Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kemarau Panjang, Kapan Shalat Istisqa Disunnahkan?

Kompas.com, 25 September 2026, 07:05 WIB
Puji Sri Rahayu,
Reni Susanti

Tim Redaksi

 KOMPAS.com - Kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan, krisis air bersih, hingga terganggunya pertanian menjadi salah satu kondisi ketika umat Islam dianjurkan melaksanakan shalat istisqa.

Ibadah ini merupakan shalat sunnah yang dilakukan untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT.

Shalat istisqa bukan sekadar doa meminta hujan, tetapi juga momentum bertaubat, memperbanyak istighfar, dan menyadari bahwa seluruh rezeki berasal dari Allah.

Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa istisqa disunnahkan ketika masyarakat benar-benar mengalami kebutuhan akan turunnya hujan.

Kapan Shalat Istisqa Disunnahkan?

Dalam fikih, shalat istisqa termasuk sunnah muakkadah, yakni sunnah yang sangat dianjurkan.

Mayoritas ulama dari mazhab Syafi'i, Maliki, Hanbali, dan Hanafi menyebutkan bahwa shalat ini dilakukan ketika terjadi kekeringan yang menyebabkan kesulitan bagi manusia, hewan, maupun tanaman.

Baca juga: Khutbah Jumat: Jangan Biarkan Korban Bencana Berjuang Sendiri

Kondisi tersebut tidak harus menunggu bencana besar. Selama kemarau berkepanjangan mengakibatkan kebutuhan air terganggu, pemerintah atau masyarakat dapat mengajak kaum Muslimin melaksanakan shalat istisqa secara berjamaah sebagai bentuk ikhtiar spiritual.

Al-Qur'an Menganjurkan Memperbanyak Istighfar

Sebelum meminta hujan, Al-Quran mengajarkan agar manusia memperbanyak istighfar dan kembali kepada Allah.

Hal ini disampaikan Nabi Nuh AS kepada kaumnya.

Allah berfirman dalam QS Nuh Ayat 10–12:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

Faqultustaghfirū rabbakum innahū kāna ghaffārā. Yursilis-samā'a ‘alaikum midrārā. Wa yumdidkum bi-amwālin wa banīna wa yaj‘al lakum jannātin wa yaj‘al lakum anhārā.

Artinya: “Maka aku berkata, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebun untukmu, dan mengadakan sungai-sungai untukmu."

Baca juga: Apa Makna Keramat dalam Islam? Ini Penjelasan Al-Hikam

Ayat ini menjadi dasar bahwa istighfar merupakan salah satu amalan utama sebelum memohon turunnya hujan.

Karena itu, khutbah istisqa biasanya dipenuhi dengan bacaan istighfar dan ajakan bertaubat.

Rasulullah Pernah Memimpin Shalat Istisqa

Praktik shalat istisqa dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW ketika Madinah dilanda kekeringan.

Dalam hadis sahih, seorang sahabat datang mengadukan bahwa hujan tidak turun dan tanaman mulai rusak.

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA: 

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

Allāhumma aghithnā, Allāhumma aghithnā, Allāhumma aghithnā.

Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.” (HR Sahih al-Bukhari No. 1013; Sahih Muslim No. 897)

Anas meriwayatkan bahwa setelah Rasulullah berdoa, awan mulai berkumpul dan hujan turun hingga beberapa hari. Riwayat ini menjadi landasan utama disyariatkannya istisqa dalam Islam.

Baca juga: Sejarah Arab Saudi: Dari Rute Rahasia di Gurun hingga Merebut Riyadh

Bagaimana Tata Cara Shalat Istisqa?

Shalat istisqa dilaksanakan dua rakaat secara berjamaah di lapangan terbuka, mirip dengan shalat Id.

Setelah shalat, imam menyampaikan khutbah yang berisi nasihat, ajakan bertaubat, memperbanyak istighfar, dan doa meminta hujan.

Dalam sebagian riwayat, Rasulullah juga membalikkan posisi selendangnya ketika berdoa.

Para ulama menjelaskan bahwa tindakan tersebut menjadi simbol harapan agar keadaan sulit berubah menjadi keberkahan dan kekeringan berganti dengan turunnya hujan.

Mengapa Taubat Menjadi Bagian Istisqa?

Islam mengajarkan bahwa musibah tidak selalu identik dengan hukuman, tetapi menjadi momentum muhasabah.

Karena itu, istisqa tidak hanya berisi permohonan hujan, melainkan juga perbaikan hubungan manusia dengan Allah dan sesama.

