KOMPAS.com - Ketika usaha terasa sepi, pekerjaan sulit didapat, atau penghasilan menurun, tidak sedikit umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak istighfar.
Nasihat ini sering disampaikan dengan keyakinan bahwa istighfar dapat membuka pintu rezeki.
Lalu, benarkah anggapan tersebut memiliki dasar dalam Al-Qur'an dan hadis? Jawabannya adalah ya, tetapi perlu dipahami secara utuh.
Islam mengajarkan bahwa istighfar merupakan sebab datangnya keberkahan rezeki, bukan jaminan memperoleh kekayaan secara instan tanpa disertai ikhtiar.
Dasar paling kuat mengenai hubungan istighfar dan rezeki terdapat dalam dakwah Nabi Nuh AS kepada kaumnya. Allah SWT memerintahkan mereka agar memohon ampun terlebih dahulu sebelum mengharapkan turunnya keberkahan.
Allah berfirman dalam QS Nuh Ayat 10–12:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
Faqultustaghfirū rabbakum innahū kāna ghaffārā. Yursilis-samā'a ‘alaikum midrārā. Wa yumdidkum bi-amwālin wa banīna wa yaj‘al lakum jannātin wa yaj‘al lakum anhārā.
Baca juga: Menag Tawarkan Diplomasi Agama Indonesia untuk Redam Konflik Global
Artinya: “Maka aku berkata, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebun untukmu, dan mengadakan sungai-sungai untukmu.’”
Ayat ini menunjukkan bahwa istighfar memiliki hubungan dengan turunnya keberkahan. Para mufasir menjelaskan, rezeki yang dimaksud tidak hanya berupa harta, tetapi juga kesuburan, keturunan, dan berbagai bentuk nikmat yang menopang kehidupan manusia.
Dalam bahasa Arab, istighfar berarti memohon ampun kepada Allah atas dosa dan kekhilafan. Karena itu, hakikat istighfar bukan sekadar mengulang lafaz, melainkan disertai penyesalan, meninggalkan maksiat, dan tekad memperbaiki diri.
Baca juga: Sayyidul Istighfar: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya
Banyak ulama menegaskan bahwa ayat tentang istighfar tidak boleh dipahami sebagai rumus otomatis memperoleh kekayaan.
Rezeki tetap berada dalam ketetapan Allah dan diperoleh melalui ikhtiar yang halal, sedangkan istighfar menjadi sebab hadirnya keberkahan dan dibukakannya berbagai jalan kebaikan.
Anjuran memperbanyak istighfar juga dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW. Padahal beliau adalah nabi yang diampuni dosanya, tetapi tetap menjadikan istighfar sebagai amalan harian.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
Wallāhi innī la astaghfirullāha wa atūbu ilaihi fil-yaumi aktsara min sab‘īna marrah.
Artinya: “Demi Allah, sungguh aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR Sahih al-Bukhari No. 6307)
Baca juga: Teks Khutbah Jumat Menyentuh Hati: Syukur Bukan Sekadar Ucapan
Hadis ini memperlihatkan bahwa istighfar bukan hanya dilakukan ketika memiliki masalah. Rasulullah menjadikannya sebagai bentuk kerendahan hati dan kedekatan kepada Allah dalam setiap keadaan.
Islam mengajarkan bahwa kemaksiatan dapat mengurangi keberkahan hidup, sedangkan ketaatan menjadi sebab datangnya pertolongan Allah. Oleh karena itu, ketika seseorang memperbanyak istighfar, ia sedang membersihkan hubungan spiritualnya dengan Allah sekaligus memperbaiki kualitas dirinya.
Perbaikan tersebut sering kali berdampak pada kehidupan nyata. Orang yang bertobat cenderung lebih jujur, disiplin, amanah, dan menjauhi rezeki haram. Sifat-sifat inilah yang menjadi fondasi keberhasilan dalam bekerja maupun bermuamalah dengan sesama.
Salah satu kekeliruan yang sering terjadi adalah menganggap cukup beristighfar tanpa berusaha. Padahal Islam selalu menggabungkan doa, tawakal, dan ikhtiar. Seorang pedagang tetap harus bekerja dengan jujur, pencari kerja tetap harus berusaha, dan petani tetap harus menanam sebelum berharap hasil panen.
Baca juga: Khutbah Jumat 25 September 2026: Pemimpin Harus Dahulukan Kepentingan Rakyat
Istighfar bukan pengganti usaha, melainkan penyempurna usaha. Ia menjadi ikhtiar batin yang mengiringi ikhtiar lahir agar rezeki yang diperoleh tidak hanya banyak, tetapi juga halal, berkah, dan membawa ketenangan.
Ketika rezeki terasa seret, Islam mengajarkan agar seorang mukmin tidak putus asa. Memperbanyak istighfar, memperbaiki amal, menjauhi maksiat, dan tetap bekerja dengan sungguh-sungguh merupakan jalan yang diajarkan Al-Qur'an dan dicontohkan Rasulullah SAW.
Dengan demikian, istighfar memang memiliki dasar kuat sebagai sebab datangnya keberkahan rezeki. Namun, yang dibuka Allah bukan semata pintu kekayaan, melainkan pintu rahmat, kemudahan, dan kecukupan bagi hamba yang kembali kepada-Nya dengan tulus.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.