Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Taqabbalallahu atau Minal Aidin? Ini Ucapan Lebaran yang Sesuai Sunnah

Kompas.com, 11 Maret 2026, 16:37 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Setiap kali Hari Raya Idul Fitri tiba, umat Islam di berbagai negara saling menyampaikan ucapan selamat.

Di Indonesia, dua kalimat yang paling sering terdengar adalah “Taqabbalallahu minna wa minkum” dan “Minal aidin wal faidzin.”

Kedua ucapan tersebut bahkan hampir selalu muncul dalam kartu ucapan, pesan singkat, hingga percakapan ketika bersilaturahmi.

Namun tidak sedikit orang yang bertanya, sebenarnya ucapan mana yang lebih sesuai dengan sunnah Nabi?

Apakah kalimat “Taqabbalallahu minna wa minkum” atau “Minal aidin wal faidzin” yang memiliki dasar dalam tradisi Islam?

Untuk memahami jawabannya, penting melihat sejarah penggunaan kedua kalimat tersebut serta penjelasan para ulama.

Tradisi Mengucapkan Selamat Saat Idul Fitri

Memberi ucapan selamat ketika hari raya merupakan bagian dari tradisi sosial umat Islam sejak masa awal Islam.

Walau tidak disebut secara khusus sebagai ibadah tertentu, praktik ini dipandang sebagai bentuk doa dan ungkapan kegembiraan setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan.

Dalam literatur fikih klasik, para ulama menjelaskan bahwa saling memberi ucapan selamat pada hari raya termasuk kebiasaan yang diperbolehkan selama mengandung doa yang baik.

Ulama besar seperti Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa ucapan selamat saat hari raya merupakan tradisi yang diriwayatkan dari para sahabat Nabi. Karena itu, para ulama umumnya tidak melarang praktik tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa ucapan selamat saat Idul Fitri bukan sekadar tradisi budaya, tetapi juga memiliki akar dalam praktik umat Islam generasi awal.

Baca juga: Makna Mohon Maaf Lahir dan Batin saat Idul Fitri yang Jarang Dipahami

Ucapan yang Diriwayatkan dari Sahabat

Kalimat “Taqabbalallahu minna wa minkum” secara harfiah berarti “Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian.”

Ungkapan ini sering digunakan sebagai doa agar ibadah yang dilakukan selama Ramadan diterima oleh Allah.

Dalam beberapa riwayat, ucapan ini disebutkan telah digunakan oleh para sahabat Nabi ketika bertemu pada hari raya.

Riwayat dari sahabat menyebutkan:

“Para sahabat Rasulullah SAW apabila bertemu pada hari raya, mereka saling mengatakan: Taqabbalallahu minna wa minkum.”

Riwayat ini dinukil oleh para ulama hadis dan dinilai memiliki sanad yang baik oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fath al-Bari.

Penjelasan ini juga disebutkan dalam kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah yang mengutip pendapat ulama mazhab Hanbali tentang kebolehan ucapan tersebut.

Dalam buku Shalat-shalat Tathawwu’ Himpunan Shalat-shalat Sunnah karya David Muhammad dijelaskan bahwa ucapan ini telah digunakan oleh generasi salaf sebagai doa ketika Idul Fitri maupun Idul Adha.

Karena memiliki dasar dari praktik para sahabat, banyak ulama memandang kalimat ini sebagai ucapan yang paling mendekati sunnah.

Sikap Para Ulama tentang Ucapan Hari Raya

Beberapa ulama besar juga memberikan penjelasan mengenai tradisi mengucapkan selamat saat hari raya.

Menurut Ahmad bin Hanbal, tidak ada masalah jika seseorang mengucapkan “Taqabbalallahu minna wa minkum” kepada orang lain saat hari raya.

Namun beliau juga menyebutkan bahwa dirinya tidak selalu memulai ucapan tersebut terlebih dahulu. Jika ada orang yang mengucapkannya, beliau akan membalas dengan ucapan serupa.

Pendapat ini menunjukkan bahwa ucapan tersebut diperbolehkan, meskipun tidak termasuk ibadah yang diwajibkan.

