Editor
KOMPAS.com - Keberhasilan Timnas Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026 menjadi salah satu pencapaian terbesar La Furia Roja di pentas sepak bola dunia.
Di balik kesuksesan tersebut, nama Lamine Yamal tampil sebagai salah satu pemain muda yang paling mencuri perhatian sepanjang turnamen.
Penampilannya membuat Yamal disebut sebagai salah satu ancaman terbesar bagi Timnas Argentina pada laga final.
Baca juga: Di Balik Momen Gemas Lamine Yamal dan Sang Adik, Ini Peran Keluarga bagi Mental Anak
Namun, tak ada yang menyangka jika beberapa bulan sebelum mengangkat trofi Piala Dunia 2026, Yamal sempat menjadi sorotan karena sikap tegasnya menanggapi nyanyian bernada anti-Islam dari suporter negaranya sendiri.
Di balik performa impresif sang wonderkid Barcelona bersama La Furia Roja, Yamal juga pernah menjadi sorotan karena responsnya terhadap aksi rasis yang menyasar agama yang dianutnya.
Baca juga: Momen Lamine Yamal Berdoa usai Spanyol Juara Piala Dunia 2026 Viral
Insiden tersebut terjadi ketika Spanyol menjamu Mesir dalam laga uji coba di RCDE Stadium, Selasa (31/3/2026).
Saat itu, sorotan utama justru datang dari tribun penonton, di mana sejumlah suporter Spanyol meneriakkan chant bernada rasis terhadap umat Islam.
"Jump, jump, jump, whoever doesn’t jump is a Muslim (Lompat, lompat, lompat, siapa pun yang tidak melompat adalah seorang Muslim)," demikian suara yang terdengar dari tribun penonton.
Nyanyian itu menjadi perhatian mengingat mayoritas penduduk Mesir beragama Islam.
Tak berapa lama, layar raksasa stadion kemudian menampilkan pesan peringatan atas perilaku suporter tersebut.
Ironisnya, Timnas Spanyol sendiri memiliki pemain Muslim, yakni Lamine Yamal.
Merespons insiden tersebut, Yamal menyampaikan sikapnya melalui unggahan di Instagram.
"Iyo soy musulmán, alhamdulillah (Saya seorang Muslim, alhamdulillah)," isi kalimat pertama dari unggahan Yamal di Instagram.
Tak sampai di situ, ia membahan nyanyian suporter negaranya yang menurutnya tidak dapat ditoleransi.
Ia kemudian menjelaskan bahwa meski nyanyian tersebut ditujukan kepada tim lawan, hal itu tetap dianggap tidak pantas.
"Kemarin di stadion, terdengar nyanyian 'siapa pun yang tidak melompat adalah Muslim'. Saya tahu itu ditujukan kepada tim lawan dan bukan ditujukan secara pribadi kepada saya, tetapi sebagai seorang Muslim, itu tetap tidak sopan dan tidak dapat ditoleransi."
Yamal juga mengingatkan bahwa agama tidak seharusnya dijadikan bahan olok-olok di stadion.
"Saya mengerti bahwa tidak semua penggemar seperti itu, tetapi kepada mereka yang menyanyikan hal-hal ini: menggunakan agama sebagai lelucon di stadion membuat Anda terlihat bodoh dan rasis."
Ia menegaskan bahwa sepak bola semestinya menjadi ruang untuk menikmati pertandingan tanpa menghina identitas maupun keyakinan seseorang.
"Sepak bola seharusnya dinikmati dan disorak-sorai, bukan digunakan untuk tidak menghormati orang karena siapa mereka atau apa yang mereka yakini."
Meski kecewa dengan insiden tersebut, Yamal tetap menyampaikan apresiasi kepada para pendukung yang memberikan dukungan positif.
"Meskipun demikian, terima kasih kepada semua orang yang datang untuk mendukung kami, sampai jumpa di Piala Dunia," pungkas postingan dia.
Postingan Instagram Lamine Yamal hadapi ulah suporter yang rasis.Pemerintah Spanyol bergerak cepat mengecam nyanyian bernada penghinaan tersebut.
Sejumlah menteri, yakni Felix Bolanos, Angel Víctor Torres, dan Oscar Puente, turut menyampaikan kecaman melalui media sosial terhadap insiden yang dinilai mencoreng nilai sportivitas sepak bola.
Sementara itu, Kepolisian Catalunya telah melakukan investigasi terkait dugaan tindakan rasialis dalam pertandingan Spanyol melawan Mesir.
Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) juga menghadapi ancaman sanksi dari FIFA. Penentuan hukuman akan mengacu pada laporan pertandingan yang disusun wasit asal Bulgaria, Georgi Kabakov.
Berdasarkan Kode Disiplin FIFA, RFEF berpotensi menerima dua jenis sanksi.
Sanksi pertama berupa pembatasan jumlah penonton pada pertandingan berikutnya di RCDE Stadium. Regulasi FIFA juga membuka kemungkinan penutupan sebagian stadion.
Selain itu, federasi juga terancam dikenai sanksi finansial berupa denda minimal 21 ribu euro atau sekitar Rp412,2 juta. Besaran denda dapat dikurangi apabila dinilai menimbulkan dampak ekonomi yang tidak proporsional terhadap federasi atau negara terkait.
"Untuk pelanggaran pertama, hukumannya adalah memainkan pertandingan dengan jumlah penonton terbatas dan denda minimal 20.000 franc Swiss (21.600 euro), kecuali jika hal ini akan menimbulkan konsekuensi ekonomi yang tidak proporsional bagi federasi atau klub anggota," demikian isi regulasi FIFA.
"Dalam hal ini, denda dapat dikurangi secara khusus menjadi minimal 1.000 franc Swiss (1.084 euro)," lanjut pernyataan mereka.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang