KOMPAS.com - Kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan, krisis air bersih, hingga terganggunya pertanian menjadi salah satu kondisi ketika umat Islam dianjurkan melaksanakan shalat istisqa.
Ibadah ini merupakan shalat sunnah yang dilakukan untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT.
Shalat istisqa bukan sekadar doa meminta hujan, tetapi juga momentum bertaubat, memperbanyak istighfar, dan menyadari bahwa seluruh rezeki berasal dari Allah.
Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa istisqa disunnahkan ketika masyarakat benar-benar mengalami kebutuhan akan turunnya hujan.
Dalam fikih, shalat istisqa termasuk sunnah muakkadah, yakni sunnah yang sangat dianjurkan.
Mayoritas ulama dari mazhab Syafi'i, Maliki, Hanbali, dan Hanafi menyebutkan bahwa shalat ini dilakukan ketika terjadi kekeringan yang menyebabkan kesulitan bagi manusia, hewan, maupun tanaman.
Baca juga: Khutbah Jumat: Jangan Biarkan Korban Bencana Berjuang Sendiri
Kondisi tersebut tidak harus menunggu bencana besar. Selama kemarau berkepanjangan mengakibatkan kebutuhan air terganggu, pemerintah atau masyarakat dapat mengajak kaum Muslimin melaksanakan shalat istisqa secara berjamaah sebagai bentuk ikhtiar spiritual.
Sebelum meminta hujan, Al-Quran mengajarkan agar manusia memperbanyak istighfar dan kembali kepada Allah.
Hal ini disampaikan Nabi Nuh AS kepada kaumnya.
Allah berfirman dalam QS Nuh Ayat 10–12:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
Faqultustaghfirū rabbakum innahū kāna ghaffārā. Yursilis-samā'a ‘alaikum midrārā. Wa yumdidkum bi-amwālin wa banīna wa yaj‘al lakum jannātin wa yaj‘al lakum anhārā.
Artinya: “Maka aku berkata, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebun untukmu, dan mengadakan sungai-sungai untukmu."
Baca juga: Apa Makna Keramat dalam Islam? Ini Penjelasan Al-Hikam
Ayat ini menjadi dasar bahwa istighfar merupakan salah satu amalan utama sebelum memohon turunnya hujan.
Karena itu, khutbah istisqa biasanya dipenuhi dengan bacaan istighfar dan ajakan bertaubat.
Praktik shalat istisqa dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW ketika Madinah dilanda kekeringan.
Dalam hadis sahih, seorang sahabat datang mengadukan bahwa hujan tidak turun dan tanaman mulai rusak.
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA:
اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا
Allāhumma aghithnā, Allāhumma aghithnā, Allāhumma aghithnā.
Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.” (HR Sahih al-Bukhari No. 1013; Sahih Muslim No. 897)
Anas meriwayatkan bahwa setelah Rasulullah berdoa, awan mulai berkumpul dan hujan turun hingga beberapa hari. Riwayat ini menjadi landasan utama disyariatkannya istisqa dalam Islam.
Baca juga: Sejarah Arab Saudi: Dari Rute Rahasia di Gurun hingga Merebut Riyadh
Shalat istisqa dilaksanakan dua rakaat secara berjamaah di lapangan terbuka, mirip dengan shalat Id.
Setelah shalat, imam menyampaikan khutbah yang berisi nasihat, ajakan bertaubat, memperbanyak istighfar, dan doa meminta hujan.
Dalam sebagian riwayat, Rasulullah juga membalikkan posisi selendangnya ketika berdoa.
Para ulama menjelaskan bahwa tindakan tersebut menjadi simbol harapan agar keadaan sulit berubah menjadi keberkahan dan kekeringan berganti dengan turunnya hujan.
Islam mengajarkan bahwa musibah tidak selalu identik dengan hukuman, tetapi menjadi momentum muhasabah.
Karena itu, istisqa tidak hanya berisi permohonan hujan, melainkan juga perbaikan hubungan manusia dengan Allah dan sesama.
Baca juga: Empati Jadi Bekal Pemimpin, Gita Wirjawan: Jangan Remehkan Kekuatannya
Para ulama menekankan pentingnya meninggalkan kezaliman, memperbanyak sedekah, menyambung silaturahim, dan menunaikan hak-hak orang lain sebelum melaksanakan istisqa.
Hikmah ini menunjukkan bahwa keberkahan rezeki berkaitan erat dengan kualitas ketakwaan masyarakat.
Shalat istisqa tidak mengajarkan umat Islam pasif menghadapi kemarau.
Berdoa dan beribadah harus berjalan beriringan dengan ikhtiar nyata seperti menghemat air, menjaga lingkungan, memperbaiki pengelolaan sumber daya air, dan melestarikan hutan sebagai penyangga ekosistem.
Karena itu, ketika kemarau panjang melanda, shalat istisqa menjadi bentuk penghambaan sekaligus pengingat bahwa manusia wajib menjaga bumi yang telah Allah amanahkan.
Dengan memadukan doa, taubat, dan ikhtiar, umat Islam diajarkan untuk menghadapi kekeringan dengan penuh tawakal dan tanggung jawab.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.