KOMPAS.com – Di tengah ajaran Islam yang menekankan kesucian lahir dan batin, ada satu amalan sederhana yang sering kali dianggap sepele, tetapi memiliki makna mendalam, yaitu memotong kuku.
Aktivitas ini bukan sekadar rutinitas kebersihan, melainkan bagian dari fitrah manusia yang dijaga dalam syariat.
Bahkan, dalam sejumlah hadis, Rasulullah SAW menempatkan memotong kuku sejajar dengan praktik kebersihan lain yang mencerminkan identitas seorang Muslim.
Lalu, bagaimana sebenarnya cara dan waktu terbaik memotong kuku menurut sunnah Nabi? Apakah ada aturan khusus dalam Islam? Berikut penjelasan lengkapnya.
Baca juga: 10 Waktu Mustajab untuk Berdoa dan Adab Agar Doa Dikabulkan Allah
Dalam ajaran Islam, kebersihan bukan hanya soal estetika, tetapi juga bagian dari ibadah. Hal ini tercermin dalam hadis riwayat Imam Muslim, di mana Rasulullah SAW bersabda bahwa ada lima perkara yang termasuk fitrah, salah satunya adalah memotong kuku.
Konsep fitrah dalam Islam merujuk pada kondisi alami manusia yang selaras dengan nilai kesucian dan kebersihan.
Dalam konteks ini, kuku yang dibiarkan panjang dan kotor dapat mengganggu kebersihan, bahkan berpotensi menjadi tempat berkumpulnya kuman.
Dalam buku Fiqh as-Sunnah karya Sayyid Sabiq, dijelaskan bahwa menjaga kebersihan tubuh, termasuk memotong kuku, merupakan bagian dari adab yang mencerminkan kesempurnaan iman seseorang. Dengan kata lain, kebersihan fisik menjadi pintu menuju kebersihan spiritual.
Para ulama sepakat bahwa hukum memotong kuku adalah sunnah muakkadah, yaitu amalan yang sangat dianjurkan.
Artinya, seseorang tidak berdosa jika meninggalkannya, tetapi sangat dianjurkan untuk melakukannya secara rutin.
Bahkan, dalam praktiknya, Rasulullah SAW dan para sahabat selalu menjaga kebersihan diri, termasuk dalam hal kuku.
Dalam kitab Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, Imam Nawawi menjelaskan bahwa menjaga kebersihan tubuh termasuk bagian dari sunnah yang ditekankan, karena berkaitan dengan kesiapan seorang Muslim dalam menjalankan ibadah.
Salah satu hal penting yang sering luput dari perhatian adalah batas waktu membiarkan kuku tidak dipotong.
Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW menetapkan batas maksimal 40 hari untuk tidak memotong kuku, mencukur kumis, mencabut bulu ketiak, dan mencukur rambut kemaluan.
Batas ini bukan sekadar aturan teknis, melainkan bentuk disiplin dalam menjaga kebersihan diri.
Para ulama memahami bahwa melewati batas tersebut tanpa alasan yang jelas tidak dianjurkan, karena bertentangan dengan prinsip kebersihan dalam Islam.
Baca juga: Adab Islami yang Kian Terlupakan, Padahal Penentu Kualitas Iman
Menariknya, meskipun tidak ada hadis sahih yang secara tegas mengatur urutan memotong kuku, para ulama memberikan panduan sebagai bentuk adab.
Dalam kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, disebutkan penjelasan dari Imam Nawawi mengenai urutan yang dianjurkan:
Meskipun tidak bersifat wajib, urutan ini mencerminkan keteraturan dan kehati-hatian dalam menjaga kebersihan diri.
Dalam perspektif fikih, adab seperti ini menjadi bagian dari ihsan, yaitu melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya, bahkan dalam hal kecil sekalipun.
Selain cara, Islam juga mengajarkan sejumlah adab yang membuat aktivitas sederhana ini bernilai ibadah:
Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa adab dalam kehidupan sehari-hari mencerminkan kualitas spiritual seseorang.
Hal-hal kecil seperti ini, jika dilakukan dengan kesadaran, dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah.
Baca juga: Bolehkah Shalat Sunnah Saat Khutbah Jumat Berlangsung? Ini Penjelasan dan Hukumnya
Secara umum, Islam tidak menetapkan hari tertentu yang wajib untuk memotong kuku. Namun, dalam tradisi ulama, terdapat anjuran waktu yang dianggap lebih utama.
Sebagian ulama dari mazhab Syafi’i menyebutkan bahwa hari Jumat adalah waktu terbaik, terutama bagi laki-laki, karena berkaitan dengan persiapan menghadiri shalat Jumat.
Dalam buku Al-Adzkar karya Imam Nawawi, disebutkan bahwa membersihkan diri pada hari Jumat, termasuk memotong kuku, merupakan bagian dari sunnah yang dianjurkan.
Selain Jumat, hari Senin dan Kamis juga dianggap baik karena keduanya merupakan hari diangkatnya amal manusia.
Namun, penting dipahami bahwa ini bersifat anjuran, bukan kewajiban. Yang terpenting adalah menjaga konsistensi dalam merawat kebersihan.
Di balik anjuran sederhana ini, terdapat sejumlah hikmah yang sering kali tidak disadari:
Kuku yang pendek dan bersih mencegah penumpukan kotoran dan bakteri.
Kebersihan tubuh menjadi syarat sah beberapa ibadah, seperti wudhu dan shalat.
Memotong kuku secara rutin mencerminkan kedisiplinan dalam menjaga diri.
Mengikuti kebiasaan Rasulullah SAW, meski dalam hal kecil, merupakan bentuk kecintaan kepada beliau.
Bagi sebagian orang, memotong kuku hanyalah rutinitas mingguan. Namun dalam Islam, setiap aktivitas memiliki dimensi makna yang lebih dalam.
Memotong kuku bukan sekadar menjaga penampilan, tetapi juga bentuk ketaatan terhadap ajaran yang menekankan kebersihan sebagai bagian dari iman.
Dengan niat yang benar dan mengikuti adab yang dianjurkan, aktivitas sederhana ini dapat bernilai ibadah.
Memotong kuku dalam Islam adalah sunnah muakkadah yang memiliki dasar kuat dalam hadis dan praktik para ulama.
Tidak ada aturan baku terkait urutan dan waktu, tetapi terdapat anjuran yang bertujuan menyempurnakan kebersihan dan ibadah.
Dengan memahami cara, waktu, dan adabnya, seorang Muslim tidak hanya menjaga kebersihan fisik, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Dan mungkin, dari hal sederhana seperti memotong kuku, kita belajar bahwa dalam Islam, kesempurnaan ibadah justru dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan kesadaran dan keikhlasan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang