KOMPAS.com – Menjelang Hari Raya Idul Adha, tidak sedikit umat Islam yang masih bertanya-tanya, benarkah sebelum menunaikan shalat Idul Adha dianjurkan untuk berpuasa?
Pertanyaan ini kerap muncul karena adanya kebiasaan menahan diri dari makan sebelum shalat Id, yang sekilas terlihat seperti praktik puasa.
Namun, apakah benar demikian menurut ajaran Islam? Jawabannya ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.
Berikut penjelasan lengkap berdasarkan hadis, pendapat ulama, serta kajian fikih klasik hingga kontemporer.
Dalam praktiknya, yang dianjurkan sebelum shalat Idul Adha bukanlah puasa dalam arti syar’i (menahan diri dari makan dan minum sejak fajar hingga maghrib), melainkan tidak makan terlebih dahulu sebelum shalat Id.
Hal ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal:
“Rasulullah SAW tidak makan pada hari Idul Adha hingga beliau pulang, lalu beliau makan dari hasil kurbannya.”
Hadis ini menjadi landasan utama bahwa menunda makan hingga setelah shalat Id adalah bagian dari sunnah, bukan kewajiban, dan jelas berbeda dari puasa.
Baca juga: Kapan Idul Adha 2026? Ini Prediksi, Hitung Mundur, dan Jadwal Liburnya
Penting untuk ditegaskan bahwa berpuasa pada hari raya, termasuk Idul Adha, hukumnya haram. Hal ini merupakan kesepakatan para ulama (ijma’).
Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hazm dalam kitab Al-Muhalla, bahwa tidak diperbolehkan berpuasa pada hari Id, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, dalam kondisi apa pun.
Dengan demikian, jika seseorang berniat berpuasa pada pagi hari Idul Adha, maka hal itu bertentangan dengan syariat.
Adapun “menahan makan” yang dianjurkan hanyalah sampai selesai shalat Id, bukan hingga seharian penuh.
Menurut ulama Hanbali dan Hanafi, anjuran tidak makan sebelum shalat Idul Adha berkaitan erat dengan ibadah kurban.
Dalam kitab Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah dijelaskan bahwa seseorang yang berkurban dianjurkan menunda makan agar dapat menyantap daging kurbannya sebagai makanan pertama di hari tersebut.
Namun jika tidak berkurban, maka tidak ada keharusan untuk menunda makan.
Berbeda dengan itu, ulama mazhab Syafi’i berpendapat bahwa anjuran tidak makan sebelum shalat Idul Adha berlaku umum, baik bagi yang berkurban maupun tidak.
Pendapat ini didasarkan pada praktik Nabi yang dijadikan teladan universal, bukan hanya untuk kelompok tertentu.
Dalam karya Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, Imam Nawawi menegaskan bahwa sunnah tersebut berkaitan dengan momentum ibadah Idul Adha itu sendiri, bukan semata-mata dengan kurban.
Baca juga: Idul Adha 2026 Diprediksi 27 Mei, Cek Libur dan Potensi Long Weekend
Jika ditelaah lebih dalam, anjuran ini menyimpan sejumlah hikmah yang sarat makna spiritual.
Dalam kitab Fiqh as-Sunnah, Sayyid Sabiq menjelaskan bahwa perbedaan praktik antara Idul Fitri dan Idul Adha memiliki tujuan syar’i:
Hal ini juga diperkuat dalam Al-Mughni karya Ibnu Qudamah, yang menyebutkan bahwa praktik tersebut mencerminkan kesiapan seorang hamba untuk menyambut ibadah kurban dengan penuh kesadaran dan penghormatan.
Dalam praktik di masyarakat, tidak makan sebelum shalat Idul Adha sering kali dipahami sebagai “puasa singkat”. Padahal secara fikih, keduanya memiliki perbedaan mendasar.
Puasa adalah ibadah dengan niat khusus dan batas waktu tertentu. Sementara menunda makan sebelum shalat Id hanyalah bentuk mengikuti sunnah Nabi, tanpa niat puasa dan tanpa batasan hingga maghrib.
Di sinilah pentingnya pemahaman yang tepat agar tidak terjadi kekeliruan dalam beribadah.
Selain anjuran tidak makan sebelum shalat, terdapat sejumlah amalan sunnah lain yang dianjurkan pada hari Idul Adha, di antaranya:
Amalan-amalan ini memperkuat suasana spiritual sekaligus sosial yang menjadi ciri khas hari raya dalam Islam.
Berdasarkan hadis dan pendapat ulama, dapat disimpulkan bahwa:
Dengan memahami hal ini secara utuh, umat Islam dapat menjalankan ibadah Idul Adha dengan lebih tepat, tidak hanya secara ritual, tetapi juga secara makna.
Dan di balik praktik sederhana seperti menunda makan, tersimpan pesan mendalam tentang ketaatan, kesabaran, serta kesiapan berbagi, nilai-nilai yang menjadi inti dari Idul Adha itu sendiri.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang