Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jangan Gengsi Membungkus Sisa Makanan, Ini Pesan Rasulullah

Kompas.com, 24 September 2026, 08:25 WIB
Puji Sri Rahayu,
Reni Susanti

Tim Redaksi

Sumber NU Online

KOMPAS.com - Membungkus sisa makanan setelah makan di restoran sering kali masih dianggap memalukan oleh sebagian orang.

Padahal, dalam ajaran Islam, menjaga makanan agar tidak terbuang justru merupakan bagian dari adab menghargai nikmat Allah SWT.

Rasulullah SAW mengajarkan agar seorang Muslim tidak menyia-nyiakan makanan, bahkan menganjurkan mengambil kembali suapan yang jatuh apabila masih layak dimakan.

Karena itu, membawa pulang makanan yang masih baik bukanlah tindakan pelit, melainkan bentuk syukur dan kepedulian agar rezeki tidak terbuang sia-sia.

Islam Melarang Berlebih-lebihan dalam Makanan

Al-Qur'an menegaskan bahwa makan dan minum diperbolehkan, tetapi tidak boleh disertai sikap berlebihan atau pemborosan. Prinsip ini menjadi fondasi etika konsumsi dalam Islam.

Baca juga: Libur Lebaran 2027: Ada Potensi Liburan 10 Hari, Cek Tanggal Merah dan Cuti Bersama

Allah berfirman dalam QS Al-A'raf Ayat 31:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Yā banī Ādama khużū zīnatakum ‘inda kulli masjidin wa kulū wasyrabū wa lā tusrifū, innahū lā yuḥibbul-musrifīn.

Artinya: “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap memasuki masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Para ulama menjelaskan bahwa isrāf tidak hanya berarti makan secara berlebihan, tetapi juga menyia-nyiakan makanan yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan. Karena itu, membungkus sisa makanan termasuk upaya menghindari pemborosan.

Baca juga: Mengapa Surah Maryam Sering Dibaca? Ini Keutamaan dan Kandungannya

Rasulullah Mengajarkan Menghargai Setiap Suapan

Salah satu hadis sahih yang paling sering dijadikan dasar adab makan adalah anjuran Rasulullah agar tidak meninggalkan makanan yang terjatuh.

Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah RA: 

إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَا فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَا وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ

Idzā waqa‘at luqmatu aḥadikum falyakhudzhā falyumiṭ mā kāna bihā min adzā wa lya'kulhā wa lā yada‘hā lisy-syaithān.

Artinya: “Apabila suapan salah seorang di antara kalian jatuh, hendaklah ia mengambilnya, membersihkan kotoran yang menempel padanya, lalu memakannya dan jangan membiarkannya untuk setan.” (HR Sahih Muslim No. 2033)

Baca juga: Kapan Awal Ramadhan 2027? Catat Prediksi Jadwal Puasa Ramadhan 1448 H

Hadis ini menunjukkan betapa Islam menghargai setiap nikmat makanan. Jika suapan yang jatuh saja dianjurkan untuk diambil kembali ketika masih layak, maka makanan yang masih utuh di atas meja tentu lebih layak diselamatkan daripada dibuang.

Membungkus Sisa Makanan Adalah Bentuk Syukur

Rasulullah memang tidak menyebut istilah take away atau membungkus makanan seperti praktik modern saat ini.

Namun, para ulama memahami bahwa tujuan syariat adalah menjaga nikmat Allah dan mencegah pemborosan.

Dalam konteks sekarang, membungkus makanan yang masih bersih dan layak dikonsumsi menjadi penerapan nilai yang diajarkan Rasulullah.

Makanan itu bisa dimakan kembali di rumah, dibagikan kepada keluarga, atau disimpan dengan baik sehingga tidak berakhir di tempat sampah.

Karena itu, rasa gengsi seharusnya tidak mengalahkan sikap syukur. Nilai utama yang dijaga bukan penampilan di hadapan orang lain, melainkan penghormatan terhadap rezeki yang Allah berikan.

Baca juga: Menag Berhentikan Rektor UINSA Surabaya Akh Muzakki

Jangan Sisakan Makanan Tanpa Alasan

Hadis lain juga menunjukkan bahwa Rasulullah menyukai kebiasaan menghabiskan makanan dan tidak membiarkan sisa-sisa yang masih dapat dimakan.

Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah RA:

فَإِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ فِي أَيِّ طَعَامِكُمُ الْبَرَكَةُ

Fa innakum lā tadrūna fī ayyi ṭa‘āmikum al-barakah.

Artinya: “Sesungguhnya kalian tidak mengetahui pada bagian makanan yang mana terdapat keberkahan.” (HR Sahih Muslim No. 2033). 

Para ulama menjelaskan bahwa keberkahan makanan tidak selalu diukur dari jumlahnya, tetapi dari manfaat yang Allah letakkan di dalamnya. Karena itu, menghabiskan atau menyimpan makanan yang masih baik merupakan sikap menghormati keberkahan tersebut.

