KOMPAS.com - Istilah keramat sering dikaitkan dengan kemampuan luar biasa yang dimiliki seseorang, mulai dari kisah para wali hingga berbagai cerita yang berkembang di masyarakat.
Akibatnya, tidak sedikit orang mengira keramat identik dengan kesaktian atau kejadian ajaib yang selalu tampak di hadapan manusia.
Padahal, dalam khazanah tasawuf Islam, makna keramat jauh lebih dalam. Kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari menjelaskan bahwa kemuliaan seorang hamba tidak diukur dari keajaiban yang dimilikinya, melainkan dari istiqamah dalam menaati Allah SWT.
Karena itu, memahami keramat harus dimulai dari Al-Qur'an, hadis sahih, dan penjelasan ulama.
Al-Hikam atau Al-Hikam al-'Atha'iyyah adalah kitab tasawuf klasik yang ditulis oleh Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari, seorang ulama besar Mesir yang wafat pada tahun 709 Hijriah.
Beliau dikenal sebagai ahli fikih mazhab Maliki sekaligus tokoh Tarekat Syadziliyah yang banyak menulis tentang penyucian jiwa dan perjalanan spiritual seorang mukmin.
Baca juga: Jadwal Sholat Kota Denpasar September 2026, Lengkap dari Kemenag
Kitab ini bukan kitab hadis maupun kitab fikih, melainkan kumpulan hikmah atau aforisme yang berisi nasihat tentang ikhlas, tawakal, ridha, syukur, dan istiqamah. Karena itu, ketika Al-Hikam berbicara tentang keramat, pembahasannya lebih menekankan pembinaan hati daripada pencarian keajaiban lahiriah.
Dalam istilah akidah, keramat adalah perkara luar biasa yang Allah anugerahkan kepada wali-Nya sebagai bentuk pemuliaan.
Keramat bukan hasil latihan, ilmu kesaktian, ataupun kemampuan yang dapat diperoleh manusia dengan usahanya sendiri.
Menurut Imam Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam, seorang mukmin tidak seharusnya menjadikan keramat sebagai tujuan ibadah.
Beliau menegaskan bahwa karamah terbesar justru ketika Allah meneguhkan seorang hamba dalam ketaatan dan menjaganya dari kemaksiatan. Dengan demikian, istiqamah lebih mulia daripada mengejar pengalaman-pengalaman yang menakjubkan.
Baca juga: Empati Jadi Bekal Pemimpin, Gita Wirjawan: Jangan Remehkan Kekuatannya
Landasan tentang keramat berawal dari penjelasan Al-Qur'an mengenai sifat para wali Allah. Allah tidak menyebut mereka karena memiliki kemampuan ajaib, melainkan karena iman dan ketakwaannya.
Allah berfirman dalam QS Yunus Ayat 62–63:
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ٦٢ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ ٦٣
Alā inna auliyā'allāhi lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanūn. Allażīna āmanū wa kānū yattaqūn
Artinya: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.”
Ayat ini menunjukkan bahwa ukuran kewalian adalah iman dan takwa. Para mufasir menjelaskan bahwa keramat hanyalah kemungkinan karunia Allah, sedangkan syarat menjadi wali adalah ketakwaan yang terus dijaga.
Rasulullah SAW juga menjelaskan bagaimana seorang hamba mencapai kedudukan mulia di sisi Allah melalui ibadah, bukan melalui pencarian keramat.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA:
وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
Wa mā yazālu ‘abdī yataqarrabu ilayya bin-nawāfili ḥattā uḥibbah.
Artinya: “Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.” (HR Sahih al-Bukhari No. 6502).
Baca juga: Zakat Jangkau 43,7 Juta Mustahik, Bagaimana Bantuan Bisa Membuka Peluang Usaha?
Hadis qudsi ini menjadi dasar penting dalam tasawuf. Kedekatan kepada Allah dibangun melalui ibadah wajib dan sunnah.
Apabila Allah menghendaki, Dia dapat menganugerahkan keramat kepada hamba-Nya, tetapi keramat bukan tujuan yang dikejar.
Para ulama membedakan tiga istilah yang sering disalahpahami. Mukjizat adalah perkara luar biasa yang Allah berikan kepada para nabi sebagai bukti kerasulan.
Keramat diberikan kepada wali Allah sebagai bentuk pemuliaan, sedangkan istidraj adalah kenikmatan atau kemampuan luar biasa yang justru menjadi ujian bagi orang yang jauh dari Allah.
Karena itu, setiap kejadian menakjubkan tidak otomatis disebut keramat. Ukurannya tetap kembali kepada akidah, ketakwaan, dan kesesuaiannya dengan syariat Islam.
Pesan utama Al-Hikam adalah mengalihkan perhatian seorang mukmin dari kekaguman terhadap keajaiban menuju kesungguhan dalam beribadah.
Imam Ibnu Athaillah mengajarkan bahwa hati yang konsisten menjaga shalat, jujur, sabar, dan ikhlas jauh lebih bernilai daripada mengejar pengakuan sebagai orang yang memiliki karamah.
Baca juga: Jangan Gengsi Membungkus Sisa Makanan, Ini Pesan Rasulullah
Dengan demikian, makna keramat dalam Islam bukanlah kesaktian yang membuat seseorang tampak istimewa di mata manusia.
Keramat sejati adalah ketika Allah menjaga seorang hamba agar tetap istiqamah, semakin dekat kepada-Nya, dan semakin baik akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kitab Al-Hikam, Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari mengingatkan bahwa seorang murid tidak boleh menjadikan karamah sebagai tujuan ibadah. Salah satu hikmahnya menyebut, “Bisa jadi seseorang dianugerahi karamah, padahal belum sempurna istiqamahnya.”
Para ulama dalam syarah Al-Hikam kemudian menjelaskan bahwa kemuliaan seorang wali tidak diukur dari keajaiban yang tampak, melainkan dari istiqamah dalam iman dan ketaatan kepada Allah.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.