Editor
KOMPAS.com - Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong para imam mengambil peran lebih luas dalam membangun perdamaian di tengah masyarakat.
Menurutnya, imam tidak hanya bertugas memimpin ibadah dan membimbing moral umat, tetapi juga dapat menjadi jembatan perdamaian, pendidik perdamaian, dan diplomat komunitas.
Baca juga: Imam Besar dari Berbagai Negara Akan Kumpul di Indonesia
Nasaruddin mengatakan, peran imam terus berkembang seiring perubahan dan tantangan yang dihadapi masyarakat.
Selain menjalankan fungsi tradisional, imam dinilai memiliki posisi penting dalam membangun hubungan yang lebih damai di lingkungan sosial.
“Peran imam terus berubah dan berkembang. Secara tradisional, imam dipahami sebagai orang yang memimpin salat, mengajarkan Al-Qur’an, menyampaikan khutbah, dan membimbing kehidupan moral umat. Fungsi ini tetap penting. Namun, di dunia yang semakin terhubung sekaligus sering terpecah, imam dituntut untuk menjadi lebih dari itu, menjadi bridge-builder, peace educator, community diplomat, dan representasi Islam di ruang publik yang lebih luas,” ujar Menag saat menjadi khatib Salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (25/9/2026).
Menurut dia, imam memiliki kedekatan dan kepercayaan dari masyarakat sehingga dapat berperan dalam mencegah konflik berkembang menjadi permusuhan.
“Imam berada dalam posisi yang unik untuk mendorong proses ini. Ia berbicara secara rutin kepada masyarakat, memahami persoalan lokal, memiliki legitimasi keagamaan, dan sering menjadi orang pertama yang didatangi ketika terjadi krisis keluarga, konflik sosial, atau kebingungan moral. Karena kepercayaan itu, imam dapat membantu mengurangi prasangka keagamaan sebelum berkembang menjadi permusuhan,” katanya.
Dalam menjalankan perannya di tengah masyarakat, Nasaruddin menekankan pentingnya pendekatan yang bijaksana. Menurutnya, menyampaikan Islam dengan penuh hikmah tidak berarti mengurangi keyakinan keagamaan.
“Imam yang mengedepankan hikmah tidak melemahkan imannya. Sebaliknya, ia menunjukkan kedewasaan dalam menyampaikan Islam dengan penuh martabat dan penghormatan,” ujar Menag.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar imam dapat menjalankan perannya di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang dan persoalan yang beragam.
Selain imam, Nasaruddin juga melihat masjid memiliki peran dalam membangun perdamaian. Masjid dapat dimanfaatkan sebagai ruang untuk mempertemukan masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan.
“Masjid sendiri bisa menjadi pusat diplomasi agama. Masjid dapat menjadi tuan rumah diskusi antar agama, kerja sama kemanusiaan, program pelestarian lingkungan, kegiatan pemuda, dan kunjungan pendidikan,” kata Menag.
Dengan fungsi tersebut, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang untuk menunjukkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat.
“Dalam hal ini, masjid menjadi bukan hanya tempat ibadah atau titik pertemuan antara Tuhan dan hamba-Nya, tetapi juga tempat di mana kasih sayang Islam dapat terlihat nyata di tengah masyarakat,” katanya.
Nasaruddin mengatakan, imam masa depan tetap harus memiliki pemahaman yang kuat terhadap Al-Qur’an dan Sunnah. Namun, kemampuan tersebut perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap masyarakat dan berbagai persoalan yang berkembang.
“Imam masa depan harus tetap berakar kuat pada Al-Qur’an dan Sunnah, sekaligus memahami masyarakat, penyelesaian konflik, urusan internasional, dan keragaman budaya,” ujar Menag.
Menurutnya, kemampuan memahami berbagai persoalan tersebut akan mendukung imam dalam menjalankan peran yang lebih luas di tengah masyarakat.
Nasaruddin juga mendorong penguatan diplomasi agama sebagai salah satu pendekatan untuk membangun perdamaian.
Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri International Grand Imam Conference 2026 yang diikuti lebih dari 40 grand imam dari berbagai negara.
“Diplomasi formal ternyata tidak banyak berhasil untuk meredam konflik. Mari kita mencoba jalur lain, bagaimana menyentuh hati nurani setiap insan di muka bumi ini. Kita sama-sama anak cucu Adam, kita sama-sama anak manusia, pasti punya rasa yang sama. Mari mempertemukan hati nurani untuk menyelesaikan konflik yang ada di antara kita,” kata Menag.
Ia menilai imam besar di setiap negara memiliki peran penting dalam menyentuh masyarakat melalui pendekatan kemanusiaan.
“Di sinilah peranan imam besar pada setiap negara, mampu menyentuh batin masyarakat, karena kita sangat yakin bahwa kemanusiaan itu hanya satu. Apapun agamanya, apapun etnisnya, apapun warga negaranya, hati dasar setiap insan itu adalah satu,” tandasnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.