Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

6 Tips Memilih Hewan Kurban Sehat, Ini Syarat Lengkap Menurut Syariat

Kompas.com, 17 April 2026, 13:30 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Menjelang Hari Raya Idul Adha, aktivitas memilih hewan kurban mulai terlihat di berbagai daerah.

Dari pasar hewan hingga peternakan, masyarakat mulai mencari kambing, domba, sapi, atau kerbau terbaik untuk ibadah tahunan ini.

Namun di balik proses tersebut, ada satu hal yang sering luput dipahami secara utuh, memilih hewan kurban bukan sekadar soal harga atau ukuran, tetapi juga soal kesesuaian syarat syariat, kesehatan, dan etika dalam beribadah.

Dalam pandangan fikih, hewan kurban yang baik akan menentukan kesempurnaan ibadah. Karena itu, pemilihan tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa.

Baca juga: Idul Adha 2026 Diprediksi 27 Mei, Ada Peluang Libur Panjang 5 Hari

Dasar Penting dalam Memilih Hewan Kurban

Dalam Islam, hewan kurban harus berasal dari jenis hewan ternak tertentu yang telah ditetapkan syariat, seperti kambing, domba, sapi, kerbau, dan unta.

Ketentuan ini merujuk pada berbagai literatur fikih klasik, di antaranya penjelasan dalam Fiqh as-Sunnah karya Sayyid Sabiq serta Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab karya Imam Nawawi.

Keduanya menegaskan bahwa ibadah kurban bukan hanya ritual penyembelihan, tetapi bentuk pendekatan diri kepada Allah yang harus dilakukan dengan hewan terbaik sesuai kemampuan.

Dalam konteks ini, lembaga seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan berbagai organisasi keislaman juga menekankan pentingnya memastikan hewan kurban memenuhi syarat kesehatan, usia, dan bebas cacat.

Kondisi Kesehatan: Kunci Utama Hewan Kurban

Hal pertama yang paling mendasar adalah memastikan hewan dalam kondisi sehat. Dalam praktiknya, hewan yang sehat biasanya terlihat dari aktivitasnya yang lincah, nafsu makan yang baik, serta tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit.

Dalam panduan yang juga sejalan dengan literatur veteriner Islam modern, beberapa indikator kesehatan hewan dapat dikenali dari mata yang jernih, hidung yang tidak mengeluarkan cairan berlebihan, serta bulu yang bersih dan tidak kusam.

Dalam buku Al-Halal wal Haram fil Islam karya Yusuf al-Qaradawi, dijelaskan bahwa Islam sangat memperhatikan aspek kebersihan dan keamanan dalam konsumsi hewan, termasuk dalam ibadah kurban. Artinya, hewan yang sakit atau berpotensi menularkan penyakit tidak layak dijadikan kurban.

Usia Hewan Kurban: Tidak Boleh Sembarangan

Selain sehat, usia hewan juga menjadi syarat penting. Dalam fikih, terdapat batas minimal usia yang harus dipenuhi.

Sapi atau kerbau umumnya harus berusia minimal dua tahun, kambing minimal satu tahun, sedangkan domba memiliki pengecualian jika sudah cukup umur secara fisik meskipun belum genap satu tahun.

Dalam Al-Mughni karya Ibnu Qudamah, dijelaskan bahwa ketentuan usia ini berkaitan dengan tingkat kematangan hewan yang dianggap layak secara fisik untuk dijadikan kurban.

Cara sederhana yang sering digunakan di lapangan adalah pemeriksaan gigi. Jika gigi susu depan telah tanggal, biasanya itu menjadi indikator bahwa hewan telah memasuki usia yang disyaratkan.

Baca juga: Kapan Idul Adha 2026? Ini Prediksi, Hitung Mundur, dan Jadwal Liburnya

Bebas Cacat: Syarat yang Tidak Bisa Ditawar

Salah satu syarat paling tegas dalam kurban adalah hewan tidak boleh cacat. Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, Rasulullah SAW melarang kurban dengan hewan yang jelas-jelas buta, sakit, pincang, atau sangat kurus.

Para ulama kemudian merinci bahwa cacat yang mengganggu fungsi dasar hewan dapat menggugurkan kelayakannya sebagai hewan kurban.

Dalam praktiknya, hewan yang tidak layak biasanya menunjukkan tanda fisik seperti kesulitan berjalan, penurunan berat badan ekstrem, hingga kondisi tubuh yang tidak proporsional.

BAZNAS dalam panduan kurban modern juga menegaskan bahwa hewan kurban harus benar-benar layak konsumsi dan tidak dalam kondisi yang mengganggu kesehatan masyarakat.

Aspek Kebersihan dan Lingkungan Ternak

Hal lain yang sering diabaikan adalah lingkungan tempat hewan dipelihara. Padahal, faktor ini sangat mempengaruhi kualitas hewan kurban.

Hewan yang dipelihara di lingkungan kotor atau dekat dengan limbah berisiko lebih tinggi mengalami penyakit. Sebaliknya, hewan yang dibesarkan di lingkungan bersih cenderung lebih sehat dan minim stres.

Dalam perspektif fikih kontemporer, seperti yang dijelaskan dalam kajian-kajian fikih lingkungan, kebersihan lingkungan ternak menjadi bagian dari tanggung jawab moral dalam memastikan kualitas hewan kurban.

Surat Kesehatan Hewan dan Legalitas

Di era modern, aspek administratif juga tidak kalah penting. Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) menjadi salah satu dokumen yang menunjukkan bahwa hewan telah diperiksa oleh pihak berwenang.

Dokumen ini tidak hanya penting secara hukum, tetapi juga menjadi bentuk kehati-hatian agar hewan yang dikurbankan benar-benar aman untuk dikonsumsi.

Dalam beberapa panduan resmi Kementerian Pertanian dan lembaga keagamaan, SKKH menjadi standar minimal dalam distribusi hewan kurban di berbagai daerah.

Baca juga: Hukum Kurban untuk Orang Meninggal, Boleh atau Tidak? Ini Kata Ulama

Memahami Tanda Fisik Hewan yang Sehat

Secara umum, ada beberapa tanda yang bisa diperhatikan masyarakat saat memilih hewan kurban. Meski sederhana, indikator ini cukup membantu untuk memastikan kualitas hewan.

Hewan yang sehat biasanya memiliki gerakan aktif, tidak lemas, serta respons yang baik terhadap lingkungan sekitar. Kotorannya tidak terlalu cair atau terlalu keras, dan bulunya terlihat bersih serta tidak berdiri.

Dalam literatur peternakan Islam modern, tanda-tanda ini digunakan sebagai pendekatan praktis agar masyarakat tidak salah memilih hewan kurban.

Hikmah di Balik Ketelitian Memilih Hewan Kurban

Jika dilihat lebih dalam, ketelitian dalam memilih hewan kurban bukan hanya soal teknis ibadah, tetapi juga mencerminkan kesungguhan seseorang dalam beribadah kepada Allah SWT.

Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kesempurnaan ibadah tidak hanya terletak pada bentuknya, tetapi juga pada niat dan kualitas pelaksanaannya.

Memilih hewan terbaik berarti menunjukkan rasa hormat terhadap perintah Allah, sekaligus kepedulian terhadap sesama, karena daging kurban nantinya akan dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.

Ibadah yang Dimulai dari Ketelitian

Ibadah kurban selalu dimulai jauh sebelum hari penyembelihan. Ia dimulai dari niat, kemudian berlanjut pada proses pemilihan hewan yang tepat.

Dalam pandangan Islam, semakin baik kualitas hewan yang dipilih, semakin besar pula kesungguhan seseorang dalam menjalankan ibadah ini.

Karena itu, memilih hewan kurban yang sehat, cukup umur, dan bebas cacat bukan sekadar anjuran teknis, tetapi bagian dari kesempurnaan ibadah itu sendiri.

Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat akan ibadah kurban, pemahaman yang benar tentang kriteria hewan kurban menjadi semakin penting.

Dan pada akhirnya, kurban bukan hanya tentang apa yang disembelih, tetapi tentang bagaimana seorang Muslim mempersiapkan dirinya untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara terbaik yang ia mampu.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
103 Jemaah Gagal Umrah, Kemenhaj Blokir PT Gema Suara Talbia
103 Jemaah Gagal Umrah, Kemenhaj Blokir PT Gema Suara Talbia
Aktual
Kemenag Cairkan Rp4,156 Miliar untuk Rumah Ibadah Buddha Terdampak Banjir Sumatera
Kemenag Cairkan Rp4,156 Miliar untuk Rumah Ibadah Buddha Terdampak Banjir Sumatera
Aktual
MUI Minta Menkeu Suahasil Tak Banyak Utang: Tidak Baik
MUI Minta Menkeu Suahasil Tak Banyak Utang: Tidak Baik
Aktual
Menag Ungkap Tugas Penting Ditjen Pesantren: Cegah Kekerasan hingga Tertibkan Data
Menag Ungkap Tugas Penting Ditjen Pesantren: Cegah Kekerasan hingga Tertibkan Data
Aktual
Dokter Ungkap Cara Jaga Kesehatan Tulang Belakang untuk Menunjang Ibadah dan Aktivitas
Dokter Ungkap Cara Jaga Kesehatan Tulang Belakang untuk Menunjang Ibadah dan Aktivitas
Aktual
Sayembara Surat Santri untuk Presiden Dibuka, Karya Terbaik Akan Disampaikan ke Prabowo
Sayembara Surat Santri untuk Presiden Dibuka, Karya Terbaik Akan Disampaikan ke Prabowo
Aktual
Tema dan Logo Hari Santri 2026 Diluncurkan, Ini Rangkaian Acaranya
Tema dan Logo Hari Santri 2026 Diluncurkan, Ini Rangkaian Acaranya
Aktual
Niat dalam Hati atau Diucapkan? Ini Penjelasan Ulama
Niat dalam Hati atau Diucapkan? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
Zubair bin Al-Awwam, Hawari Rasulullah yang Dijuluki Pembela Nabi
Zubair bin Al-Awwam, Hawari Rasulullah yang Dijuluki Pembela Nabi
Aktual
Apa yang Diucapkan Saat Bersin? Ini Sunnah Rasulullah Lengkap
Apa yang Diucapkan Saat Bersin? Ini Sunnah Rasulullah Lengkap
Aktual
Doa Meminta Hujan, Termasuk untuk Dibaca Saat Khutbah Shalat Istisqa
Doa Meminta Hujan, Termasuk untuk Dibaca Saat Khutbah Shalat Istisqa
Aktual
Profil KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor
Profil KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor
Aktual
Menag Akan Tertibkan Pesantren yang Cuma Catut Nama, Soroti Kepatuhan Unsur dan Syarat
Menag Akan Tertibkan Pesantren yang Cuma Catut Nama, Soroti Kepatuhan Unsur dan Syarat
Aktual
Libur Lebaran 2027 Bisa Sampai 10 Hari, Ini Rangkaian Tanggal Merah dan Cuti Bersamanya
Libur Lebaran 2027 Bisa Sampai 10 Hari, Ini Rangkaian Tanggal Merah dan Cuti Bersamanya
Aktual
 Mengapa Membaca Al-Quran Setelah Subuh Memiliki Keutamaan?
Mengapa Membaca Al-Quran Setelah Subuh Memiliki Keutamaan?
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar