Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lamine Yamal: Saya Seorang Muslim, Alhamdulillah

Kompas.com, 20 Juli 2026, 15:25 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Keberhasilan Timnas Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026 menjadi salah satu pencapaian terbesar La Furia Roja di pentas sepak bola dunia.

Di balik kesuksesan tersebut, nama Lamine Yamal tampil sebagai salah satu pemain muda yang paling mencuri perhatian sepanjang turnamen.

Penampilannya membuat Yamal disebut sebagai salah satu ancaman terbesar bagi Timnas Argentina pada laga final.

Baca juga: Di Balik Momen Gemas Lamine Yamal dan Sang Adik, Ini Peran Keluarga bagi Mental Anak

Namun, tak ada yang menyangka jika beberapa bulan sebelum mengangkat trofi Piala Dunia 2026, Yamal sempat menjadi sorotan karena sikap tegasnya menanggapi nyanyian bernada anti-Islam dari suporter negaranya sendiri.

Di balik performa impresif sang wonderkid Barcelona bersama La Furia Roja, Yamal juga pernah menjadi sorotan karena responsnya terhadap aksi rasis yang menyasar agama yang dianutnya.

Baca juga: Momen Lamine Yamal Berdoa usai Spanyol Juara Piala Dunia 2026 Viral

Suporter Spanyol Teriakkan Nyanyian Anti-Islam

Insiden tersebut terjadi ketika Spanyol menjamu Mesir dalam laga uji coba di RCDE Stadium, Selasa (31/3/2026).

Saat itu, sorotan utama justru datang dari tribun penonton, di mana sejumlah suporter Spanyol meneriakkan chant bernada rasis terhadap umat Islam.

"Jump, jump, jump, whoever doesn’t jump is a Muslim (Lompat, lompat, lompat, siapa pun yang tidak melompat adalah seorang Muslim)," demikian suara yang terdengar dari tribun penonton.

Nyanyian itu menjadi perhatian mengingat mayoritas penduduk Mesir beragama Islam.

Tak berapa lama, layar raksasa stadion kemudian menampilkan pesan peringatan atas perilaku suporter tersebut.

Ironisnya, Timnas Spanyol sendiri memiliki pemain Muslim, yakni Lamine Yamal.

Lamine Yamal: Saya Seorang Muslim, Alhamdulillah

Merespons insiden tersebut, Yamal menyampaikan sikapnya melalui unggahan di Instagram.

"Iyo soy musulmán, alhamdulillah (Saya seorang Muslim, alhamdulillah)," isi kalimat pertama dari unggahan Yamal di Instagram.

Tak sampai di situ, ia membahan nyanyian suporter negaranya yang menurutnya tidak dapat ditoleransi.

Ia kemudian menjelaskan bahwa meski nyanyian tersebut ditujukan kepada tim lawan, hal itu tetap dianggap tidak pantas.

"Kemarin di stadion, terdengar nyanyian 'siapa pun yang tidak melompat adalah Muslim'. Saya tahu itu ditujukan kepada tim lawan dan bukan ditujukan secara pribadi kepada saya, tetapi sebagai seorang Muslim, itu tetap tidak sopan dan tidak dapat ditoleransi."

Yamal juga mengingatkan bahwa agama tidak seharusnya dijadikan bahan olok-olok di stadion.

"Saya mengerti bahwa tidak semua penggemar seperti itu, tetapi kepada mereka yang menyanyikan hal-hal ini: menggunakan agama sebagai lelucon di stadion membuat Anda terlihat bodoh dan rasis."

Ia menegaskan bahwa sepak bola semestinya menjadi ruang untuk menikmati pertandingan tanpa menghina identitas maupun keyakinan seseorang.

"Sepak bola seharusnya dinikmati dan disorak-sorai, bukan digunakan untuk tidak menghormati orang karena siapa mereka atau apa yang mereka yakini."

Meski kecewa dengan insiden tersebut, Yamal tetap menyampaikan apresiasi kepada para pendukung yang memberikan dukungan positif.

"Meskipun demikian, terima kasih kepada semua orang yang datang untuk mendukung kami, sampai jumpa di Piala Dunia," pungkas postingan dia.

Postingan Instagram Lamine Yamal hadapi ulah suporter yang rasis.Tangkapan layar Instagram @lamineyamal Postingan Instagram Lamine Yamal hadapi ulah suporter yang rasis.

Pemerintah Spanyol Lakukan Investigasi, FIFA Ancam Beri Sanksi

Pemerintah Spanyol bergerak cepat mengecam nyanyian bernada penghinaan tersebut.

Sejumlah menteri, yakni Felix Bolanos, Angel Víctor Torres, dan Oscar Puente, turut menyampaikan kecaman melalui media sosial terhadap insiden yang dinilai mencoreng nilai sportivitas sepak bola.

Sementara itu, Kepolisian Catalunya telah melakukan investigasi terkait dugaan tindakan rasialis dalam pertandingan Spanyol melawan Mesir.

Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) juga menghadapi ancaman sanksi dari FIFA. Penentuan hukuman akan mengacu pada laporan pertandingan yang disusun wasit asal Bulgaria, Georgi Kabakov.

RFEF Terancam Pembatasan Penonton dan Denda

Berdasarkan Kode Disiplin FIFA, RFEF berpotensi menerima dua jenis sanksi.

Sanksi pertama berupa pembatasan jumlah penonton pada pertandingan berikutnya di RCDE Stadium. Regulasi FIFA juga membuka kemungkinan penutupan sebagian stadion.

Selain itu, federasi juga terancam dikenai sanksi finansial berupa denda minimal 21 ribu euro atau sekitar Rp412,2 juta. Besaran denda dapat dikurangi apabila dinilai menimbulkan dampak ekonomi yang tidak proporsional terhadap federasi atau negara terkait.

"Untuk pelanggaran pertama, hukumannya adalah memainkan pertandingan dengan jumlah penonton terbatas dan denda minimal 20.000 franc Swiss (21.600 euro), kecuali jika hal ini akan menimbulkan konsekuensi ekonomi yang tidak proporsional bagi federasi atau klub anggota," demikian isi regulasi FIFA.

"Dalam hal ini, denda dapat dikurangi secara khusus menjadi minimal 1.000 franc Swiss (1.084 euro)," lanjut pernyataan mereka.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar