KOMPAS.com - Banyak orang datang ke masjid beberapa detik sebelum iqamah, lalu langsung berdiri mengikuti shalat berjamaah.
Padahal, para ulama menjelaskan bahwa duduk dengan tenang sebelum shalat merupakan adab yang dianjurkan karena membantu menghadirkan kekhusyukan sejak awal ibadah.
Dalam Islam, persiapan shalat tidak dimulai ketika takbiratul ihram, melainkan sejak seseorang melangkahkan kaki menuju masjid, berwudhu, menunggu waktu shalat, hingga duduk dengan penuh ketenangan.
Sunnah ini mengajarkan bahwa shalat bukan sekadar rangkaian gerakan, tetapi perjumpaan seorang hamba dengan Allah SWT.
Al-Qur'an menyebut salah satu ciri orang beriman adalah khusyuk dalam shalat. Kekhusyukan itu lahir dari hati yang tenang dan fokus kepada Allah, bukan tergesa-gesa karena baru datang atau masih sibuk dengan urusan dunia.
Allah berfirman dalam QS Al-Mu’minun Ayat 1–2
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
Qad aflaḥal-mu’minūn. Allażīna hum fī ṣalātihim khāsyi‘ūn.
Baca juga: Manfaat Baca Shalawat Hari Jumat, Benarkah Dilipatgandakan 10 Kali?
Artinya: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.”
Para mufasir menjelaskan bahwa khusyuk mencakup ketenangan lahir dan batin. Karena itu, duduk sejenak sebelum shalat menjadi salah satu cara menyiapkan hati agar lebih mudah menghadirkan kekhusyukan ketika imam memulai shalat.
Salah satu hadis paling penting tentang adab menuju shalat diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW melarang umatnya berlari atau tergesa-gesa ketika iqamah telah dikumandangkan.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA:
إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَلَا تَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَسْعَوْنَ وَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَمْشُونَ وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ
Iżā uqīmatiṣ-ṣalātu falā ta’tūhā wa antum tas‘auna, wa’tūhā wa antum tamsyūna wa ‘alaikumus-sakīnah.
Baca juga: Khutbah Jumat 25 September 2026: Menjaga Profesionalisme dan Integritas Saat Bekerja
Artinya: “Apabila shalat telah didirikan, janganlah kalian mendatanginya dengan tergesa-gesa. Datangilah dengan berjalan dan tetap bersikap tenang.” (HR Sahih al-Bukhari No. 636; Sahih Muslim No. 602).
Hadis ini menjadi landasan bahwa ketenangan (sakinah) adalah adab yang didahulukan daripada mengejar rakaat dengan tergesa. Apa yang didapati bersama imam dikerjakan, sedangkan yang tertinggal disempurnakan setelah salam.
Dikutip dari Sunnah.com, dalam fikih, seseorang yang telah berwudhu lalu duduk menunggu shalat di masjid berada dalam keadaan ibadah.
Malaikat mendoakan orang yang tetap berada di tempat shalat selama ia menjaga kesuciannya dan tidak mengganggu orang lain.
Baca juga: Khutbah Jumat 25 September 2026: Pemimpin Harus Dahulukan Kepentingan Rakyat
Karena itu, duduk tenang bukan berarti menghabiskan waktu tanpa manfaat. Seorang Muslim dapat memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur'an, beristighfar, atau sekadar menenangkan pikiran sambil menanti iqamah. Kebiasaan ini membuat hati lebih siap memasuki shalat dengan penuh kesadaran.
Para ulama menyebut beberapa adab yang baik dilakukan ketika menunggu shalat.
Di antaranya adalah mematikan atau menonaktifkan suara ponsel, tidak berbicara keras, menjaga pandangan, serta menghindari kesibukan yang menghilangkan kekhusyukan.
Jika baru memasuki masjid dan waktu shalat belum dimulai, seseorang juga disunnahkan melaksanakan shalat Tahiyatul Masjid dua rakaat.
Setelah itu, ia dapat duduk menghadap kiblat sambil memperbanyak doa dan dzikir hingga iqamah dikumandangkan.
Kehidupan modern membuat banyak orang terbiasa berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain tanpa jeda.
Akibatnya, seseorang bisa datang ke masjid dengan pikiran yang masih dipenuhi pekerjaan, media sosial, atau berbagai urusan dunia.
Baca juga: Kemarau Panjang, Kapan Shalat Istisqa Disunnahkan?
Sunnah duduk tenang mengajarkan pentingnya memberi ruang bagi hati untuk beralih menuju ibadah.
Beberapa menit sebelum shalat sering kali menjadi waktu terbaik untuk mengingat Allah, menyadari kelemahan diri, dan menghadirkan niat yang ikhlas.
Dengan demikian, duduk tenang sebelum shalat bukan sekadar kebiasaan orang yang datang lebih awal, melainkan bagian dari adab yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Ketenangan sebelum takbir membantu melahirkan shalat yang lebih khusyuk, sehingga ibadah tidak hanya sah secara fikih, tetapi juga hidup dalam hati seorang mukmin.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.