Baca juga: Shalat Istisqa: Tata Cara, Bacaan, dan Khutbah Sesuai Tuntunan Tarjih Muhammadiyah

Adab Membungkus Makanan yang Perlu Diperhatikan

Meski dibolehkan, membungkus makanan tetap memiliki adab. Pertama, pastikan makanan masih layak konsumsi dan tidak tercemar.

Kedua, mintalah wadah kepada pihak restoran dengan sopan tanpa merusak etika pelayanan.

Ketiga, simpan makanan sesuai ketentuan agar tetap aman dikonsumsi. Apabila porsinya terlalu banyak, membaginya kepada anggota keluarga atau tetangga juga menjadi bentuk berbagi rezeki yang dianjurkan dalam Islam.

Jangan Gengsi Menjaga Rezeki

Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari kemampuannya meninggalkan makanan di meja, melainkan dari kesyukurannya terhadap nikmat Allah.

Membungkus sisa makanan bukan tanda kekurangan, tetapi cerminan tanggung jawab agar rezeki tidak berubah menjadi pemborosan.

Baca juga: Gus Ipul Siapkan Somasi, 3 Orang Bakal Diminta Buktikan Tudingan soal Muktamar NU

Di tengah tingginya angka sampah makanan, kebiasaan sederhana membawa pulang makanan yang masih layak menjadi salah satu cara menghidupkan sunnah menghargai nikmat.

Sebab setiap suapan adalah amanah, dan setiap rezeki layak dijaga dengan penuh rasa syukur.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Khutbah Jumat: Jangan Biarkan Korban Bencana Berjuang Sendiri
Khutbah Jumat: Jangan Biarkan Korban Bencana Berjuang Sendiri
Aktual
Apa Makna Keramat dalam Islam? Ini Penjelasan Al-Hikam
Apa Makna Keramat dalam Islam? Ini Penjelasan Al-Hikam
Aktual
Sejarah Arab Saudi: Dari Rute Rahasia di Gurun hingga Merebut Riyadh
Sejarah Arab Saudi: Dari Rute Rahasia di Gurun hingga Merebut Riyadh
Aktual
Muazin Masjidil Haram Syekh Ibrahim Al-Madani Wafat, Pernah Menangis Saat Azan di Depan Ka'bah
Muazin Masjidil Haram Syekh Ibrahim Al-Madani Wafat, Pernah Menangis Saat Azan di Depan Ka'bah
Aktual
Empati Jadi Bekal Pemimpin, Gita Wirjawan: Jangan Remehkan Kekuatannya
Empati Jadi Bekal Pemimpin, Gita Wirjawan: Jangan Remehkan Kekuatannya
Aktual
Jadwal Sholat Kota Denpasar September 2026, Lengkap dari Kemenag
Jadwal Sholat Kota Denpasar September 2026, Lengkap dari Kemenag
Aktual
Zakat Jangkau 43,7 Juta Mustahik, Bagaimana Bantuan Bisa Membuka Peluang Usaha?
Zakat Jangkau 43,7 Juta Mustahik, Bagaimana Bantuan Bisa Membuka Peluang Usaha?
Aktual
GP Ansor Bentuk Satgas Aksi Kemanusiaan 2026, Bersih-bersih Sungai hingga Tangani Bencana
GP Ansor Bentuk Satgas Aksi Kemanusiaan 2026, Bersih-bersih Sungai hingga Tangani Bencana
Aktual
Pernah Zina, Haruskah Jujur kepada Calon Suami atau Istri?
Pernah Zina, Haruskah Jujur kepada Calon Suami atau Istri?
Aktual
MUHI Rekam 77 Tahun Perjalanan dalam Buku, Haedar Nashir: Sejarah Perlu Diwariskan
MUHI Rekam 77 Tahun Perjalanan dalam Buku, Haedar Nashir: Sejarah Perlu Diwariskan
Aktual
Jangan Gengsi Membungkus Sisa Makanan, Ini Pesan Rasulullah
Jangan Gengsi Membungkus Sisa Makanan, Ini Pesan Rasulullah
Aktual
Mentan Amran Bangun Masjid Rp 1 Triliun dari Dana Pribadi, Ditargetkan Digunakan 2027
Mentan Amran Bangun Masjid Rp 1 Triliun dari Dana Pribadi, Ditargetkan Digunakan 2027
Aktual
Belajar dari GKPI Rajeg, Persoalan Tempat Ibadah Harus Diselesaikan lewat Dialog
Belajar dari GKPI Rajeg, Persoalan Tempat Ibadah Harus Diselesaikan lewat Dialog
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN Tanggal Berapa? Ini Prediksi Ramadan 1448 H
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN Tanggal Berapa? Ini Prediksi Ramadan 1448 H
Aktual
Visit My Mosque 2026, Muhammadiyah Kenalkan Islam Indonesia di London
Visit My Mosque 2026, Muhammadiyah Kenalkan Islam Indonesia di London
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar