Editor
KOMPAS.com - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid KH Abdurrahman Wahid pada Selasa (22/9) menjadi momentum penguatan semangat khidmah dan persatuan Nahdlatul Ulama (NU).
Acara tersebut juga dirangkai dengan tasyakuran Muktamar ke-35 NU di Jombang serta pelepasan Relawan Kemanusiaan Ansor 2026.
Ketua Umum GP Ansor Addin Jauharudin menyatakan, momentum Maulid Nabi mengingatkan pentingnya meneladani akhlak Rasulullah SAW, kepedulian terhadap sesama, dan pengabdian kepada umat.
“Maulid Nabi mengajarkan kita untuk terus meneladani akhlak Rasulullah SAW, merawat kemanusiaan, sekaligus menjaga khidmah di rumah besar Nahdlatul Ulama,” ujar Addin.
Menurut Addin, setelah selesainya Muktamar ke-35 NU, seluruh kader perlu kembali memusatkan energi pada khidmah organisasi dan pelayanan kepada umat.
Baca juga: Gus Ipul Siapkan Somasi, 3 Orang Bakal Diminta Buktikan Tudingan soal Muktamar NU
GP Ansor bersama Banser dan MDS Rijalul Ansor akan kembali menjalankan program organisasi serta menjaga rumah besar Nahdlatul Ulama.
“Saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh sahabat yang telah menjadi bagian dari panitia dan menyukseskan Muktamar ke-35 di Jombang. Sekarang waktunya kita kembali berkhidmah,” katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (25/9/2026).
Addin mengajak seluruh kader untuk mengakhiri perdebatan mengenai Muktamar dan tidak lagi mempertajam perbedaan yang terjadi selama proses tersebut.
“Sudahi perdebatan soal Muktamar. Jangan sampai kita mengobral keburukan rumah kita sendiri. Jangan biarkan perselisihan kita menjadi tontonan orang lain, terlebih menjadi tontonan anak-anak kita yang kelak menjadi generasi NU,” tegasnya.
NU, kata Addin, membutuhkan energi besar untuk menjawab berbagai persoalan jemaah.
Oleh karena itu, persatuan, gotong royong, dan keteladanan dinilai lebih penting daripada memperpanjang perdebatan.
“Jamaah NU membutuhkan banyak sentuhan. Mereka membutuhkan kehadiran dan kerja nyata kita. Karena itu, mari kita bangun persatuan, bergotong royong, dan bersama-sama membantu menyelesaikan persoalan umat,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh kader memberikan kepercayaan kepada struktur dan kepemimpinan PBNU yang baru, serta mengawalnya agar dapat menjalankan amanah organisasi dengan baik.
“Proses Muktamar sudah selesai. Seluruh prosesnya telah memiliki legitimasi organisasi. Tidak ada lagi yang perlu kita perdebatkan. Kita sudah cukup lelah dengan berbagai konflik yang menguras energi,” kata Addin.
Muktamar, menurutnya, merupakan mekanisme organisasi untuk menyelesaikan persoalan dan menentukan arah kepemimpinan.
Setelah proses tersebut selesai, seluruh elemen NU memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga hasilnya dan memastikan organisasi kembali bergerak memberikan manfaat.
“Mari kita jaga hasil Muktamar dan kita doakan kepemimpinan PBNU yang baru agar mampu membawa kapal besar NU menuju kemajuan dan kemaslahatan,” katanya.
Addin mengibaratkan NU sebagai rumah besar yang dihuni dan dirawat bersama oleh seluruh warganya.
Perbedaan, kata dia, merupakan bagian dari dinamika organisasi, tetapi tidak boleh membuat rumah bersama kehilangan kekuatan untuk melayani umat.
“Rumah ini milik kita bersama. Mari kita jaga, kita rawat, dan kita isi dengan khidmah. Jangan habiskan energi untuk saling menjatuhkan. Arahkan energi kita untuk menguatkan umat,” ujarnya.
Semangat tersebut juga ditandai dengan pelepasan Relawan Kemanusiaan Ansor 2026.
Kehadiran relawan menjadi bagian dari upaya GP Ansor untuk menerjemahkan semangat Maulid Nabi dalam bentuk aksi nyata kemanusiaan.
Addin mengajak seluruh kader Ansor dan Banser untuk terus hadir di tengah masyarakat, terutama ketika umat membutuhkan pertolongan.
Baca juga: Gus Kikin Targetkan Kepengurusan PBNU 2026-2031 Rampung 30 Hari usai Muktamar
“Khidmah bukan sekadar kata. Khidmah harus hadir dalam kerja nyata, dalam kepedulian dan kesediaan membantu sesama,” katanya.
Di akhir acara, Addin mengajak seluruh kader Ansor dan keluarga besar Nahdlatul Ulama untuk mendoakan Ketua Umum PBNU terpilih agar senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan keteguhan dalam menjalankan amanah.
“Semoga seluruh elemen Nahdlatul Ulama semakin solid, terus bergerak, dan semakin berdampak bagi kesejahteraan umat,” pungkas Addin.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.