Pandangan serupa juga dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa. Ia menegaskan bahwa ucapan selamat pada hari raya telah diriwayatkan dari para sahabat sehingga tidak perlu dipermasalahkan selama maknanya baik.

Baca juga: 30 Ucapan Lebaran 2026 untuk Pacar yang Romantis dan Menyentuh Hati

Makna Ucapan “Minal Aidin wal Faidzin”

Selain “Taqabbalallahu minna wa minkum”, masyarakat Indonesia juga sangat akrab dengan kalimat “Minal aidin wal faidzin.”

Secara umum, kalimat ini sering dipahami sebagai doa yang berarti “Semoga kita kembali (kepada kesucian) dan menjadi orang yang meraih kemenangan.”

Namun sebagian ulama menjelaskan bahwa kalimat tersebut sebenarnya tidak berasal dari hadis Nabi ataupun riwayat sahabat.

Ungkapan ini lebih banyak berkembang sebagai tradisi di beberapa wilayah Muslim, termasuk di Asia Tenggara.

Dalam buku Fiqh al-Mu’amalat al-Haditsah karya Wahbah az-Zuhaili dijelaskan bahwa berbagai bentuk ucapan selamat pada hari raya diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan nilai Islam.

Dengan kata lain, walaupun kalimat “Minal aidin wal faidzin” tidak secara langsung berasal dari sunnah, penggunaannya tetap diperbolehkan karena mengandung makna doa yang baik.

Ucapan Selamat Idul Fitri Lain yang Dikenal dalam Islam

Selain dua kalimat tersebut, ada beberapa ucapan lain yang juga dikenal dalam tradisi umat Islam di berbagai negara.

Beberapa di antaranya adalah:

1. “Eid Mubarak”

Ucapan ini sangat populer di dunia Islam dan berarti “Semoga hari raya ini membawa berkah.”

2. “Kullu ‘aamin wa antum bi khair”

Artinya: “Semoga setiap tahun kalian selalu berada dalam kebaikan.”

3. “Taqabbalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum”

Versi yang lebih panjang dari ucapan doa agar amal puasa diterima.

Ucapan-ucapan tersebut pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu mendoakan kebaikan dan kebahagiaan bagi sesama Muslim pada hari raya.

Baca juga: Bingung Menulis Ucapan Lebaran? Ini Cara Membuat Kartu Idul Fitri Menarik dalam Hitungan Menit

Makna Spiritual di Balik Ucapan Lebaran

Di balik berbagai ucapan tersebut, terdapat makna spiritual yang sangat penting. Idul Fitri merupakan momentum kembali kepada kesucian setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa pada bulan Ramadan.

Hari raya ini juga menjadi waktu yang tepat untuk mempererat silaturahmi dan saling memaafkan.

Dalam perspektif Islam, menjaga hubungan baik dengan sesama merupakan bagian penting dari ajaran agama.

Oleh karena itu, ucapan selamat Idul Fitri bukan hanya tradisi sosial, tetapi juga bentuk doa dan ungkapan kebersamaan.

Momentum Idul Fitri menjadi pengingat bahwa kemenangan sejati bukan hanya setelah menahan lapar dan dahaga, tetapi juga ketika seseorang mampu memperbaiki hubungan dengan orang lain.

Jadi, Mana yang Lebih Sesuai Sunnah?

Berdasarkan penjelasan para ulama, kalimat “Taqabbalallahu minna wa minkum” memiliki dasar yang lebih kuat karena diriwayatkan dari praktik para sahabat Nabi.

Sementara itu, kalimat “Minal aidin wal faidzin” merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Muslim dan tetap diperbolehkan selama maknanya baik.

Dengan demikian, umat Islam sebenarnya bebas menggunakan berbagai ucapan selamat selama mengandung doa dan kebaikan.

Pada akhirnya, yang terpenting dari ucapan hari raya bukan hanya kata-katanya, tetapi niat untuk saling mendoakan, mempererat silaturahmi, dan merayakan kebahagiaan bersama keluarga serta orang-orang terdekat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com