KOMPAS.com - Di antara para sahabat Nabi Muhammad SAW, Zubair bin Al-Awwam memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Ia dikenal sebagai Hawari Rasulullah, yakni pembela setia yang selalu berada di barisan depan ketika Islam menghadapi berbagai ujian. Gelar tersebut diberikan langsung oleh Rasulullah SAW melalui hadis sahih, sehingga menjadi salah satu keutamaan terbesar yang dimiliki Zubair.
Zubair bin Al-Awwam tercatat dalam Al-Iṣābah fī Tamyīz aṣ-Ṣaḥābah karya Ibnu Hajar Al-Asqalani dan At-Ṭabaqāt al-Kubrā karya Ibnu Sa'd. Kedua sumber tersebut menyebutkan bahwa Zubair berasal dari Bani Asad, putra Al-Awwam bin Khuwailid dan Shafiyyah binti Abdul Muththalib, sehingga ia merupakan sepupu Rasulullah SAW dari garis ibu.
Ibnu Sa'd meriwayatkan bahwa Zubair termasuk as-sābiqūn al-awwalūn, yaitu golongan awal yang menerima dakwah Islam. Ia memeluk Islam ketika masih berusia belia melalui dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq, lalu tetap teguh mempertahankan keimanannya meski menghadapi tekanan dari keluarganya.
Baca juga: Mengapa Membaca Al-Quran Setelah Subuh Memiliki Keutamaan?
Dalam Al-Iṣābah juga disebutkan bahwa Zubair berhijrah ke Habasyah dan kemudian ke Madinah bersama kaum Muslimin. Keteguhannya sejak usia muda menjadikannya salah satu sahabat yang paling awal mengorbankan kenyamanan demi membela agama Allah.
Keutamaan terbesar Zubair adalah gelar Hawari yang diberikan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Kata hawari bermakna penolong, pembela, atau sahabat setia yang membela perjuangan seorang nabi.
Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah RA:
إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوَارِيًّا وَحَوَارِيَّ الزُّبَيْرُ
Inna likulli nabiyyin ḥawāriyyan, wa ḥawāriyya az-Zubair.
Artinya: “Setiap nabi memiliki seorang hawari (penolong setia), dan hawariku adalah Zubair.” (HR Sahih al-Bukhari No. 3719; Sahih Muslim No. 2415).
Baca juga: Apa Itu Mindfulness? Bukan Sekadar Menenangkan Diri
Hadis ini menunjukkan kedudukan yang sangat tinggi. Para ulama menjelaskan bahwa gelar tersebut bukan sekadar pujian, melainkan pengakuan Rasulullah terhadap loyalitas, keberanian, dan kesetiaan Zubair dalam membela dakwah Islam.
Dalam berbagai peperangan besar seperti Badar, Uhud, Khandaq, dan Hunain, Zubair selalu berada di sisi Rasulullah SAW. Ibnu Hajar meriwayatkan bahwa ia termasuk sahabat yang paling berani menghadapi musuh serta dipercaya menjalankan misi-misi penting.
Salah satu peristiwa yang masyhur terjadi pada Perang Khandaq ketika Rasulullah membutuhkan seseorang untuk mengintai pergerakan Bani Qurayzhah. Zubair memenuhi panggilan itu tanpa ragu, bahkan Rasulullah mengulanginya hingga tiga kali sebagai bentuk penegasan atas keberaniannya. Riwayat ini memperlihatkan betapa besarnya kepercayaan Nabi kepada Zubair sebagai pembela umat.
Baca juga: ITB Bangun Hunian dan Musala Pascabencana di Bireuen, Rangka Berdiri dalam 3 Jam
Selain dijuluki Hawari Rasulullah, Zubair juga termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang mendapat kabar gembira masuk surga (al-‘asyarah al-mubasyyarūna bil-jannah). Keutamaan ini diriwayatkan dalam hadis sahih yang menyebut nama-nama para sahabat tersebut secara langsung.
Kedudukan itu tidak diperoleh karena nasab atau kedekatan keluarga semata, melainkan karena iman, pengorbanan, dan konsistensinya dalam membela Islam sejak masa-masa awal dakwah hingga akhir hayatnya.
Keteladanan Zubair sejalan dengan firman Allah SWT tentang orang-orang beriman yang menepati janji mereka kepada Allah.
Allah berfirman dalam QS Al-Ahzab Ayat 23:
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
Minal-mu’minīna rijālun ṣadaqū mā ‘āhadullāha ‘alaihi, faminhum man qaḍā naḥbahū wa minhum may yantaẓir, wa mā baddalū tabdīlā.
Baca juga: Dua Jemaah Haji Asal Lamongan dan Tangerang Masih Dirawat di Arab Saudi
Artinya: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada pula yang menunggu, dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.”
Ayat ini menggambarkan karakter para sahabat yang istiqamah dalam perjuangan. Zubair menjadi salah satu teladan nyata bagaimana seorang mukmin menjaga komitmennya kepada Allah hingga akhir hayat.
Kisah Zubair bin Al-Awwam mengajarkan bahwa membela agama tidak selalu berarti mengangkat senjata. Yang lebih utama adalah memiliki keberanian membela kebenaran, menjaga amanah, dan tetap setia kepada nilai-nilai Islam dalam setiap keadaan.
Sebagai Hawari Rasulullah, Zubair dikenang bukan karena kekuatan fisiknya semata, tetapi karena kesetiaan yang tidak tergoyahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Keteladanannya menjadi inspirasi bagi setiap Muslim agar menjadi pembela kebaikan dengan ilmu, akhlak, dan keberanian yang dilandasi keimanan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.