Editor
JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak para imam menjadikan masjid sebagai tempat membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan.
Menurut dia, ajakan itu dapat diwujudkan melalui langkah sehari-hari, mulai dari menghemat air dan mengurangi sampah hingga menanam pohon.
Hal tersebut disampaikan Nasaruddin, yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal, saat bertemu para imam dari berbagai negara peserta International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 dalam rilisnya, Sabtu (26/9/2026).
“Masjid dapat mengajarkan masyarakat untuk menghemat air, mengurangi sampah, menanam pohon, melindungi keanekaragaman hayati, menggunakan energi secara bertanggung jawab, dan menerapkan cara hidup yang lebih berkelanjutan,” kata Nasaruddin.
Baca juga: IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 mengusung tema “Keharmonisan Masjid, Diplomasi Keagamaan, dan Perdamaian Dunia”. Menurut Nasaruddin, tema tersebut berkaitan dengan tanggung jawab pemimpin agama untuk membangun kerukunan sekaligus menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ia menilai kepedulian lingkungan dapat menjadi ruang kerja sama antarumat beragama.
Meski memiliki ajaran yang berbeda, berbagai komunitas agama hidup di bumi yang sama dan menghadapi persoalan lingkungan bersama.
“Melindungi rumah kita bersama dapat menjadi platform yang kuat untuk kerja sama antaragama dan antarbangsa,” ujarnya.
Nasaruddin mengatakan, pertemuan para imam itu juga menjadi kesempatan untuk memperkuat persahabatan dan kepercayaan di antara pemimpin agama dari berbagai negara dan latar budaya.
“Kita semua dipersatukan oleh satu tanggung jawab yang sama, memastikan agama terus menginspirasi kebijaksanaan, kasih sayang, kerukunan, dan kepedulian terhadap dunia yang telah Allah amanahkan kepada kita,” katanya.
Ia berharap masjid dapat memancarkan semangat kerukunan, sementara para imam berperan mengajak masyarakat bekerja sama di tengah perbedaan.
“Mari kita bayangkan ekoteologi yang mengubah keimanan menjadi tanggung jawab untuk menjaga ciptaan,” ujar Nasaruddin.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.