BANYUWANGI, KOMPAS.com - Di sebuah sudut sanggar seni Langgar Art, Banyuwangi, bait-bait puisi yang dilantunkan puluhan sastrawan dan aktivis mengalun membelah sunyi malam.
Mereka berkumpul bukan sekadar untuk berdeklamasi, melainkan membawa misi besar untuk menyuarakan solidaritas kemanusiaan melalui tajuk "Rubaiyat Hormuz".
Acara yang diinisiasi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Banyuwangi Kota tersebut menjadi ruang refleksi atas eskalasi konflik geopolitik yang tengah memanas di Timur Tengah, khususnya ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Ketua MWCNU Banyuwangi Kota, Barur Rohim, mengatakan bahwa kegiatan yang digelar pada Selasa (14/4/2026) tersebut berangkat dari keresahan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang kian tergerus akibat ambisi politik kekuasaan.
Baca juga: Dimulai dari Banyuwangi, NU Perkuat Kesejahteraan dan Gerakan di Akar Rumput
Menurutnya, penderitaan manusia di medan perang adalah duka bagi seluruh umat manusia.
"Kita sebagai rakyat Banyuwangi berdiri di atas nilai-nilai kemanusiaan. Bagaimana sebuah negara yang berdaulat diserang dengan alasan yang tak menentu," kata Barur.
Ia menambahkan bahwa pesan damai dan pembelaan terhadap hak hidup manusia tidak boleh terkotak-kotak oleh batas negara, aliran keagamaan, maupun kepentingan politik tertentu.
"Untuk mengekspresikannya bisa dengan berbagai bentuk. Salah satunya melalui kedalaman makna puisi dan sastra," tambahnya.
Solidaritas pun tidak hanya diikuti oleh warga nahdliyin, tetapi juga merangkul lintas komunitas.
Mulai dari Komite Bahasa dan Sastra Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Lentera Sastra, Hiski Banyuwangi, hingga Forum 28.
Baru menceritakan bahwa salah satu momen menyentuh muncul saat Muttafaqur Rohmah dari Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi membacakan puisi berjudul "Nadi Kecil".
Puisi ini memotret Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran, melainkan detak jantung dunia yang jika terganggu, maka goyah pula keseimbangan global.
"Hormuz memang bukan sekadar selat
Ia seperti nadi kecil di tubuh dunia yang besar
Tidak selalu terlihat
Tapi dipikirkan
Mungkin itulah yang membuatnya menakutkan," bunyi penggalan puisi tersebut.
Dampak nyata dari konflik yang jauh di mata namun dekat di perut juga disuarakan oleh Gus Fathan melalui puisi "Doa Petani Banyuwangi".
Dengan iringan musik akustik, Gus Fathan menggambarkan bagaimana gejolak di Timur Tengah berimbas langsung pada nasib petani lokal.
"Ketika selat yang jauh itu bergejolak, tanahku akhirnya ikut bergetar. Karena harga pupuk yang naik membubung tinggi," lantun Gus Fathan, mengingatkan bahwa dunia saat ini saling terhubung secara erat.
Baca juga: Pelantikan PCNU Banyuwangi 2026–2030 Digelar Mendadak, Dirangkai Haul Pendiri Pesantren
Diurai Barur, kegiatan Rubaiyat Hormuz menjadi bukti bahwa dari ujung timur Pulau Jawa, semangat Islam yang Rahmatan Lil Alamin terus berdenyut.
Melalui sastra, masyarakat diajak untuk tidak apatis terhadap isu global dan terus mengedepankan empati sebagai fondasi ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia).
Lantunan doa dan puisi di Langgar Art malam itu menjadi pengingat sederhana namun tajam: bahwa di balik setiap kebijakan perang dan strategi politik, ada nyawa dan martabat manusia yang harus tetap dijunjung tinggi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang