Editor
KOMPAS.com - Kepulangan jemaah haji ke Tanah Air tidak hanya membawa kenangan spiritual, tetapi juga tantangan psikologis yang kerap tidak disadari.
Sebagian jemaah dapat mengalami sindrom pascahaji, yaitu kondisi ketika seseorang merasakan kerinduan mendalam terhadap suasana ibadah di Tanah Suci setelah kembali menjalani rutinitas sehari-hari.
Fenomena ini muncul karena pengalaman selama haji melibatkan aspek emosional, spiritual, sosial, hingga pengalaman sensorik yang sangat kuat.
Baca juga: Sebanyak 5.329 Jemaah Haji Khusus Indonesia Sudah Pulang ke Tanah Air
Psikolog menyebut kondisi tersebut merupakan bagian dari proses penyesuaian diri setelah menjalani pengalaman hidup yang sangat bermakna.
Dilansir dari Antara, Psikolog anak, remaja, dan keluarga, Efnie Indrianie, S.Psi, M.Psi, Psikolog, menjelaskan bahwa ibadah haji dan umrah merupakan pengalaman yang melibatkan hampir seluruh aspek kehidupan manusia.
Baca juga: YIA Layani Debarkasi Haji Perdana, Jemaah Kloter 1 Kulon Progo Telah Tiba dari Jeddah
"Dalam perspektif bio-neuropsikologi, haji dan umrah merupakan pengalaman yang melibatkan hampir seluruh aspek manusia, emosi, spiritualitas, hubungan sosial, makna hidup, serta pengalaman sensorik yang sangat kuat," katanya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
PR Asosiasi Neuropsikologi Indonesia-Himpunan Psikologi Indonesia itu mengatakan jemaah yang menunaikan haji atau umrah biasanya merasakan kedekatan spiritual dengan Tuhan serta ketenangan karena dapat beribadah secara fokus di lingkungan yang mendukung bersama jutaan Muslim lainnya.
Menurut Efnie, pengalaman tersebut membentuk jejak memori emosional yang sangat kuat di otak, terutama pada sistem limbik yang berperan sebagai pusat emosi dan hippocampus yang berfungsi sebagai pusat memori.
Efnie menjelaskan bahwa setelah kembali ke kehidupan sehari-hari, otak secara alami membandingkan kondisi saat ini dengan pengalaman spiritual yang pernah dirasakan selama berada di Tanah Suci.
"Ketika kembali ke kehidupan sehari-hari yang penuh tuntutan pekerjaan, kemacetan, tagihan, konflik keluarga, atau tekanan sosial, otak membandingkan kondisi saat ini dengan pengalaman spiritual yang pernah dirasakan di Tanah Suci," ia menjelaskan.
Perbandingan tersebut dapat memunculkan rasa rindu terhadap suasana ibadah di Masjidil Haram, Makkah, maupun Masjid Nabawi di Madinah.
Akibatnya, sebagian jemaah terdorong untuk kembali melihat foto atau video saat menjalankan ibadah haji sebagai cara mengenang pengalaman yang pernah dirasakan.
Menurut Efnie, sebagian orang juga dapat merasakan kehilangan setelah pulang dari Tanah Suci, menangis ketika mengingat momen ibadah, hingga mengalami kesulitan beradaptasi dengan rutinitas yang terasa lebih sibuk dan bising.
"Fenomena ini secara psikologis mirip dengan proses re-entry adjustment, yaitu penyesuaian kembali setelah mengalami pengalaman hidup yang sangat bermakna," kata dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha itu.
Efnie mengungkapkan terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami sindrom pascahaji.
Salah satunya adalah tingkat keterlibatan spiritual yang sangat tinggi selama menjalankan ibadah haji atau umrah.
Menurut dia, semakin mendalam pengalaman spiritual yang dirasakan seseorang, semakin kuat pula memori emosional yang terbentuk selama berada di Tanah Suci.
Selain itu, kondisi kehidupan sebelum berhaji juga berpengaruh terhadap munculnya sindrom pascahaji.
Efnie mengatakan bagi sebagian orang, Tanah Suci menjadi tempat untuk beristirahat secara psikologis dari berbagai tekanan hidup yang sedang dihadapi.
Ketika kembali ke kehidupan sehari-hari dan harus menghadapi kembali berbagai persoalan tersebut, kontras emosional yang dirasakan menjadi semakin besar.
Menurut Efnie, orang dengan kepribadian reflektif dan emosional juga lebih rentan mengalami sindrom pascahaji.
Kelompok ini umumnya memiliki empati tinggi, gemar merenung, dan lebih sensitif terhadap pengalaman spiritual sehingga kerinduan yang dirasakan setelah pulang dari Tanah Suci bisa menjadi lebih mendalam.
Selain faktor kepribadian, perubahan besar dalam kehidupan juga dapat memicu munculnya sindrom pascahaji.
"Sedang berada dalam fase pencarian makna hidup. Misalnya setelah kehilangan orang tercinta, menghadapi penyakit, krisis usia paruh baya, atau perubahan besar dalam kehidupan," katanya.
Menurut Efnie, kondisi tersebut membuat seseorang lebih mudah terhubung secara emosional dengan pengalaman spiritual selama berhaji, sehingga proses penyesuaian saat kembali ke kehidupan sehari-hari menjadi lebih menantang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang