Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rezeki Seret, Apakah Istighfar Benar-Benar Membuka Pintu Rezeki?

Kompas.com, 25 September 2026, 10:01 WIB
Puji Sri Rahayu,
Reni Susanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ketika usaha terasa sepi, pekerjaan sulit didapat, atau penghasilan menurun, tidak sedikit umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak istighfar.

Nasihat ini sering disampaikan dengan keyakinan bahwa istighfar dapat membuka pintu rezeki.

Lalu, benarkah anggapan tersebut memiliki dasar dalam Al-Qur'an dan hadis? Jawabannya adalah ya, tetapi perlu dipahami secara utuh.

Islam mengajarkan bahwa istighfar merupakan sebab datangnya keberkahan rezeki, bukan jaminan memperoleh kekayaan secara instan tanpa disertai ikhtiar.

Al-Qur'an Mengaitkan Istighfar dengan Keberkahan Rezeki

Dasar paling kuat mengenai hubungan istighfar dan rezeki terdapat dalam dakwah Nabi Nuh AS kepada kaumnya. Allah SWT memerintahkan mereka agar memohon ampun terlebih dahulu sebelum mengharapkan turunnya keberkahan.

Allah berfirman dalam QS Nuh Ayat 10–12:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

Faqultustaghfirū rabbakum innahū kāna ghaffārā. Yursilis-samā'a ‘alaikum midrārā. Wa yumdidkum bi-amwālin wa banīna wa yaj‘al lakum jannātin wa yaj‘al lakum anhārā.

Baca juga: Menag Tawarkan Diplomasi Agama Indonesia untuk Redam Konflik Global

Artinya: “Maka aku berkata, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebun untukmu, dan mengadakan sungai-sungai untukmu.’”

Ayat ini menunjukkan bahwa istighfar memiliki hubungan dengan turunnya keberkahan. Para mufasir menjelaskan, rezeki yang dimaksud tidak hanya berupa harta, tetapi juga kesuburan, keturunan, dan berbagai bentuk nikmat yang menopang kehidupan manusia.

Istighfar Adalah Bentuk Tobat, Bukan Mantra Rezeki

Dalam bahasa Arab, istighfar berarti memohon ampun kepada Allah atas dosa dan kekhilafan. Karena itu, hakikat istighfar bukan sekadar mengulang lafaz, melainkan disertai penyesalan, meninggalkan maksiat, dan tekad memperbaiki diri.

Baca juga: Sayyidul Istighfar: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya

Banyak ulama menegaskan bahwa ayat tentang istighfar tidak boleh dipahami sebagai rumus otomatis memperoleh kekayaan.

Rezeki tetap berada dalam ketetapan Allah dan diperoleh melalui ikhtiar yang halal, sedangkan istighfar menjadi sebab hadirnya keberkahan dan dibukakannya berbagai jalan kebaikan.

Rasulullah Memperbanyak Istighfar Setiap Hari

Anjuran memperbanyak istighfar juga dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW. Padahal beliau adalah nabi yang diampuni dosanya, tetapi tetap menjadikan istighfar sebagai amalan harian.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA:

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

Wallāhi innī la astaghfirullāha wa atūbu ilaihi fil-yaumi aktsara min sab‘īna marrah.

Artinya: “Demi Allah, sungguh aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR Sahih al-Bukhari No. 6307)

Baca juga: Teks Khutbah Jumat Menyentuh Hati: Syukur Bukan Sekadar Ucapan

Hadis ini memperlihatkan bahwa istighfar bukan hanya dilakukan ketika memiliki masalah. Rasulullah menjadikannya sebagai bentuk kerendahan hati dan kedekatan kepada Allah dalam setiap keadaan.

Mengapa Dosa Bisa Menghalangi Keberkahan?

Islam mengajarkan bahwa kemaksiatan dapat mengurangi keberkahan hidup, sedangkan ketaatan menjadi sebab datangnya pertolongan Allah. Oleh karena itu, ketika seseorang memperbanyak istighfar, ia sedang membersihkan hubungan spiritualnya dengan Allah sekaligus memperbaiki kualitas dirinya.

Perbaikan tersebut sering kali berdampak pada kehidupan nyata. Orang yang bertobat cenderung lebih jujur, disiplin, amanah, dan menjauhi rezeki haram. Sifat-sifat inilah yang menjadi fondasi keberhasilan dalam bekerja maupun bermuamalah dengan sesama.

Istighfar Harus Disertai Ikhtiar

Salah satu kekeliruan yang sering terjadi adalah menganggap cukup beristighfar tanpa berusaha. Padahal Islam selalu menggabungkan doa, tawakal, dan ikhtiar. Seorang pedagang tetap harus bekerja dengan jujur, pencari kerja tetap harus berusaha, dan petani tetap harus menanam sebelum berharap hasil panen.

Baca juga: Khutbah Jumat 25 September 2026: Pemimpin Harus Dahulukan Kepentingan Rakyat

Istighfar bukan pengganti usaha, melainkan penyempurna usaha. Ia menjadi ikhtiar batin yang mengiringi ikhtiar lahir agar rezeki yang diperoleh tidak hanya banyak, tetapi juga halal, berkah, dan membawa ketenangan.

Rezeki Terbaik Adalah yang Penuh Keberkahan

Ketika rezeki terasa seret, Islam mengajarkan agar seorang mukmin tidak putus asa. Memperbanyak istighfar, memperbaiki amal, menjauhi maksiat, dan tetap bekerja dengan sungguh-sungguh merupakan jalan yang diajarkan Al-Qur'an dan dicontohkan Rasulullah SAW.

Dengan demikian, istighfar memang memiliki dasar kuat sebagai sebab datangnya keberkahan rezeki. Namun, yang dibuka Allah bukan semata pintu kekayaan, melainkan pintu rahmat, kemudahan, dan kecukupan bagi hamba yang kembali kepada-Nya dengan tulus.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar