KOMPAS.com - Hujan dalam Islam bukan sekadar fenomena alam, melainkan salah satu tanda rahmat Allah SWT yang membawa kehidupan bagi bumi.
Karena itu, ketika hujan turun, Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk memperbanyak doa dan zikir, sebab waktu tersebut termasuk salah satu momen yang memiliki keutamaan untuk bermunajat kepada Allah.
Lalu, kapan sebenarnya doa saat hujan paling mustajab? Apakah setelah hujan reda atau justru ketika air hujan sedang turun?
Hadis-hadis sahih menunjukkan bahwa waktu yang paling dianjurkan adalah ketika hujan sedang turun, karena saat itulah rahmat Allah tengah dicurahkan kepada hamba-Nya.
Al-Quran berulang kali menyebut hujan sebagai bentuk kasih sayang Allah yang menghidupkan bumi setelah mati. Turunnya hujan menjadi bukti kekuasaan sekaligus rahmat-Nya bagi seluruh makhluk.
Baca juga: Apa Itu Mindfulness? Bukan Sekadar Menenangkan Diri
Allah berfirman dalam QS Ar-Rum Ayat 48:
اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ
Allāhullażī yursilur-riyāḥa fatuṡīru saḥāban fayabsuṭuhū fis-samā’i kaifa yasyā’u wa yaj‘aluhū kisafan fataral-wadqa yakhruju min khilālihi.
Artinya: “Allah-lah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan. Kemudian Dia membentangkannya di langit menurut kehendak-Nya dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya.”
Ayat ini menunjukkan bahwa hujan bukan peristiwa yang terjadi tanpa kehendak Allah. Kesadaran inilah yang menjadi alasan mengapa seorang Muslim dianjurkan menyambut hujan dengan syukur dan doa.
Dalil paling terkenal mengenai keutamaan doa saat hujan berasal dari hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Sahl bin Sa'ad RA.
Baca juga: Tekan Biaya Haji 2027, Kemenhaj Pertimbangkan Maskapai Alternatif
Diriwayatkan oleh Sahl bin Sa'ad RA
ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَتَحْتَ الْمَطَرِ
Itsnatāni mā turaddāni: ad-du‘ā’u ‘indan-nidā’i wa taḥtal-maṭar.
Artinya: “Dua doa yang tidak tertolak: doa ketika azan dikumandangkan dan doa ketika hujan turun.” (HR Sunan Abi Dawud No. 2540)
Para ulama menjelaskan bahwa frasa taḥtal-maṭar berarti ketika seseorang berada pada waktu turunnya hujan.
Artinya, keutamaan tersebut berkaitan dengan momen hujan sedang berlangsung, bukan harus menunggu hujan berhenti.
Ketika hujan turun, Rasulullah SAW membaca doa yang singkat tetapi penuh makna. Doa ini menjadi sunnah yang paling utama diamalkan saat melihat hujan.
Diriwayatkan oleh Aisyah RA:
اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
Allāhumma ṣayyiban nāfi‘ā.
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang membawa manfaat.” (HR Sahih al-Bukhari No. 1032).
Baca juga: Tekan Biaya Haji 2027, Kemenhaj Pertimbangkan Maskapai Alternatif
Doa tersebut menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak hanya meminta turunnya hujan, tetapi juga memohon agar hujan menjadi sumber keberkahan, bukan bencana.
Karena itu, ketika hujan turun dengan deras, Rasulullah SAW juga mengajarkan doa agar hujan dialihkan dari tempat yang membahayakan menuju tempat yang membutuhkan air.
Dalam penjelasan para ulama, waktu hujan termasuk momen dikabulkannya doa karena merupakan saat turunnya rahmat Allah.
Imam An-Nawawi menerangkan bahwa hadis tentang doa di bawah hujan menunjukkan anjuran memperbanyak permohonan pada saat itu, baik untuk urusan dunia maupun akhirat.
Namun, mustajab bukan berarti setiap doa langsung terwujud sesuai keinginan manusia.
Dalam akidah Islam, doa dapat dikabulkan dengan tiga bentuk: diberikan sesuai permintaan, disimpan sebagai pahala, atau dihindarkan dari keburukan yang setara. Karena itu, seorang Muslim tetap berhusnuzan kepada Allah ketika berdoa saat hujan.
Selain membaca doa yang diajarkan Rasulullah, ada beberapa adab yang dianjurkan ketika hujan turun. Pertama, memulai doa dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi.
Kedua, mengangkat tangan ketika berdoa sebagaimana adab umum dalam berdoa. Ketiga, memperbanyak istighfar dan memohon kebaikan bagi diri, keluarga, serta kaum Muslimin.
Sebagian ulama juga menyebutkan bahwa terkena tetesan hujan pertama merupakan sunnah berdasarkan riwayat bahwa Rasulullah SAW membiarkan sebagian tubuhnya terkena hujan sambil bersabda bahwa hujan itu baru saja datang dari Rabb-nya.
Riwayat ini dipahami sebagai bentuk mengambil keberkahan dari rahmat Allah yang baru turun.
Baca juga: Kemenag Buka Pendaftaran Insentif Dosen Non-ASN Ma’had Aly Rp 1 Juta per BulanJadikan Hujan sebagai Momen Bermunajat
Di tengah kesibukan sehari-hari, hujan sering dipandang sebagai gangguan perjalanan atau penyebab kemacetan.
Padahal, bagi seorang Muslim, turunnya hujan adalah kesempatan istimewa untuk mendekat kepada Allah melalui doa.
Karena itu, ketika langit mulai menurunkan hujan, jangan hanya mencari tempat berteduh. Luangkan beberapa saat untuk mengangkat tangan, membaca “Allahumma ṣayyiban nāfi‘ā”, lalu panjatkan doa-doa terbaik.
Sebab, Rasulullah SAW mengabarkan bahwa doa yang dipanjatkan ketika hujan turun termasuk doa yang memiliki keutamaan besar untuk dikabulkan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.