mustajab? Ini Dalil dan Penjelasannya
Aktual
Wamendikdasmen ke Mahasiswa UMB: Kuliah Bukan Hanya untuk Mendapatkan Ijazah
Wamendikdasmen ke Mahasiswa UMB: Kuliah Bukan Hanya untuk Mendapatkan Ijazah
Aktual
Mana yang Didahulukan, Menjawab Salam atau Bersalaman? Ini Adabnya
Mana yang Didahulukan, Menjawab Salam atau Bersalaman? Ini Adabnya
Aktual
Apa Itu Mindfulness? Bukan Sekadar Menenangkan Diri
Apa Itu Mindfulness? Bukan Sekadar Menenangkan Diri
Aktual
Tekan Biaya Haji 2027, Kemenhaj Pertimbangkan Maskapai Alternatif
Tekan Biaya Haji 2027, Kemenhaj Pertimbangkan Maskapai Alternatif
Aktual
Dua Jemaah Haji Asal Lamongan dan Tangerang Masih Dirawat di Arab Saudi
Dua Jemaah Haji Asal Lamongan dan Tangerang Masih Dirawat di Arab Saudi
Aktual
Kemenag Buka Pendaftaran Insentif Dosen Non-ASN Ma’had Aly Rp 1 Juta per Bulan
Kemenag Buka Pendaftaran Insentif Dosen Non-ASN Ma’had Aly Rp 1 Juta per Bulan
Aktual
Prabowo Kutip Al-Baqarah Ayat 191, Apa Makna “Fitnah” Sebenarnya?
Prabowo Kutip Al-Baqarah Ayat 191, Apa Makna “Fitnah” Sebenarnya?
Aktual
Muhammadiyah: Kemajuan Umat Harus Dimulai dari Masjid hingga Kemandirian Ekonomi
Muhammadiyah: Kemajuan Umat Harus Dimulai dari Masjid hingga Kemandirian Ekonomi
Aktual
Biaya Penerbangan Haji Diupayakan Turun, BPIH Berpotensi Lebih Rendah
Biaya Penerbangan Haji Diupayakan Turun, BPIH Berpotensi Lebih Rendah
Aktual
Sheikh Ibrahim Al-Madani, Muazin Masjidil Haram Wafat di Usia 51 Tahun
Sheikh Ibrahim Al-Madani, Muazin Masjidil Haram Wafat di Usia 51 Tahun
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar