KOMPAS.com – Idul Adha selalu datang membawa dua wajah sekaligus, suasana haru pengorbanan dan momentum spiritual yang mengajak umat Islam meneguhkan kembali makna ketaatan.
Namun menjelang hari besar ini, satu pertanyaan sederhana kerap muncul dan ramai dicari, kapan tepatnya Idul Adha 2026 jatuh, dan berapa hari lagi?
Jawaban atas pertanyaan itu tidak hanya penting bagi keperluan ibadah, tetapi juga berkaitan dengan perencanaan perjalanan, kurban, hingga jadwal libur nasional.
Berikut ulasan lengkap yang merangkum prediksi, hitung mundur, hingga kalender libur Idul Adha 2026 secara lebih mendalam.
Jika mengacu pada kalender Hijriah resmi pemerintah dan ketetapan organisasi Islam besar di Indonesia, Idul Adha 1447 H diperkirakan jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026.
Dari posisi hari ini, Jumat, 17 April 2026, maka waktu yang tersisa menuju Idul Adha adalah sekitar 40 hari lagi.
Rentang waktu ini biasanya menjadi fase penting bagi umat Islam untuk mulai mempersiapkan hewan kurban, memperdalam ibadah, hingga merencanakan mudik atau perjalanan keluarga.
Menariknya, tahun ini memiliki potensi besar untuk dirayakan secara serentak oleh berbagai pihak, sesuatu yang tidak selalu terjadi setiap tahun.
Baca juga: Idul Adha 2026 Diprediksi 27 Mei, Cek Libur dan Potensi Long Weekend
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menggunakan kombinasi metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal) dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Penetapan ini merujuk pada kriteria yang disepakati bersama negara-negara anggota MABIMS. Dalam kriteria tersebut, hilal dinyatakan mungkin terlihat jika memenuhi dua syarat utama:
Keputusan resmi nantinya akan diumumkan melalui sidang isbat yang biasanya digelar menjelang akhir bulan Zulkaidah.
Meski demikian, kalender Hijriah yang diterbitkan pemerintah sudah memberikan gambaran awal bahwa:
Sementara itu, Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan tanggal Idul Adha melalui metode hisab hakiki wujudul hilal.
Berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah:
Metode ini bersifat matematis-astronomis tanpa menunggu rukyat, sehingga hasilnya bisa diumumkan jauh hari sebelumnya. Dalam konteks tahun 2026, hasil hisab Muhammadiyah sejalan dengan kalender pemerintah.
Di sisi lain, Nahdlatul Ulama tetap menggunakan pendekatan rukyat yang dikombinasikan dengan hisab melalui kriteria Imkan Rukyah Nahdlatul Ulama (IRNU).
Artinya, meskipun secara perhitungan peluang keseragaman sangat besar, kepastian tetap menunggu hasil pengamatan hilal menjelang akhir bulan Zulkaidah. Tradisi ini menegaskan pentingnya dimensi empiris dalam penentuan kalender Islam.
Baca juga: Makna Idul Adha Menurut Al-Qur’an: Jejak Ketakwaan, Pengorbanan, dan Kepedulian Sosial
Jika melihat kesesuaian hasil hisab antara pemerintah dan Muhammadiyah, serta peluang terpenuhinya kriteria rukyat, maka Idul Adha 2026 berpotensi besar dirayakan secara bersamaan.
Keserentakan ini bukan hanya soal tanggal, tetapi juga memiliki dampak sosial yang luas: mulai dari pelaksanaan salat Id berjamaah, distribusi hewan kurban, hingga suasana kebersamaan umat yang lebih terasa.
Pemerintah telah menetapkan Idul Adha sebagai bagian dari hari libur nasional melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri. Rinciannya sebagai berikut:
Dengan tambahan cuti bersama ini, masyarakat memiliki kesempatan menikmati waktu istirahat lebih panjang, yang sering dimanfaatkan untuk silaturahmi, perjalanan, atau kegiatan sosial.
Baca juga: Idul Adha 2026 Berapa Hari Lagi? Ini Hitung Mundur dan Jadwal Lengkapnya
Dalam kajian Ilmu Fikih, Idul Adha tidak hanya dipahami sebagai ritual penyembelihan hewan kurban, tetapi sebagai simbol ketundukan total kepada kehendak Ilahi.
Seperti dijelaskan dalam buku Fiqh as-Sunnah karya Sayyid Sabiq, ibadah kurban merupakan manifestasi dari keikhlasan Nabi Ibrahim AS dalam menjalankan perintah Allah, yang kemudian menjadi syariat bagi umat Islam hingga hari ini.
Sementara itu, dalam karya Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, Imam Nawawi menegaskan bahwa kurban adalah ibadah sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan bagi mereka yang mampu, karena mengandung nilai sosial dan spiritual sekaligus.
Dengan waktu yang masih tersisa lebih dari satu bulan, momen ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai persiapan:
Idul Adha bukan sekadar tanggal dalam kalender, tetapi peristiwa spiritual yang selalu menghadirkan makna baru setiap tahunnya.
Dan dengan potensi keserentakan di 2026, suasana kebersamaan itu diperkirakan akan terasa lebih kuat dari biasanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang