Editor
KOMPAS.com — Jauh sebelum Arab Saudi menjadi sebuah negara, Riyadh telah menjadi bagian dari pikiran seorang pemuda bernama Abdulaziz bin Abdulrahman Al Saud.
Kota itu telah ia tinggalkan sejak 1891. Namun, selama bertahun-tahun berada di Kuwait, keinginan untuk kembali ke Riyadh tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam catatan sejarah yang dihimpun King Abdulaziz Foundation for Research and Archives atau Darah, Abdulaziz muda bahkan disebut kerap meninggalkan tempat tinggalnya pada malam hari.
Ia berjalan seorang diri menuju tempat terpencil di tengah gurun.
Jauh dari permukiman dan keramaian, ia memikirkan satu hal: bagaimana Riyadh dapat direbut kembali.
Bagi Abdulaziz, keinginan tersebut ternyata bukan sekadar kerinduan terhadap kota kelahirannya.
Baca juga: Muazin Masjidil Haram Syekh Ibrahim Al-Madani Wafat, Pernah Menangis Saat Azan di Depan Kabah
Darah mencatat, tanda-tanda kepemimpinan Abdulaziz mulai terlihat pada masa tersebut. Ia tidak hanya membayangkan kembali ke Riyadh, tetapi juga melihat kemungkinan yang lebih besar, yakni membangun sebuah negara.
Upaya Abdulaziz untuk kembali ke Riyadh tidak langsung berhasil.
Sekitar 1901, ia melakukan percobaan pertama dalam rangka merebut kembali kota tersebut, bertepatan dengan periode Pertempuran Al-Sarif.
Namun, upaya itu belum mencapai tujuan.
Kegagalan tersebut tidak membuat rencananya berakhir.
Beberapa bulan kemudian, Abdulaziz kembali bergerak.
Kali ini, ia menuju Riyadh bersama sejumlah kecil orang yang setia kepadanya.
Perjalanan itu kemudian menjadi salah satu episode paling penting dalam sejarah Arab Saudi modern.
Mereka bergerak melintasi lanskap gurun yang keras menuju Riyadh. Perjalanan dilakukan dengan penuh perhitungan karena keberhasilan operasi bergantung pada kerahasiaan, keteguhan, dan strategi.
Bahkan rute yang mereka tempuh kemudian menjadi bagian penting dari catatan sejarah.
Darah menyimpan sebuah peta yang menunjukkan rute rahasia yang digunakan Abdulaziz untuk merebut kembali Riyadh pada 1319 Hijriah atau 1902.
Peta tersebut memberikan gambaran geografis mengenai perjalanan yang dilakukan sebelum salah satu momen paling menentukan dalam sejarah Saudi.
Pada 15 Januari 1902, bertepatan dengan 5 Syawal 1319 Hijriah, tujuan Abdulaziz akhirnya tercapai.
Riyadh berhasil direbut kembali.
Apa yang semula tampak seperti kisah tentang perjalanan berani menuju sebuah kota kemudian berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.
Darah menyebut perebutan kembali Riyadh sebagai salah satu peristiwa utama dalam sejarah Arab Saudi.
Pasalnya, peristiwa tersebut menjadi awal dari fase penyatuan wilayah yang kemudian melahirkan negara Saudi modern.
Setelah menguasai Riyadh, Abdulaziz melanjutkan proses penyatuan wilayah-wilayah lain.
Wilayah kekuasaannya perlahan meluas.
Pemerintahan mulai dibangun.
Institusi berkembang.
Dan Riyadh, kota yang dahulu menjadi tujuan dari sebuah perjalanan rahasia, kemudian berubah menjadi pusat pemerintahan dari sebuah negara yang terus berkembang.
Perjalanan dari perebutan Riyadh menuju terbentuknya Arab Saudi tidak berlangsung dalam waktu singkat.
Selama hampir tiga dekade, Abdulaziz menjalani proses panjang untuk menyatukan berbagai wilayah di Semenanjung Arab.
Puncaknya terjadi pada 23 September 1932.
Pada tanggal tersebut, perintah kerajaan yang menyatukan wilayah-wilayah tersebut dengan nama Kerajaan Arab Saudi mulai berlaku.
Darah menggambarkan pengumuman tersebut sebagai puncak dari proses penyatuan dan pembangunan yang berlangsung selama hampir tiga dekade.
Karena itu, perjalanan Abdulaziz menuju Riyadh pada 1902 memiliki makna yang jauh melampaui jarak geografis.
Baca juga: Masjid Berusia 1.300 Tahun Ditemukan di Arab Saudi, Simpan Prasasti Al-Quran
Pada awalnya, perjalanan itu hanya menuju sebuah kota.
Namun, dalam perjalanan sejarah, Riyadh kemudian menjadi titik awal menuju lahirnya sebuah kerajaan.
Dari sebuah rute rahasia di tengah gurun, dimulailah perjalanan panjang yang pada akhirnya mengantarkan lahirnya Kerajaan Arab Saudi.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.