Baca juga: Empati Jadi Bekal Pemimpin, Gita Wirjawan: Jangan Remehkan Kekuatannya 

Para ulama menekankan pentingnya meninggalkan kezaliman, memperbanyak sedekah, menyambung silaturahim, dan menunaikan hak-hak orang lain sebelum melaksanakan istisqa.

Hikmah ini menunjukkan bahwa keberkahan rezeki berkaitan erat dengan kualitas ketakwaan masyarakat.

Ikhtiar Spiritual dan Ikhtiar Nyata Berjalan Bersama

Shalat istisqa tidak mengajarkan umat Islam pasif menghadapi kemarau.

Berdoa dan beribadah harus berjalan beriringan dengan ikhtiar nyata seperti menghemat air, menjaga lingkungan, memperbaiki pengelolaan sumber daya air, dan melestarikan hutan sebagai penyangga ekosistem.

Karena itu, ketika kemarau panjang melanda, shalat istisqa menjadi bentuk penghambaan sekaligus pengingat bahwa manusia wajib menjaga bumi yang telah Allah amanahkan.

Dengan memadukan doa, taubat, dan ikhtiar, umat Islam diajarkan untuk menghadapi kekeringan dengan penuh tawakal dan tanggung jawab.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Menag Tawarkan Diplomasi Agama Indonesia untuk Redam Konflik Global
Menag Tawarkan Diplomasi Agama Indonesia untuk Redam Konflik Global
Aktual
Khutbah Jumat Bulan Rabiul Akhir 25 September 2026: Menjaga Istiqamah
Khutbah Jumat Bulan Rabiul Akhir 25 September 2026: Menjaga Istiqamah
Aktual
Khutbah Jumat Menyentuh Hati: Belajar Memaafkan Meski Pernah Terluka
Khutbah Jumat Menyentuh Hati: Belajar Memaafkan Meski Pernah Terluka
Aktual
Teks Khutbah Jumat Menyentuh Hati: Syukur Bukan Sekadar Ucapan
Teks Khutbah Jumat Menyentuh Hati: Syukur Bukan Sekadar Ucapan
Aktual
Khutbah Jumat 25 September 2026: Jangan Tunggu Tua untuk Bertaubat
Khutbah Jumat 25 September 2026: Jangan Tunggu Tua untuk Bertaubat
Aktual
Kemarau Panjang, Kapan Shalat Istisqa Disunnahkan?
Kemarau Panjang, Kapan Shalat Istisqa Disunnahkan?
Aktual
Manfaat Baca Shalawat Hari Jumat, Benarkah Dilipatgandakan 10 Kali?
Manfaat Baca Shalawat Hari Jumat, Benarkah Dilipatgandakan 10 Kali?
Aktual
Khutbah Jumat 25 September 2026: Pemimpin Dituntut untuk Berlaku Adil
Khutbah Jumat 25 September 2026: Pemimpin Dituntut untuk Berlaku Adil
Aktual
Khutbah Jumat 25 September 2026: Pemimpin Harus Dahulukan Kepentingan Rakyat
Khutbah Jumat 25 September 2026: Pemimpin Harus Dahulukan Kepentingan Rakyat
Aktual
Khutbah Jumat 25 September 2026: Menjaga Profesionalisme dan Integritas Saat Bekerja
Khutbah Jumat 25 September 2026: Menjaga Profesionalisme dan Integritas Saat Bekerja
Aktual
Jelang Wajib Halal 18 Oktober 2026, MUI: Sertifikasi Halal Beri Nilai Tambah Produk
Jelang Wajib Halal 18 Oktober 2026, MUI: Sertifikasi Halal Beri Nilai Tambah Produk
Aktual
Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, Pemerintah Pastikan Manfaatnya untuk Produsen dan Konsumen
Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, Pemerintah Pastikan Manfaatnya untuk Produsen dan Konsumen
Aktual
Talhah bin Ubaidillah, Sahabat yang Lindungi Rasulullah dengan Tubuhnya
Talhah bin Ubaidillah, Sahabat yang Lindungi Rasulullah dengan Tubuhnya
Aktual
Wajib Halal Mulai 18 Oktober 2026, Pemerintah Pastikan Tak Ganggu Perdagangan
Wajib Halal Mulai 18 Oktober 2026, Pemerintah Pastikan Tak Ganggu Perdagangan
Aktual
Menko Airlangga: Ekonomi Syariah Perlu Diperkuat untuk Dorong Pertumbuhan Inklusif
Menko Airlangga: Ekonomi Syariah Perlu Diperkuat untuk Dorong Pertumbuhan Inklusif
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar