KOMPAS.com – Setiap datangnya Idul Fitri, umat Islam di berbagai daerah akan saling mengucapkan kalimat yang sudah sangat akrab di telinga “Mohon maaf lahir dan batin.”
Ungkapan ini biasanya disampaikan ketika bersalaman dengan keluarga, sahabat, atau rekan kerja sebagai simbol saling memaafkan setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan.
Bagi banyak orang, kalimat tersebut mungkin hanya dianggap sebagai tradisi tahunan. Namun, di balik ungkapan sederhana itu tersimpan makna yang lebih dalam tentang rekonsiliasi, introspeksi diri, serta upaya memperbaiki hubungan antarmanusia.
Tidak sedikit pula yang mengaitkan ucapan tersebut dengan kalimat Arab “Minal aidin wal faizin”. Meski sering digunakan bersamaan, keduanya memiliki latar budaya dan makna yang berbeda.
Baca juga: Hukum Penukaran Uang Baru Pinggir Jalan Jelang Lebaran, Bolehkah dalam Islam?
Dalam tradisi masyarakat Indonesia, Idul Fitri tidak hanya menjadi hari perayaan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga momentum untuk memperbaiki hubungan sosial.
Pada hari itu, keluarga yang lama terpisah berkumpul, sahabat saling berkunjung, dan masyarakat membuka ruang untuk memaafkan kesalahan masa lalu.
Ucapan “mohon maaf lahir dan batin” menjadi simbol dari semangat tersebut. Melalui kalimat ini, seseorang mengakui bahwa selama berinteraksi dengan orang lain mungkin ada kesalahan yang disengaja maupun tidak.
Menurut ulama tafsir Indonesia, Muhammad Quraish Shihab, makna Idul Fitri sendiri berkaitan dengan kembali kepada kesucian setelah manusia berusaha menahan diri selama Ramadan.
Dalam bukunya Membumikan Al-Qur’an, Quraish Shihab menjelaskan bahwa Idul Fitri merupakan momentum kembali kepada fitrah, yaitu kondisi manusia yang bersih dari dosa dan kesalahan.
Karena itu, tradisi meminta maaf menjadi bagian dari proses penyucian diri tersebut. Seseorang tidak hanya memperbaiki hubungannya dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama manusia.
Ungkapan “lahir dan batin” memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kata tambahan dalam ucapan permintaan maaf.
Secara sederhana, “lahir” merujuk pada kesalahan yang tampak secara nyata. Misalnya ucapan yang menyinggung, tindakan yang menyakiti orang lain, atau perilaku yang kurang pantas dalam hubungan sosial.
Sementara itu, “batin” merujuk pada kesalahan yang tidak terlihat secara langsung, seperti prasangka buruk, iri hati, atau niat yang kurang baik terhadap orang lain.
Dalam buku Ensiklopedia Islam karya tim penulis Ichtiar Baru Van Hoeve dijelaskan bahwa konsep pembersihan diri dalam Islam tidak hanya menyangkut perilaku lahiriah, tetapi juga kondisi batin manusia.
Islam menekankan pentingnya penyucian hati (tazkiyatun nafs) sebagai bagian dari kesempurnaan iman.
Karena itu, ketika seseorang mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin”, sebenarnya ia sedang mengakui kemungkinan kesalahan yang terlihat maupun yang tersembunyi di dalam hati.
Baca juga: 30 Ucapan Lebaran 2026 untuk Pacar yang Romantis dan Menyentuh Hati
Tradisi saling memaafkan pada Idul Fitri juga erat kaitannya dengan nilai silaturahmi, yaitu menjaga dan mempererat hubungan antarmanusia.
Dalam buku Fiqh Sunnah karya ulama Mesir Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa menjaga hubungan baik dengan sesama merupakan salah satu ajaran penting dalam Islam.
Hubungan sosial yang harmonis tidak hanya menciptakan kedamaian dalam masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari ibadah.
Karena itu, momen Idul Fitri sering dimanfaatkan untuk memperbaiki hubungan yang sempat renggang.
Tidak jarang seseorang memulai kembali komunikasi dengan kerabat yang lama tidak bertegur sapa.
Di Indonesia, tradisi ini juga terlihat dalam kegiatan halal bihalal, sebuah budaya khas yang berkembang setelah Idul Fitri.
Dalam acara tersebut, masyarakat berkumpul untuk bersilaturahmi sekaligus saling memaafkan.
Baca juga: Bingung Menulis Ucapan Lebaran? Ini Cara Membuat Kartu Idul Fitri Menarik dalam Hitungan Menit
Meski sudah menjadi kebiasaan setiap tahun, sebagian orang mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin” hanya sebagai formalitas.
Padahal, esensi dari kalimat tersebut seharusnya disertai dengan kesungguhan untuk memperbaiki diri.
Para ulama sering mengingatkan bahwa memaafkan dan meminta maaf adalah bagian dari akhlak mulia yang diajarkan dalam Islam.
Al-Qur’an sendiri mendorong umat Islam untuk saling memaafkan dan menahan amarah sebagai bentuk kedewasaan spiritual.
Dengan demikian, makna Idul Fitri tidak berhenti pada perayaan atau tradisi tahunan. Hari raya ini menjadi pengingat bahwa manusia selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, mempererat hubungan, dan membuka lembaran baru dengan hati yang lebih bersih.
Melalui ungkapan sederhana seperti “mohon maaf lahir dan batin”, umat Islam diajak untuk menyadari bahwa kemenangan setelah Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang keberhasilan membersihkan hati dan memperbaiki hubungan dengan sesama.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang